Menempuh Jalan Panjang Konservasi

Di sepanjang perjalanan dari Kecamatam Sinjai Barat menuju Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, pohon pinus terhampar sejauh mata memandang. Termasuk di salah satu desa bernama Desa Kompang, Kecamatan Sinjai Tengah. Konon pinus ini memang sengaja ditanam pada tahun 1980 melalui program konservasi pemerintah bertajuk Sejuta Pinus. Pada lahan seluas 460 Ha, puluhan ribu bibit pinus ditanam di desa yang merupakan wilayah perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan di atas 40 derajat ini.

Desa Kompang, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Sumber: regional.kompas.com

Menanam pinus untuk program konservasi memang sangat dimungkinkan. Mengingat secara teknis pinus adalah salah satu tanaman yang mudah ditanam dan tidak membutuhkan banyak perawatan. Ia mampu tumbuh dengan baik di tanah yang kurang subur, berpasir, hingga berbatu sekali pun. Tak butuh waktu yang lama pula untuk pinus bisa tumbuh besar.

Desa kompang. Sumber: desakompang.blogspot.com

Tatkala pinus-pinus mulai tumbuh besar, sebuah keanehan mulai terjadi. Sumber air warga Desa Kompang yang berasal dari mata air satu per satu menghilang. Debit air anak Sungai Saotanre yang terdapat di desa ini pun semakin berkurang. “Waktu kecil saya sering melihat kepiting di sungai. Tapi sekarang, sejak pinus ada sudah tidak pernah lagi.” Kenang Pak Hasyir, salah satu warga Desa Kompang. Desa sebelah, yakni Desa Gantarang khususnya di Dusun Bontolaisa, bahkan tak lagi memiliki sumber air. Warga terpaksa membuat saluran air dari desa sebelahnya dan membuat penampungan umum untuk memenuhi kebutuhan air.

Benarkah pinus yang menjadi penyebabnya?

Warga Desa Kompang sebenarnya telah sejak dulu menguasai lahan di desa mereka sebagai sumber penghidupan. Namun secara legal formal, dengan proses penunjukkan kawasan hutan, maka warga di sekitarnya tidak bisa mengakses wilayah tersebut. Padahal sebelumnya warga mengelolanya untuk menjadi sumber mata pencaharian dengan potensi sumber daya alam yang sangat kaya.

Pinus sendiri yang dipilih sebagai tanaman konservasi pada faktanya memiliki banyak kelebihan, sekaligus kekurangan. Meski tanaman pinus bisa tumbuh dengan mudah dan cepat, juga menghasilkan hawa sejuk dan nyaman, namun ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk menjadikannya sebagai tanaman konservasi.

Hutan Pinus. Sumber: fotolepas.id

Pinus adalah tanaman berdaun jarum yang memiliki banyak stomata, sehingga banyak menyerap dan menguapkan air. Selain itu, daun pinus yang jatuh ke tanah akan sulit terlapuk dan menyebabkan air hujan sulit masuk ke dalam tanah. Banyaknya air yang diserap dan diuapkan oleh pinus, ditambah sedikitnya air yang meresap ke tanah ini membuat cadangan air dalam tanah menipis.

Pinus-pinus di Desa Kompang pun sempat menarik perhatian perusahaan swasta. Masyarakat lalu dibujuk agar mau menjadi penyadap getah pinus. Getah pinus dapat digunakan sebagai bahan baku untuk tinner, pengencer cat. Pihak perusahaan menawarkan Rp 1.500 per kilo. Siapa yang tertarik silakan membentuk kelompok. Pak Asikin, salah seorang ketua kelompok tani tampil sebagai pengelola empat kelompok yang dibentuknya. Jumlah orang perkelompoknya 25 orang akan melakukan penyadapan setiap hari. Jika sudah terkumpul maka orang suruhan perusahaan akan datang menjemput berdrum-drum getah pinus lalu di ekspor ke Jepang.
 Bagi orang desa, pekerjaan ini relatif sulit. Dengan harga Rp 1.500 per kilo rasanya tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Akhirnya, satu persatu kelompok menyerah.

Kini, sudah ratusan bahkan ribuan pohon pinus di Desa Kompang disadap. Dari setiap pohon bisa ada puluhan sayatan bekas penyadapan. Sebenarnya pohon pinus itu ditakutakn akan tumbang satu per satu akibat sayatan yang terlalu dalam.
“Bila pinus mati mungkin jauh lebih baik. Pohon bergetah ini rakus air. Akarnya menghunjam tanah hingga gembur. Tak cukup kokoh menahan erosi.” Ungkap Asikin, ketua salah satu kelompok tani sekligus salah satu tokoh masyarakat di Desa Kompang.

Puncaknya pada tahun 2006, ketika banjir bandang dan tanah longsor melanda sebagian daerah Kabupaten Sinjai. Di Desa Kompang, dua belas orang meninggal. Ratusan orang mengungsi dan puluhan rumah rusak parah.

Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Kabupaten Sinjai Tahun 2006. Sumber: Ditjen Cipta Karya

Disinyalir bencana yang terjadi itu pun lagi-lagi diakibatkan keberadaan hutan pinus yang amat luas. Pinus merupakan tanaman yang tumbuh besar dan bisa mencapai tinggi hingga 40 meter. Bobotnya yang berat membuat tanah mudah bergeser ketika hujan deras. Ditambah lagi ia ditanam di wilayah dengan kemiringan di atas 40 derajat seperti Desa Kompang. Apa boleh buat, bencana itu telah terjadi dan menyisakan duka serta trauma yang mendalam.

Kini sebelas tahun sudah berlalu sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor itu terjadi. Masyarakat Desa Kompang terus berbenah. Kini kehidupan sosial sudah berjalan normal.

Asikin tak bisa menyembunyikan perannya sekaligus penyesalannya sebagai salah satu tokoh masyarakat yang mendukung program sejuta pinus. Meski kini ia sadar itu tak benar, tapi itulah pengalaman hidupnya. Ia tak berhenti sekedar mengutuki perannya dalam program yang gagal menaksir dampaknya lebih jauh itu. Kini ia adalah tokoh desa yang berjuang untuk perbaikan lingkungan di desanya.

Pak Asikin Bersama warga Desa Foto oleh: Agung Prabowo.

Asikin pun fokus memberi motivasi bagi siswa-siswa SMP agar peduli terhadap lingkungannya. Bersama para siswa, guru, anggota kelompok tani dan masyarakat Kompang, Asikin menuju lahan kritis seluas 300 Ha. Mereka membawa sejumlah 300 bibit pohon mahoni yang siap ditanam.

Konservasi, secarah harfiah berarti perlindungan atau pelestarian terhadap lingkungan atau sumber daya alam. Merujuk dari pengertiannya, penanaman di lahan-lahan yang gundul atau mengalami kerusakan memang adalah langkah yang tepat. Namun, proses konservasi tentu tidak sampai di situ saja. Konservasi adalah sebuah proses panjang yang melibatkan banyak faktor termasuk kehidupan masyarakat di sekitarnya.

KAK ALYA

Peraturan tentang konservasi terdapat pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam pasal 27 ayat 1, UU no. 5 tahun 1990 dinyatakan bahwa “Peran serta rakyat dalam konservasi diarahkan dan digerakkan oleh pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna.” Kegiatan tersebut dijelaskan lebih lanjut dalam ayat (2) yang menyatakan bahwa “dalam mengembangkan peran serta rakyat tersebut, pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan.” Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi regulasi, masyarakat menjadi sebuah objek penting dalma pelaksanaan konservasi. Sayanganya, dari sisi pelaksanaannya masih sering terjadi ketidaksesuaian.

National Geographic mencatat konflik yang terjadi di sekitar kawasan konservasi sebanyak 40 persen. Akibat konflik ini terjadi pemiskinan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan konservasi, dimana hal ini tidak sesuai dengan tujuan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem itu sendiri yaitu mengusahakan terwujudnya sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehinga dapat lebih mendukung upaya kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam Undang-Undang tentang Konservasi di atas.

Berangkat dari akar segala pengaturan mengenai sumber daya alam yaitu Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, pasal 33 ayat 1 yang mengatakan bahwa “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Dengan demikian negara, dalam hal ini pemerintah, memiliki wewenang untuk menguasai dan mengatur tentang pengelolaan sumber daya alam yang ada. Pengelolaan tersebut tidak lain tujuannya adalah untuk kemakmuran rakyat.  Karena itu, setiap pengelolaan sumber daya alam termasuk hutan harus mempertimbangkan kemakmuran rakyat di dalamnya.

Desa Kompang adalah salah satu contoh dari pelaksanaan konservasi yang luput membaca dampak jangka panjannya dengan baik. Di luar sana, hutan konservasi yang terhampar luas pun bisa saja mengalami hal yang sama. Semoga kita bisa belajar dari kisah desa ini. Seperti halnya event Tari Saman 1001 yang akan dihelat pada 5 Agustus 2017 nanti di Banda Aceh. Mengusung tema Merawat Tradisi Melalui Konservasi semoga menjadi wadah bagi kita untuk merefleksi kembali pentingnya konservasi sebagai sumber kehidupan manusia. Juga untuk mempertimbangkan bagaimana kearifan tradisi masyarakat sendiri dalam menjaga sumber penghidupannya, salah satunya hutan.

Konservasi merupakan sebuah proses panjang memperbaiki dan menjaga sebuah rantai kehidupan. Karenanya, konservasi harus mempertimbangkan dampaknya bagi lingkungan, juga masyarakat yang ada di sekitarnya. Agar konservasi kembali kepada pengertian dan tujuannya yakni perlindungan dan pelestarian. Manusia dan alam adalah sebuah kolaborasi yang tak dapat dipisahkan, keduanya saling menjaga dan menghidupkan. Begitulah pelaksanaan konservasi menjadi suatu bagian yang sangat berpengaruh dan berperan penting bagi banyak kehidupan.

 

Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis blog Saman Pengawal Leuser 2017

image

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s