The Floating School; tentang Memberi

“Karena fasilitator menulisnya sedang berhalangan, jadi Kak Alya, Kak Moko, dan Kak Lebug nanti yang gantikan yah.” ucap Kak Nunu waktu itu saat kami dalam perjalanan. Ucapan yang tiba-tiba terasa seperti sebuah jebakan. Yah, tidak mungkin karena itu kami meminta diturunkan di jalan dan batal ikut. Padahal awalnya hanya ingin jalan-jalan dan berfoto ria.

Perjalanan di Minggu pagi itu diiringi matahari yang bersinar cerah. Saya bersama teman-teman dari The Floating School, sebuah program sekolah terapung yang digagas oleh beberapa anak muda di Makassar hendak berangkat ke Pulau Satando. Sebuah pulau kecil yang terletak di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Untuk menjangkaunya, kita harus menyeberang dengan perahu dari Pelabuhan Maccini Baji, Pangkep.

image

Dokumentasi The Floating School

Oh ya, The Floating School ini merupakan kapal semi tradisional yang berlayar dengan membawa buku-buku, alat tulis, materi belajar dan fasilitator untuk anak-anak di kepulauan yang terbatas akan akses pendidikan. Setiap minggu kapal ini berangkat ke pulau membawa kakak-kakak fasilitator untuk mengisi kelas bagi anak-anak di sana. Sungguh mulia yah. 😊

Tiba di pulau, anak-anak sudah menunggu. Dengan cepat mereka membagi diri sesuai kelas yang mereka pilih masing-masing. Ada yang memilih kelas musik, menari, prakarya, fotografi, menggambar, komputer, juga kelas menulis. Sejumlah lima orang anak menjadi peserta di kelas menulis waktu itu. Karena tulisan mereka minggu lalu dibawa oleh fasilitator sebelumnya, maka kami pun meminta kelima peserta untuk membuat tulisan singkat dengan tema apa saja yang mereka sukai. Namanya juga kelas menulis, harus ada tulisan untuk bisa dibahas bersama-sama kan.

image

Kelas Menulis The Floating School

Saya pun memilih berkeliling pulau sembari menunggu anak-anak menyelesaikan tulisannya. Benar saja, pulaunya tidak begitu luas. Kita bisa mengelilinginya dengan berjalan kaki sekira 20 menit.
Berkeliling pulau, saya menemukan seorang bapak yang tengah menjahit jalanya. “Robek ya pak?” Saya membuka pembicaraan. “Iya, tadi waktu mau ambil ikan jalanya robek jadi batal pergi.” Jawab bapak itu.

Dari beliau saya tau bahwa perolehan ikan di sekitar Pulau Satando tidaklah banyak. Melaut dalam sehari semalam hanya bisa memperoleh kurang lebih Rp 300.000. Itu pun belum dikurangi dengan biaya bahan bakar dan biaya-biaya lainnya. Tak berapa lama saya pun pamit melanjutkan perjalanan. Tak ingin mengganggu bapak yang sedang sibuk menjahit jala untuk digunakan nanti malam.

Di tengah perjalanan, seorang nenek tampak sedang merapikan ikan yang sedang ia jemur. Ikannya ditata di atas terpal. Awalnya saya mengira ia adalah pengumpul. Jumlahnya banyak, terpalnya kira-kira selebar setengah lapangan bulu tangkis.

“Ikanta’ semua ini?” Tanya saya. “Iye. Tapi ini busuk, mau dijadikan umpan saja. Yang mau dimakan yang itu.” Jawabnya sembari menunjuk bagian berukuran setengah meter berisi ikan yang dikeringkan dan sedikit cumi-cumi.

image

Ikan Hasil Tangkapan Anak Daeng Ta’le

“Ini punya anak saya, mau dibawa ke Kota Pangkep untuk dikasih ke istri sama anaknya. Untuk dimakan.” katanya sembari menunjuk ke bagian ikan yang sama. Ia menyampaikan kalau ikan dan cumi-cumi tersebut adalah hasil melaut dari anaknya selama dua hari. Hasil melaut memang sangat kurang belakangan ini, sama seperti yang dikatakan oleh bapak yang memperbaiki jala tadi.

Sebelumnya saya sempat menawari mau membeli cumi-cumi miliknya sebab mengira ia adalah pengumpul. “Ini tidak dijual nak, tapi tunggu saya tanya anakku. Supaya tidak usah dibeli. Ambil saja!” Mendengarnya saya langsung terkejut. “Tunggu saya tanya anakku nah!” Ucapnya sambil mulai beranjak dari tempatnya duduk. Seketika itu saya langsung menahannya. “Tidak usah Bu, lain kali saja.” Ucap saya berusaha mengurungkan niatnya.

Berkali-kali ia mengatakan tidak apa-apa. Sebanyak itu pula saya menahannya. “Nanti lain kali Bu, biar saya punya alasan ke sini lagi.” Kalimat terkahir saya sebelum berniat benar-benar pergi. “Kalau nanti ke sini lagi jangan sampai tidak datang ke saya nah!” Ucapnya. Saya pun berlalu.

Padahal masih banyak yang ingin saya tanyakan tapi cumi-cumi tawarannya tidak mungkin bisa saya tolak kecuali segera pergi.
Bagaimana mungkin saya tega mengambil cumi-cumi yang meski jumlahnya tak seberapa itu, namun merupakan hasil melaut selama dua hari dari seorang suami untuk diberikan pada istri dan anaknya.

Dari Daeng Ta’le, saya memilih kembali ke dermaga tempat saya meninggalkan anak-anak yang sedang menulis. Ternyata mereka telah menyelesaikan tulisannya. Satu per satu mereka membacakan tulisannya. Setelah mendengarnya, saya merasa jengkel. Bagaimana mereka bisa menulis sebagus itu di usia yang rata-rata baru empat belas tahun. Saya jadi ingat di usia segitu, saya hanya bisa menulis tugas sekolah saja. anak-anak ini benar-benar kurang ajar. Hehe…

image

Peserta Kelas Menulis The Floating School

Masing-masing mereka punya gaya menulisnya sendiri-sendiri. Ada yang suka menulis fiksi horor, suka menulis cerita sejarah, juga ada Yusril, satu-satunya peserta laki-laki dan punya tulisan yang sangat kritis. Ia penggemar Soekarno, ia melahap buku-buku bacaan tentang soekrano setiap hari. Semua bukunya adalah pemberian dari Bapaknya yang sangat mendukung Yusril melakukan apa saja selama itu berkaitan dengan pendidikan.

Ada pula Nurwani, gadis kecil dengan kisah hidup yang luar biasa. Sejak bayi Ibunya telah meninggal. Ayahnya kemudian menikah lagi. Kini ia tinggal bersama neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Membaca kisah hidupnya yang ia tulisa hari itu membuat saya sempat menitihkan air mata.

Begitulah perjalanan akan membawa kita menemukan banyak kisah. Kata seorang bijak, “Jika kau hanya melakukan apa yang biasa kau lakukan maka kau hanya akan mendapatkan apa yang biasa kau dapatkan.” Jadi lakukanlah banyak hal yang baru. Agar semakin banyak pula yang bisa kau dapatkan.

image

Yusril, Salah Satu Peserta Kelas Menulis.

Hari itu, Daeng Ta’le, Yusril, Nurwani, semua teman-teman The Floating School, mereka memberi saya pelajaran besar. Hidup ini bukan hanya tentang seberapa banyak yang kau ambil, melainkan juga seberapa banyak yang bisa kau beri. Memang ada banyak guru dalam hidup ini. Siapa saja. Jika kita mau membuka mata dan melihat lebih dalam.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s