Tata Kelola Air; Kebutuhan Siapa?

Segala yang tersedia di bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia, tapi tidak akan pernah cukup memenuhi kebutuhan satu orang yang rakus.

 

Pagi-pagi sekali, saat matahari belum terbit betul, penduduk telah berkumpul di sebuah penampungan air. Letak penampungan tersebut di tengah kebun yang berjarak sekira 1,5 km dari pemukiman warga. Melewati jalan yang berbukit menuju penampungan, tampak para pemudi dan ibu-ibu menenteng ember berisi pakaian kotor. Sedang pemuda dan bapak-bapak membawa jeriken kosong untuk diisi air kemudian di bawa pulang. Menyempurnakan semaraknya pagi itu, anak-anak pun meramaikan penampungan sembari membawa alat mandi, tak mau terlambat ke sekolah. “Kalau tidak cepat, bisa kehabisan air.” Ungkap salah seorang warga itu.

Warga Dusun Bontolaisa Hendak Mengambil Air

Demikianlah pemandangan pagi di Dusun Bontolaisa, Desa Gantarang, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Setidaknya selama sepuluh tahun terakhir, setiap musim kemarau tiba, air akan berhenti mengalir ke rumah warga. Jika hal itu terjadi, hanya sebuah penampungan air hasil swadaya masyarakat setempat itulah yang bisa diandalkan. Sebuah penampungan berukuran sekira 2×3 meter dengan rangka bambu yang dilapisi terpal. Sumber airnya berasal dari Sungai Saotanre yang berjarak sekira 5 km. Untuk menuju sungai kita harus melewati jalan menurun yang sangat terjal. Air tersebut dialirkan menggunakan selang dengan debit yang rendah. Dalam satu jam, air yang berhasil dialirkan tidak lebih dari 12 liter. Kondisi ini sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan 201 warga yang bergantung pada air di penampungan tersebut.

Penampungan di Dusun Bontolaisa

Minimnya jumlah air yang tersedia itulah yang membuat warga berbondong-bondong untuk mengambil air di pagi hari. Terlambat sedikit, berarti harus menunggu berjam-jam sampai memperoleh cukup air. Itu jika aliran air sedang lancar. Jika tidak, berarti tak ada air untuk hari ini dan harus menunggu sampai besok pagi. Warga yang punya cukup uang bisa membeli air dari desa sebelah menggunakan tangki silinder yang diangkut dengan mobil seharga Rp 100.000 per 1.000 liter air. Namun, tentu tak semua warga mampu untuk solusi yang satu ini.

Cerita ini adalah salah satu gambaran dari sekian banyak daerah yang kerap mengalami kekeringan. Seperti halnya warga Dusun Bontolaisa, kebutuhan air tak pelak menjadi kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi bagi kita semua. Kebutuhan untuk minum, mandi, memasak, mencuci juga berbagai kegiatan lainnya yang membutuhkan air tentu akan sangat terganggu jika jumlah air sangat minim. Karena itu, berbagai upaya akan kita lakukan untuk memenuhinya.

Meski  di bumi ini sebagian besar wilayahnya berupa perairan, namun bukan berarti semua air itu bisa langsung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak lebih dari 3 persen jumlah air di bumi yang dapat dikonsumsi makhluk hidup. Pasalnya, 97 persen dari jumlah air di bumi berupa air asin atau beku yang tidak dapat digunakan untuk minum, mandi, dan menyiram tanaman.

Sejumlah 3 persen dari air di bumi yang dapat digunakan tersebut pun hanya sebagian yang terdiri atas air permukaan berupa aliran sungai atau mata air. Sebagian lagi berupa jenis air tanah yang tersimpan di dalam tanah. Untuk mengaksesnya dibutuhkan upaya terlebih dahulu berupa penggalian atau pembuatan saluran air. Jumlah air yang tersedia untuk kebutuhan sehari-hari ini pun kian tertekan dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi serta perkembangan industri yang pesat. Selain untuk kebutuhan pribadi dan rumah tangga, kebutuhan air terhadap industri di berbagai sektor juga sangat besar. Kondisi ini membuat Forum Ekonomi Dunia menempatkan isu krisis air pada posisi nomor satu sebagai tantangan global yang akan dihadapi dalam satu dekade mendatang.

Sumber: klikbalikpapan.co

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Kementrian Riset dan Teknologi pada tahun 2015, kondisi ketersediaan air permukaan rata-rata hanya mencukupi 23% dari kebutuhan penduduk di Indonesia. Menyadari ketersediaan air yang demikian, maka butuh pengelolaan air yang baik agar semua masyarakat bisa menikmati air bersih untuk kebutuhan hidupnya. Bukan hanya untuk mandi, memasak dan mencuci namun juga untuk kebutuhan peternakan, pertanian, dan perkebunan yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Sistem pengelolaan air pada dasarnya adalah sebuah keputusan nasional, tapi pada kenyataannya hal ini merupakan persoalan hidup dan mati di tingkat lokal, bahkan keluarga. Itu sebabnya pengelolaan sumber daya air tidak boleh mengganggu, mengesampingkan, apalagi meniadakan hak rakyat atas air tersebut. Hal tersebut karena bumi dan air beserta yang terkandung di dalamnya, selain dikuasai oleh negara, juga diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Penguasaan negara dalam hal ini mencakup mengatur, mengurus, mengelola dan mengawasi.

Pada kenyataanya, sistem pengelolaan air yang dihasilkan masih belum mampu membawa seluruh masyarakat menikmati akses untuk memperoleh air bersih. Daerah resapan air kian berkurang akibat banyaknya pembangunan di atasnya. Juga izin pembukaan lahan yang terus diberikan kepada industri. Ini mengakibatkan semakin berkurangannya cadangan air bersih di dalam tanah. Jika kebijakan ini terus-menerus berlangsung maka dampaknya akan mempengaruhi seluruh makhluk hidup yang ada. Karena itu, segala bentuk kebijakan mestilah mempertimbangkan ketersediaan sumber daya alam, termasuk air.

Air adalah hak setiap makhluk hidup. Maka dari itu sudah seharusnya semua lapisan bergerak untuk menjaga dan melestarikannya. Berangkat dari pengaturan sumber daya air yang baik, penerapan sesuai dengan peraturan serta perilaku penggunaan air yang harus dijaga, merupakan beberapa upaya yang bisa kita lakukan agar hak setiap orang untuk memperoleh akses terhadap air bisa dipenuhi.

Sumber: pdam-kutaitimur.com

Penggunaan air dalam hal ini tidak hanya menghitung dari konsumsi yang terlihat dengan mudah seperti penggunaan untuk kebutuhan industri melainkan terdapat sektor lain yang mungkin tidak terlihat atau tidak kita perhitungkan. Sektor tersebut adalah individu dan rumah tangga. Pada sektor ini penggunaan air tersembunyi di balik apa yang kita makan dan minum, baju yang kita kenakan, bahkan air menyiram tanaman di pekarangan rumah, untuk mencuci kendaraan, juga berbagai aktivitas lainnya yang menggunakan air. Sebagian dari kita mungkin menganggap ini sebagai hal kecil. Namun, ternyata memiliki dampak yang besar pula jika dilakukan secara masif dan terus-menerus.

Jika tak ada perubahan terhadap perlakuan atas air, mulai dari regulasi terkait pengelolaan sumber daya air hingga pelaksanaannya di lapangan, ditambah dengan perlakuan kita secara individu dalam penggunaan air maka bisa diperkirakan sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang kebutuhan atas air akan mengalami peningkatan. Meningkatnya kebutuhan akan air itu belum tentu diiringi dengan meningkatnya volume air mengingat terjadinya pemanasan global yang semakin hari juga semakin parah. Karena itu, tidak hanya dengan mengandalkan kepedulian masyarakat untuk menjaga air namun harus didukung dengan pembenahan tata kelola air berperspektif lingkungan dan kemanusiaan.

Peringatan Hari Air Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret pun kembali mengingatkan kita bahwa masih terdapat fenomena krisis air di berbagai belahan bumi ini. Bahwa upaya menguasai sumber daya alam, dalam hal ini air, yang diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat belumlah terwujud. Penduduk Dusun Bontolaisa di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan adalah satu dari sekian banyak korban dari belum terwujudnya pengelolaan air bagi kehidupan. Karena itu, mari mendukung negara mewujudkan penguasaan atas sumber daya alam melalui tata kelola air berbasis masyarakat yang adil dan berkelanjutan!

Tulisan ini diikutkan dalam Kompetisi Blog Oxfam Indonesia “Mencari Jejak Dalam Air”

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s