Kamu Mahasiswa Hukum? Ini 5 Anggapan Orang Terhadapmu

“Kuliah jurusan apa?”

“Hukum”

“Wah…..”

Setelah kata “Wah…” biasanya akan diikuti dengan beberapa tanggapan. Begitulah ketika mengatakan kuliah di fakultas hukum. Akan ada pandangan-pandangan yang sering muncul terkait mahasiswa fakultas hukum. Pandangan tersebut, berdasarkan pengalaman pribadi, mengatakan tentang lima hal ini:

images-9

Penghafal undang-undang

Seringkali ketika mengatakan kuliah di fakultas hukum, maka orang akan mengira bahwa kita adalah orang yang jago menghafal. Memang beberapa aturan undang-undang itu ada yang sering digunakan karena kasus yang terjadi juga sering terkait dengan aturan tersebut. Misalnya pencurian, atau pembunuhan, atau korupsi (ups…:D) yang akhirnya jadi hafal di luar kepala saking seringnya digunakan. Meski begitu, bukan berarti juga kita menghafal semua isi dalam kitab undang-undang.

Coba saja hafalkan undang-undang beserta segala peraturan terkaitnya yang tebal-tebal itu kalau tidak pusing. Jangankan mahasiswanya, para praktisi hukum sendiri seperti pengacara, jaksa atau hakim pun sekira tak ada yang menghafal semua kitab undang-undang. Selama kuliah di fakultas hukum, sejak S1 sampai S2 sekarang pun saya tidak pernah sama sekali diminta untuk mengahafalkan undang-undang. Dibaca dan paham maksudnya saja sudah cukup.Bahkan itu yang terpenting.

Calon Pengacara

“Wah, calon pengacara dong…” begitulah tanggapan orang yang sering saya dengar jika mengatakan kuliah di fakultas hukum. Padahal tak semua orang yang kuliah di fakultas hukum juga ingin jadi pengacara. Profesi yang berkaitan dengan hukum pun bukan hanya pengacara. Ada hakim, jaksa, notaris, konsultan, dosen. Selain itu, ada juga lulusan hukim yang bekerja di perusahaan atau pegawai pemerintahan yang mungkin saja tak berkaitan dengan hukum sama sekali.

Selain ingin belajar tentang hukum atau bekerja di bidang yang terkait persoalan hukum, masih banyak juga penyebab lain sehingga seseorang bisa berkuliah di fakultas hukum. Orang yang memilih jurusan lain sebagai pilihan pertama dan menjadikan fakultas hukum sebagai pilihan terakhir misalnya. Atau yang kuliah karena hanya mengikuti keinginan orangtua mungkin. Banyak faktor yang membuat orang kuliah di fakultas hukum. Jadi bukan hanya karena mau jadi pengacara.

Lebih parahnya lagi, anggapan bahwa semua mahasiswa hukum akan jadi pengacara ini pun kadang ditambah lagi dengan “Tapi jadi pengacara itu bahaya. Salah atau benar semuanya harus tetap dibela selama dibayar.” Teganya dirimu. Hiks…

Untuk anggapan tersebut, saya ingin bilang “Memangnya pengacara tidak punya hak untuk menolak klien yang datang meski dengan uang sebanayk apapun?” “Ya jelas punya lah.” Atau “Memangnya semua pengacara seperti itu?” “Ya ga juga lah…” profesi apapun punya kesempatan untuk melakukan atau mendukung sebuah kejahatan. Jadi, Waspadalah!!!

Pandai bersilat lidah

Pandangan ini mungkin muncul, menurut saya, juga disebabkan karena anggapan bahwa mahasiswa hukum akan jadi pengacara. Melihat tayangan di televisi yang menampilkan kejadian dalam sebuah persidangan, di mana terdapat tokoh pengacara yang pandai berbicara. Memang benar, sebagai mahasiswa hukum kita harus pandai berbicara atau mengungkapkan pendapat. Bahasa kerennya mungkin beretorika.

Sebagai mahasiswa hukum yang terbiasa menghadapi kasus dengan berbagai pro dan kontra tentangnya, kita harus bisa menjelaskan dengan lengkap dan detil analisa kita terhadap kasus tersebut.  Tak jarang kita jadi berdebat jika terdapat perbedaan pandangan.

Pandai berdebat dan bisa mempertahankan pendapat memang kualitas ideal seseorang yang ingin bergelut di dunia hukum. Namun kenyataannya, tidak semua juga mahasiswa hukum bisa berdebat. Ada yang malah pendiam. Itu karena tidak semua orang terlahir dengan kemampuan beretorika yang bagus. Ditambah lagi dengan kepercayaan diri yang tinggi.

Jadi kalau punya teman mahasiswa hukum dan tidak sepakat dengan pendapatnya, jangan takut! Silakan beradu argumen. Menang tidaknya bukan persoalan mahasiswa hukum atau bukan, tapi argumen mana yang paling logis.

 

Kritis

Nah ini saya sepakat (mentang-mentang positif langsung sepakat… Hehe). Dalam belajar hukum, kita memang dituntut untuk memiliki analisa yang tajam terhadap berbagai kasus atau persoalan. Kita harus punya kemampuan untuk mengaitkan setiap kejadian dan menyimpulkan pokok masalah serta mencari solusi terbaik. Dalam hal ini, sikap kritis tentu sangat diperlukan.

Tak harus jadi mahasiswa hukum sebenarnya untuk jadi kritis. Kritis itu potensi pada setiap individu. Intinya, selama logika dan kemampuan menganalisis digunakan dengan baik maka tentu kita akan jadi orang yang kritis dalam memandang banyak hal. Sikap kritis itu tentu saja sangat diperlukan, salah satunya agar tidak gampang dibodoh-bodohi atau ditipu orang.

Modis

Nah untuk ini saya sendiri pun mengakui. Di kampus saya bahkan sering mendengar anak laki-laki dari fakultas lain yang sengaja datang ke fakultas hukum untuk “cuci mata”. Pasalnya akan ada banyak perempuan modis dan glamor yang berseliweran di fakultas ini. Haha…

Memang sebagian besar mahasiswa hukum yang saya ketahui itu modis alias sangat memperhatikan penampilan. Mungkin karena bagi seorang yang begelut di dunia hukum, yang kita tawarkan adalah jasa. Oleh karena itu, penampilan menjadi faktor penting yang menunjangnya sehingga harus diperhatikan dengan baik.

Itu dia lima pandangan umum yang sering saya dengarkan ketika mengatakan kalau saya kuliah di fakultas hukum. Pandangan ini menjadi stereotype tersendiri bagi mahasiswa di fakultas hukum. Tidak semua juga benar, tentu saja. Kamu yang menjalani kuliah di fakultas lain apakah juga mengalami hal yang sama?

Tulisan diikutkan dalam #Tantangan5 #KMKepo.

Advertisements
This entry was posted in Tantanngan 5 KM Kepo. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kamu Mahasiswa Hukum? Ini 5 Anggapan Orang Terhadapmu

  1. Enaldini says:

    Saya malah ingat waktu baru lulu SPMB,
    Ditanyalah saya sama orang di kampung, “Lulus dimana?” saya Jawab “Unhas”. Dengan cepat dia menanggapi, “Alhamdulillah, Lulus pilihan keberapa? Fakultas apa?”. Denang senang saya menjawab, “Pilihan pertama, Pertanian”. Lalu, dijawabnya lagi, “Kalau cuma pertanian, biar nda dikuliahi bisaji angkat cangkul orang”. Dalam hati “duuuuhhhhh…..”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s