Pantau Gambut; Belajar dari Kesalahan

Berbicara tentang lahan gambut rasanya cukup asing bagi saya. Di Sulawesi Selatan, tempat saya lahir dan tumbuh besar, praktis saya sama sekali tak pernah bersentuhan dengan lahan gambut. Saya hanya ingat pada tahun 2015, dari tempat tinggal saya di Makassar, Sulawesi-Selatan, kabar tentang kebakaran lahan yang melanda beberapa daerah begitu ramai diberitakan. Pada saat bersamaan, aksi penggalangan dana untuk membantu korban bencana asap akibat kebakaran lahan pun dilakukan di berbagai tempat, termasuk di Makassar.

Waktu itu, bertajuk Solidaritas Makassar untuk Riau, kolaborasi dari berbagai komunitas di Makassar mengadakan penggalangan dana. Posko-posko “Masker untuk Riau” dibuka di beberapa titik untuk mengumpulkan donasi. Hasilnya kemudian disumbangkan kepada korban bencana asap akibat kebakaran lahan di Riau. Sebuah upaya yang dilakukan dari tempat yang jauh. Bahkan sebagian mungkin tak pernah bersentuhan dengan gambut, sebagaimana saya ketika itu.

Aksi Solidaritas Makassar untuk Riau. Sumber: lelakibugis.net

Saya pun mulai mencari informasi. Data dari website pantaugambut.id menyebutkan bahwa luas area yang terbakar tahun 2015 itu sejumlah 52% terdiri atas lahan gambut.  Kebakaran tersebut menimbulkan kabut asap yang sangat parah. Akibatnya selama berminggu-minggu kegiatan ekonomi di beberapa daerah pun nyaris terhenti. Bukan hanya itu, akses pendidikan dan transportasi ikut terganggu, keanekaragaman hayati punah, emisi gas rumah kaca meningkat. Satu hal yang paling menyedihkan adalah kabar bahwa sejumlah 120 ribu orang terkena penyakit pernapasan akibat menghirup asap yang ditimbulkan dari kebakaran lahan tersebut. Sungguh karena alasan inilah aksi penggalangan dana kami lakukan di Makassar, bersamaan dengan kebakaran lahan yang terjadi.

Infografis tentang Data dan Fakta Kebakaran Hutan 2015

Mencari tahu tentang gambut, saya akhirnya menemukan bahwa sesungguhnya jumlah lahan gambut hanya 3% dari total daratan yang ada di seluruh dunia. Namun dari jumlah tersebut ternyata lahan gambut mampu menyerap  hingga 75% karbon di atmosfer. Indonesia sendiri merupakan rumah bagi gambut tropis dengan predikat terluas di dunia. Luasnya mencapai kurang lebih 14,9 Ha. Lahan gambut di Indonesia terutama terdapat di daerah Sumatera, Kalimantan dan Papua. Jenis gambut tropis yang terdapat di Indonesia inilah yang paling kaya akan simpanan karbon.

Lahan Gambut. Sumber: infonawacita

Karena teksturnya yang terlihat lembek dan basah, awalnya saya sendiri mengira bahwa lahan gambut tidak bisa dimanfaatkan. Apalagi mengetahui bahwa lahan gambut tersusun atas bahan-bahan organik. Seperti sisa tumbuhan yang terhambat proses pembusukannya kemudian tertimbun di tanah selama ratusan tahun. Ternyata anggapan saya salah, ada berbagai manfaat dari lahan gambut seperti untuk pertanian maupun perkebunan. Selain untuk ditanami, lahan gambut juga bisa berfungsi sebagai bahan bakar. Hal ini terutama bagi gambut di Indonesia yang kandungann abunya rendah sehingga tidak mengotori lingkungan. Pupuk yang berasal dari gambut pun juga sangat bagus untuk dijadikan komoditi ekspor. Satu hal yang tak kalah pentingnya, keberadaan lahan gambut bisa membantu mengurangi emisi gas rumah kaca karena sifatnya yang mampu menyerap karbon dalam jumlah besar.

Tentu bukan hanya saya yang berpikiran kalau lahan gambut itu tidak bermanfaat. Banyak orang lain sekira di luar sana yang berpikiran serupa. Munculnya anggapan bahwa lahan gambut merupakan lahan yang tidak berguna seringkali berujung pada pengalihfungsian lahan. Tak jarang pengalihfungsian lahan itu dilakukan dengan cara dibakar.

Dalam pemanfaatannya pun daerah lahan gambut dibuatkan saluran atau kanal untuk keperluan drainase, irigasi ataupun untuk transportasi. Hal ini mengakibatkan, lahan gambut menjadi semakin kering karena kandungan air yang ada mengalir melalui kanal. Padahal keringnya lahan gambut tropis mampu mengeluarkan rata-rata 55 metrik ton CO2 setiap tahun atau kurang lebih setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin.

Kebakaran Lahan Gambut di Riau. Sumber: liputan6.com

Lahan gambut yang telah terdegradasi akan rentan terhadap panas dan mudah menimbulkan kebakaran. Sebagaimana kebakaran hutan yang terjadi pada 2015. Kebakaran lahan yang kabarnya menimbulkan kerugian mencapai 220 triliun rupiah. Jumlah yang harusnya bisa digunakan membiayai sektor lain seperti pendidikan atau kesehatan. Para ilmuwan NASA (National Aeronautics and Space Administration) bahkan mencatat kabut asap akibat kebakaran lahan di Indonesia pada 2015 termasuk yang paling parah dalam sejarah. Sebelumnya tahun 1997 terjadi kebakaran lahan yang melanda Indonesia dengan luas kurang lebih 750.000 Ha.

Pembuatan Sekat Kanal di Lahan Gambut. Sumber: skyscrapercity

Terdapat beberapa hal yang menjadi titik fokus kegiatan BRG, yaitu pembangunan dan peningkatan kapasitas teknis infrastruktur pembasahan gambut. Salah satu metodenya dengan membuat sekat atau menimbun kanal yang ada. Hal ini sebagai upaya untuk tetap menjaga kadar air dalam lahan gambut. Jika intensitas air dalam lahan gambut normal dan terjaga, maka bisa mencegah terjadinya kebakaran lahan.

Kegiatan lainnya dari BRG adalah peningkatan kapasitas dan penyusunan rencana teknis revegetasi. Revegetasi ini dilakukan dengan pembibitan, penyemaian dan terakhir penanaman. Revegetasi ini dilakukan setelah memastikan kondisi air pada lahan gambut mulai normal. Hal ini untuk menjamin kesuksesan proses revegetasi.

Selain memperbaiki lahan gambut sendiri, dilakukan pula pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal yang hidup di sekitar lahan gambut. Hal ini penting untuk memberi pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya lahan gambut. Sebagai orang yang hidup di sekitar lahan gambut, maka keberlangsungan lahan gambut ke depannya sedikit banyak akan dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesejahteraan mereka.

Infografis tentang Restorasi Gambut

Dalam melaksanakan pekerjaannya, tentu BRG tak bisa bekerja sendiri. Apalagi dengan target hingga 2020, BRG bisa merestorari dua juta hektar lahan gambut di tujuh provinsi. Maka dari itu BRG membuka kesempatan yang luas bagi siapa saja untuk ikut berpertisipasi dalam upaya merestorasi gambut. Upaya tersebut tidak hanya bergabung langsung di lapangan untuk mengerjakan proses restorasi. Namun bisa pula dengan terus menjalankan fungsi pengawasan alias pangtau gambut pada pelaksanaan restorasi gambut.

Saya dan berbagai komunitas yang tergabung dalam aksi Solidaritas Makassar untuk Riau pada tahun 2015 lalu memang berada jauh dari tempat berhektar-hektar lahan gambut itu berada. Namun bencana kebakaran lahan pada 2015 lalu menyisakan duka bagi kita semua. Saya membayangkan, jika saja pengetahuan akan pentingnya lahan gambut dan penyelamatan gambut dilakukan sejak jauh hari, tentu aksi penggalangan dana ketika itu tak perlu dilakukan. Tak akan ada pengumpulan masker untuk membantu korban bencana asap. Bahkan tak perlu ada badan khusus untuk melakukan restorasi gambut. Kini mari berbuat, sebagai wujud belajar dari kesalahan. Agar tak ada lagi aksi penggalangan dana untuk korban kebakaran lahan gambut. Semoga!

Tulisan ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis #PantauGambut

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

9 Responses to Pantau Gambut; Belajar dari Kesalahan

  1. Daeng Ipul says:

    Kebakaran tahun 2015 itu memang parah. Bayangkan ada teman yang sampai mengungsi ke Jogja saking tidak tahannya asap kodong

    Mudah-mudahan yang seperti itu tidak terjadi lagi

    Like

  2. Risma wahyuni says:

    Mencegah kebakaran lahan,
    Selain ketegasan negara, juga perlu partisipasi kuat warga

    Tulisan yg mencerahkan mbak

    Like

  3. Muhammad Khaidir says:

    Tulisan ini sangat tajam dan apik mengulas tentang penyelamatan lahan gambut. Tulisan ini mengajak kita untuk kembali merefleks tentang bagaimana kita melestarikan alam. Diskursus yang menarik dan mengingatkan kita pada apa yan pernah dikatakan tentang marlio ponte tentang Relasi manusia dengan alam, bahwa manusia mesti membangun kepekaan dengan alamnya, karena alam pun ternyata merasakan tentang apa yang di lakukan manusia dengannya.
    SAVE ALAM KITA
    SAVE NKRI

    Like

    • Alya says:

      Relasi manusia dan alam… menarik untuk dikaji lebih jauh.
      terima kasih. 🙂

      Like

      • Muhammad Khaidir says:

        Cari bukunya marlio ponti dek , menjelaskan tentang filsafat antroposentrisme. Lebih jauh menjelaskan tentang membangun hubungan kepekaan terhadap alam, Dan lebih menarik jika di hubungkan dengan beberapa literatur nya martin haideger, dan Fichof cahfra, tentang The hidden konection. Akan menjadi lebih menarik karena ada hubungan yang simetris dari situ. Sehingga ada perspektif naskah filosofis tentang alam. Karena selama ini kita memahami alam dengan gejala dan fakta dan realitasnya. Kurang kita memahami dan menerjemahkan alam lebih jauh dalam perspektif filosofis.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s