5 Hal tentang Soe Hok Gie

Hari ini, 17 Desember 2016, adalah hari ulang tahun dari salah satu tokoh aktivis bernama Soe Hok Gie. Seandainya masih hidup, aktivis era 1960an ini tepat berumur 74 tahun pada hari ini. sedangkan pada hari kemarin 16 Desember 2016 adalah hari kematian Gie yang ke 47. Ia meninggal tepat sehari sebelum ulang tahunnya pada tanggal 16 Desember 1969 di Puncak Gunung Semeru.
Meskipun telah lama meninggal dan mati di usia yang masih sangat muda yaitu 26 tahun, namun nama beliau masih terus dibicarakan sampai hari ini. Gerakan perjuangan yang dilakukan Gie pada masanya pun banyak menginspirasi para pemuda. Ada banyak hal yang berkaitan tentang Gie, mulai dari hal pribadinya sampai kehidupan sosialnya. Saya sendiri mencoba merangkum lima hal yang berkaitan dengan Gie pada tulisan ini. Beberapa hal dalam tulisan ini saya temukan ketika mengikuti kegiatan bernama “Surat-Surat Perlawanan Gie” yang diadakan oleh Tempo Institute pada hari Jumat, 16 Desember 2016.

images-8

Dekat dengan 3 orang perempuan
Kata seorang sahabatnya bernama Herman Lantang, “Salah satu yang saya salut dari Gie adalah dia benar-benar pandai membagi waktu antara berjuang dengan waktu bersama perempuan-perempuan yang disukainya.” Dikabarkan, Gie memang pernah dekat dengan tiga orang perempuan bernama Kartini, Maria, dan Luki. Namun ketiganya akhirnya menikah dengan laki-laki lain. Konon ketiga perempuan ini bisa dibilang adalah perempuan idaman dari banyak laki-laki di kampus tempat mereka menjalani perkuliahan. Namun, dari semua, hanya Gie yang berhasil menarik perhatian mereka. Konon suami dari ketiga perempuan ini bahkan sering cemburu pada Gie, padahal ia jelas-jelas telah meninggal. Hal itu karena begitu kuatnya karakter dari Gie yang melekat dalam ingatan mereka.

Pertengkaran dengan Herman Lantang
Saat mendaki gunung, Soe Hok Gie dan sahabatnya Herman Lantang pernah mengelami pertengkaran karena salah satu dari tiga perempuan yang ia dekati bernama Kartini. “Dia itu barang bagus,. Kalau kamu lama, saya yang maju.” Kata Herman pada waktu itu. Seketika itu Gie menjadi marah dan mereka tidak saling menyapa hingga beberapa hari. Begitu pengakuan Herman Lantang saat hadir pada acara Surat-Surat Perlawanan Gie di kantor Harian Tempo.
Selain itu, menurut Herman, Gie adalah orang yang cerewet dan suka bercanda. Dalam film tentang Soe Hok Gie, di mana tokoh Gie yang diperankan oleh Nicholas Saputra menurut Herman sangat tidak sesuai dengan tokoh aslinya. “Sesungguhnya Gie bukanlah orang yang pendiam dan dingin seperti yang digambarkan dalam film, justru dia adalah orang yang cerewet dan suka bercanda.” Herman mengenang dalam sebuah perjalanannya mendaki gunung, Gie pernah bercerita tentang sejarah kereta api di sepanjang perjalanan yang membuat teman-temannya sampai bosan mendengarkannya.

Mendaki gunung dengan “jualan” tulisan
Soe Hok Gie adalah aktivis mahasiswa yang Sangat mencintai alam. Kecintaannya pada alam ia aktualkan dengan sering pergi menaki gunung bersama sahabat-sahabatnya. Gie bersama beberapa temannya pun menjadi pendiri Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) UI. Untuk aktivitas mendaki yang sangat disenanginya ini, ia seringkali membiayai perjalanannya dengan mengirim tulisan di beberapa Koran Nasional pada waktu itu. “kalau mau naik gunung tapi lagi tidak ada uang buat beli ransum, Gie akan bilang, tunggu saya kirim tulisan dulu.” Kata Herman. Meskipun begitu, tulisan yang dikirm Gie tetap berbobot dengan data yang akurat. Pendakian terkahirnya ke Gunung Semeru pun dibiayai oleh Gie setelah menulis artikel di Koran.

Surat-Surat Gie yang tidak dipublikasikan
Gie adalah orang yang sering menulis surat. Surat tersebut merupakan gambaran persasaan dan analisis Gie tentang situasi politik pada masanya. Beberapa surat juga bercerita tentang sahabat-sahabatnya sesama pendaki gunung, juga tentang para mantan aktivis mahasiswa yang berebut kursi pemerintahan setelah pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru. Sebagian surat-suratnya diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Catatan Seorang Demonstran (1983)
Beberapa surat-surat yang ditulis Gie sebenarnya masih disimpan dan tidak dipublikasikan. Adalah Yosep Adi Prasetyo, atau akrab disapa Stanley yang menyimpan surat-surat tersebut. oleh Arif Budiman, kakak kandung Gie, ia diminta untuk tidak menyebarkan surat tersebut sebab akan menimbulkan dampak bagi teman-teman Gie yang masih hidup. Surat tersebut konon ada yang berisi tentang pandangan Gie soal pembantaian massal anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Termasuk pula surat-surat cintanya pada beberapa perempuan yang pernah ia dekati.

Pengaruh gerakan perlawan Gie di masa sekarang
Soe Hok Gie adalah tokoh aktivis yang pada zaman itu lantang menyuarakan kontra pada pemerintah. Ia secara tegas membenci sikap para politisi. Ia bahkan pernah mengirimkan alat make-up dan pakaian dalam wanita pada rekan-rekannya yang pada saat itu telah memperoleh jabatan dalam struktur pemerintahan. Tindakan Gie itu sebagai bentuk protes terhadap pemerintah. Pada banyak kesempatan ia juga turun ke jalan untuk berdemo menentang berbagai kebijakan pemerintah juga menulis surat serta artikel mengenai hal tersebut.
Tak bisa dipungkiri, beberapa pemikiran pemuda tentang pemerintah pada masa ini juga ada yang dipengaruhi oleh gerakan Gie. Padahal setiap zaman tentu memiliki tantangannya masing-masing. Jika di zaman Soe Hok Gie hidup bentuk protes pada pemerintah diwujudkan dengan tindakan-tindakan seperti di atas, maka pada zaman ini belum tentu hal yang sama harus dilakukan. Sikap membenci, apatis, bahkan anti terhadap segala hal yang berkaitan dengan politik dan pemerintahan sepertinya perlu dianalisis kembali secara mendalam untuk menyesuaikan dengan kondisi hari ini.
Semangat perjuangan menuntut keadilan oleh Soe Hok Gie tentu saja harus terus kita tanamkan di dalam diri. Begitupun semangat perlawanan terhadap penindasan. Tapi pola gerakan yang harus dijalankan itu lain soal. Tentu perlu menyesuaikan dengan konteks zaman sekarang yang jelas berbeda.

Itulah lima hal tentang Gie yang bisa saya sampaikan. Tentu saja, masih ada banyak hal tentang Soe Hok Gie yang tak habis diceritakan. Terakhir, saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip salah satu puisi karya Soe Hok Gie:

Ada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa

Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu… Sayangku.

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra

Tapi aku ingin mati di sisimu.
Manisku…

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayangku…

Kalian yang pernah mesra
Yang simpati dan pernah baik padaku

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda

Mahluk kecil…
Kembalilah dari tiada ke tiada.
Berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Tulisan diikutkan dalam #tantangan5 #KMKepo.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to 5 Hal tentang Soe Hok Gie

  1. Lelakibugis says:

    Makasih sudah menuliskannya..

    Like

  2. Iyan says:

    Hah cukup informatif

    Like

  3. Daeng Ipul says:

    menyenangkan membacanya, tapi sayangnya ada beberapa kesalahan penulisan yang cukup mengganggu buat saya.

    anyway, terima kasih sudah menuliskannya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s