Satu Tahun Pelatihan Penelitian dan Pengorganisasian Desa; Satu Tahun Jatuh Cinta

Dalam pengorganisasian, sebuah data sangatlah penting. 

12308813_704309756370407_8470527541807401245_n

Namun seribu data pun tak akan berguna jika

hubungan dengan masyarakat tidak terjalin

dengan baik.

-Roem Topatimasang-


Dua bulan sudah sejak saya tinggal di Ibukota. Menjalani aktivitas di kota yang serba sibuk dan terburu-buru. Rasanya sangat berbeda dengan kehidupan yang saya jalani setahun yang lalu. Kehidupan di desa yang sederhana dan jauh dari keramaian. Program bernama Pelatihan Penelitian dan Pengorganisasian Desalah yang mengantarkan saya tinggal di desa pada waktu itu. Program yang memberi banyak pelajaran dan sukses membuat saya berubah pikiran tentang banyak hal.

Saya teringat setahun yang lalu ketika kami, 20 orang peserta, begitu tercengang dengan sebuah daerah di Pulau Jawa bernama Pacitan yang diceritakan membutuhkan waktu 13 tahun hingga bisa berubah dari lahan kering dan tandus menjadi begitu hijau. Saya sendiri awalnya mengira mudah saja untuk menyulap lahan itu. Tinggal meminta bantuan pemerintah atau swasta, lalu datang membawa bibit untuk ditanam dan selanjutnya menunggu tanaman-tanaman itu tumbuh besar. Namun saya menyadari ada yang salah dari pemikiran itu ketika ditanya “Lalu bagaimana jika seandainya masalah itu terjadi kembali suatu hari nanti? Haruskah mereka menunggu bantuan lagi?” Begitulah perkenalan awal tentang kegiatan ini. Kami mendengarkan banyak cerita tentang pengorganisasian di berbagai daerah.

Cerita pengorganisasian tadilah yang mengantarkan kita pada materi tentang sebuah metode penelitian yang disebut Participatory Action Research atau biasa disingkat PAR. Sebuah metode penelitian yang mengharuskan kita menjadi bagian dari masyarakat di lokasi yang kita teliti. Caranya dengan ikut serta dalam aktivitas yang dilakukan oleh masayarakat di lokasi tersebut. Dengan metode ini tentu saja akan membutuhkan waktu yang lama. Mulai dari proses perkenalan, bergaul dengan masyarakat sampai menemukan isu utama dan permasalahannya. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengorganisasian pada masyarakat. Itulah kenapa butuh waktu 13 tahun untuk kasus daerah Pacitan hingga bisa berubah.

Selain materi tentang PAR, juga ada materi yang menguji cara kita meneliti sesuatu. Kita lalu dibawa menuju sebuah pasar tradisional dan meneliti kondisi pasar tersebut. Setelah itu kita diminta menceritakan apa yang kita temukan di pasar. Tentang fasilitas toilet umum di pasar, beberapa peserta menggambarkannya dengan kata “kotor dan tidak terawat”. Ternyata dari penjelasan tersebut kita tidak bisa mengetahui bagaimana gambaran tentang toilet umum itu. Yang perlu kita lakukan adalah menjelaskan bagaimana kondisi toilet tanpa perlu memasukkan penilaian pribadi ke dalamnya.

Satu hal yang tak kalah penting adalah menggunakan seluruh indra dalam meneliti. Bukan hanya apa yang kita lihat, tapi juga yang kita dengar, cium dan rasakan.

“Dari jarak sekitar dua meter bau pesing yang menyengat dari toilet sudah tercium. Saat memasuki toilet saya terpaksa menggunakan bantuan senter dari ponsel karena lampu yang tidak bisa dinyalakan. Terdengar suara air yang terus menetes dari keran yang tidak bisa saya hentikan meski telah mencoba menutup kerannya. Toilet umum ini berukuran sekitar 2×2 meter. Temboknya terbuat dari semen yang semua sisi bagian bawahnya tampak berlumut. Lantai toilet yang juga terbuat dari semen terasa licin dan membuat saya hampir terpeleset. Di dalam bak air yang temboknya setinggi pinggul saya terlihat mengendap sesuatu semacam pasir berwarna cokelat tua yang menutupi seluruh dasar bak.”

Begitulah kira-kira cara menggambarkannya. Menyampaikan kondisi yang kotor dan tidak terawat tanpa menyebutkan kata “kotor” itu sendiri. Biarkan orang lain yang menilainya dari gambaran yang kita berikan.

Setelah orientasi materi yang singkat, dibawalah kita ke sebuah desa yang akan menjadi tempat menguji coba pengetahuan tentang PAR itu. Dengan menumpang di rumah warga kami berkenalan dengan mereka dan aktivitas yang mereka lakukan. Mata pencaharian utama penduduk desa sebagai petani membuat saya ikut ke kebun. Sedikit banyak saya jadi mengetahui cara mengurus kebun, juga apa yang dilakukan pasca panen. Saya juga ikut membantu memasak di dapur yang menggunakan tungku dan kayu sebagai bahan bakar. Juga belajar cara bercerita dengan warga untuk memperoleh data.

Sebuah ilmu tentang wawancara saya peroleh di sini. Bahwa dalam wawancara kita harus berubah menjadi seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Menghilangkan semua asumsi dari pengetahuan yang kita miliki. Dalam wawancara kita harus mempertanyakan segala sesuatu sampai tidak ada yang bisa ditanyakan lagi. Kalaupun kita yakin sudah mengetahui jawabannya, setidaknya tanyakanlah kembali untuk mencocokkan. Intix hasil dari wawancara adalah apa yang mereka katakan. Bukan kesimpulan kita dari apa yang narasumber katakan. Menyimpulkannya adalah tahap berikutnya yang harus melalui proses analisa yang digabungkan dengan data-data lainnnya.

Contohnya wawancara saat mencari tahu tentang kebutuhan rumah tangga petani. Saya menanyakan, “Mengapa di rumah mereka memasak menggunakan kayu bakar dan bukan menggunakan kompor gas?” Setelah dijawab dengan “Karena harga tabung gas mahal” saat itu saya berasumsi bahwa penghasilan sebagai petani sangat sedikit sehingga tidak mampu membeli tabung gas. Harusnya wawancara tak berhenti di situ, melainkan dilanjutkan dengan pertanyaan “Mengapa harga tabung gas bisa dianggap mahal oleh warga?” Dengan demikian kita akan menemukan jawaban-jawaban baru. Misalnya karena kayu bakar bisa didapatkan dengan gratis di kebun sehingga tidak perlu dibeli seperti tabung gas. Atau karena kompor gas masih dianggap sebagai barang mewah dan bukan kebutuhan pokok seperti orang-orang di kota, dan masih banyak lagi jawaban lain yang mungkin saja bisa kita temukan.

Catatan lapangan pun menjadi satu hal yang sangat penting dalam penelitian. Membiasakan menulis apa yang kita temukan akan sangat membantu kita dalam menganalisa. Ketika menuliskannya, terkadang kita menemukan ada patahan sehingga kita jadi tahu bagian mana yang masih kurang dan membutuhkan data tambahan. Atau pada temuan mana yang kita anggap penting dan perlu untuk ditelusuri lebih jauh. Pertanyaan-pertanyaan baru juga biasanya akan muncul setelah menulis catatan lapangan.

Pada pelatihan ini pula saya belajar tentang cara melakukan Focus Group discussion (FGD) dengan benar. Ketika kami diminta mencari tahu tentang perspektif pemuda tentang petani dan sejarah komoditas melalui FGD. Segeralah kami meluncur mencari pemuda untuk melaksanakan FGD. Sore itu, dengan bangga kami mengatakan telah melakukan FGD. Namun keesokan harinya saat evaluasi, Ka Dandy, fasilitator kami saat itu  dengan tegas mengatakan bahwa yang kami lakukan bukanlah disebut FGD melainkan “wawancara keroyokan”. Bagaimana tidak, kami menanyakan satu pertanyaan yang sama kepada peserta satu-persatu lalu mencatatnya. Bukan membuat mereka berembuk dan mendiskusikan jawaban yang tepat sebagaimana seharusnya sebuah FGD. Jadilah kami mengulang kembali mengumpulkan peserta dan berlangsunglah FGD itu. Kali ini Benar-benar FGD dan memang terasa berbeda ketika empat orang peserta waktu itu berdiskusi mengenai sebuah topik hingga ditemukanlah jawaban yang mereka sepakati paling tepat dari beberapa pertanyaan yang sudah kami siapkan.

12391813_10208334738306493_6329623890812097673_n

Semakin hari saya semakin menikmati aktivitas di desa. Metode PAR ini benar-benar membuat saya berusaha melihat suatu kelompok masyarakat menggunakan sudut pandang masyarakat itu. Bukan menggunakan sudut pandang saya sendiri. Saya akhirnya tau bahwa bergosip bersama Ibu-Ibu di pagi hari, ikut ke kebun dan ke pasar atau duduk-duduk santai bersama warga di sore hari adalah salah satu upaya pengorganisasian. Bukan hanya dengan mengumpulkan mereka dalam sebuah forum yang formal. Penelitian partisipatif dilakukan dengan berbaur mengikuti aktivitas warga dan menjalin hubungan baik bersama mereka. Memperoleh data pun tidak mesti dengan wawancara formal yang lengkap dengan pulpen dan kertas serta alat perekam.

Tak terasa satu tahun sudah berlalu. Sebuah program yang juga membuat saya ikut begadang menonton acara musik dangdut, memantau perkembangan infotainment dan menghapalkan nama tokoh dan adegan disatu sinetron. Semuanya agar punya bahan ketika ikut bercerita dengan beberapa kelompok warga yang menggemarinya. Saya belajar bercerita dengan bahasa yang sederhana. Berbeda dengan kebiasan berdiskusi di kampus yang banyak menggunakan bahasa ilmiah.

Pada akhirnya, hubungan baik dengan masyarakatlah yang bisa mengantarkan kita menemukan apa yang kita cari dan melakukan sesuatu untuk itu. karena itu, sebuah pengorganisasian harus dimulai dengan mengorganisir diri sendiri. Belajar banyak mendengarkan daripada banyak berbicara. Belajar tidak memaksakan pendapat dan keinginan pribadi. Belajar menghargai proses. Belajar memahami kehidupan yang jauh berbeda dari biasanya.

Pada kegiatan ini pun saya bertemu dengan banyak teman-teman baru. Selain dari Makassar, juga ada yang berasal dari daerah lain seperti Bandung, Bogor, bahkan Lombok. Ada Danil si gondrong yang jago memanjat kelapa, kak Ani yang ahli kesehatan dan pandai membekam, Kak Eka yang mengajarkan Ibu-Ibu membuat kerajinan dari kain perca, Nisa yang selalu bisa membuat tertawa dengan candaannya, Sityi si gadis bandung yang selama di desa akhirnya terbiasa bilang iye’, Mono yang sangat mudah akrab dengan anak-anak, Herman yang berhasil membuat seorang pemuda menjadi rajin membantu Ayahnya di kebun, sampai Hamka yang salah kostum karena mengira kegiatan ini adalah pelatihan formal yang mengharuskan berkemeja dan bersepatu, serta masih banyak teman-teman lainnya lagi dengan karakter dan keahlian mereka masing-masing.

Di akhir pelatihan semua peserta dikumpulkan untuk bersama-sama membuat laporan dan menganalisa. Pada saat inilah kita melihat sejauh mana metode PAR ini mampu kita aplikasikan dan analisa apa yang bisa kita hasilkan berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama melakukan penelitian. Hasil penelitian yang kami lakukan bisa dibaca pada buku berjudul “Petani di Bawah Bayang-Bayang Pinus; Tentang Pengorganisasian Petani dan Ancaman Gagal Panen.”

Malam itu, sebelum Pelatihan Penelitian dan Pengorganisasian Desa resmi ditutup, satu-persatu peserta diminta mengungkapkan apa yang mereka rasakan. “Saya merasa jatuh cinta. Iya, Jatuh cinta pada apa yang saya kerjakan.” Demikianlah ungkapan perasaan saya waktu itu.

11046232_10205542382022433_4798785608158831861_n

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s