Athirah; Sebuah Perjuangan Perempuan

Athirah, nama yang sebenarnya bagi saya pribadi lebih saya kenali sebagai nama sebuah sekolah Islam di Sulawesi Selatan. Konon kabarnya nama sekolah yang terkenal itu memang berasal dari nama seorang perempuan yang mendirikannya. Meski telah dituliskan dalam sebuah novel oleh Alberthiene Endah namun mengingat budaya membaca juga yang masih kurang di kalangan masyarakat, sosok perempuan ini juga rasanya masih kurang dikenali.

Berbeda halnya jika kisah ini diangkat dalam sebuah film layar lebar. Adalah sutradara bernama Riri Riza yang juga berasal dari Makassar yang menggarap cerita ini menjadi sebuah film. Meski menurut beberapa teman, apa yang diceritakan di dalam novel sangat berbeda dengan filmnya. Saya sendiri pun belum membaca novel tersebut, tapi saya kira memang hal itu sering terjadi. Sebab mengaudio-visualkan sebuah tulisan tentu saja sangat tergantung dari apa yang pembuat film tangkap dari cerita novel tersebut, juga apa yang ingin ia sampaikan melalui filmnya tentu saja.

15 Foto adegan Athirah, film yang kisahkan masa kecil Jusuf Kalla

Berbeda dengan Makassar, penayangan perdana film ini di Jakarta tidak begitu heboh. Penonton di dalam bioskop pada waktu itu kurang-lebih hanya 30 persen dari jumlah kursi yang ada. Wajar saja, orang-orang di Makassar tentu jauh lebih antusias dikarenakan film ini mengangkat tokoh dan latar daerah Makassar dan sekitarnya. Kabarnya penayangan perdana film ini disambut penuh antusias oleh masyarakat di Makassar. Saya mengetahuinya dari cerita teman yang sampai harus berdesakan dan mengantri lama untuk membeli tiketnya.

Dalam film ini, sosok Athirah diperankan oleh Cut Mini yang menampilkan dinamisnya kehidupan seorang perempuan dengan tiga karakter sekaligus. Seorang anak perempuan, seorang istri, juga sebagai seorang Ibu. Lakonnya yang sangat natural dangan gaya bicaranya menggunakan dialeg Bugis Makassar tidak membuat saya sebagai orang yang mengenal dialeg tersebut dengan baik merasa aneh mendengarnya. Diawali dengan sebuah adegan pernikahan suku Bugis zaman dahulu, juga dengan pakaian-pakaian yang dikenakan pemainnya sampai latar musik yang digunakan sepanjang film, terlihat jelas bahwa Riri Riza berusaha menghadirkan budaya Bugis-Makassar yang kental dalam filmnya.

Athirah merupakan film berirama biopic  yang senyap dan sarat makna. Dengan dialog yang tidak berlepotan di sana-sini melainkan hanya dengan melihat tatapan mata, menatap air muka, bahkan desahan napas pemainnya dilengkapi dengan tata music yang pas, kita dengan mudah merasa tersentuh dan bisa memahami maksudnya. Melalui berbagai adegan, film ini seperti mengirimkan banyak pelajaran tanpa menggurui. Selain itu, detil pengambilan gambar, penataan cahaya, hingga akting pemain dan tata arias yang natural sangat patut diapresiasi.

Kisah Athiran ini bermula pada perjalanan dari Kabupaten Bone menuju Makassar oleh Athirah bersama suaminya yang juga sukses diperankan oleh Arman Dewarti. Pindahnya mereka dari tanah kelahirannya dengan maksud untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Sebuah usaha mereka bangun berdua dimana Athirah sebagai pengatur keuangannya berjalan sukses. Anak-anak mereka pun kemudian diajak serta untuk pindah ke Makassar.

Suasana keluarga Hadji Kalla atau yang disapa Puang Aji dalam film ini digambarkan sebagai keluarga yang religius. Terlihat dari beberapa kali adegan anak-anaknya dibangunkan untuk melaksanakan Shalat Subuh berjamaah. Juga tampak suasana keluarga yang harmonis dengan adegan di meja makan yang paling sering ditampilkan dalam film ini. Athirah yang meski memiliki asisten rumah tangga tetap bersedia menyediakan makanan bagi suami dan anak-anaknya. Ketika melihat adegan makan ini, saya kemudian paham kenapa teman menyarankan untuk makan terlebih dahulu sebelum menontonnya.

images-1

 

Pada film ini selain di kamar, ruang makan adalah salah satu latar ruangan yang utama dalam film ini. Entah pada tradisi budaya lain, tapi pada adegan di meja makan ini memang menceritakan tentang tradisi pada sebagian besar keluarga suku Bugis. Tentang penghormatan pada kepala keluarga dengan alat makan tersendiri. Biasanya dengan piring yang lebih besar atau gelas minum yang berbeda dari anggota keluarga lainnya. Juga tentang suka cita di meja makan, berbagi cerita yang menguatkan ikatan antar anggota keluarga.

Konflik pun dimulai saat tengah menikmati kesuksesan usaha bersama suami dan anak-anaknya, Athirah harus menerima kenyataan hadirnya perempuan lain dalam pernikahan mereka. Suaminya memilih untuk menikah lagi tanpa meminta restu dari istrinya terlebih dahulu. Lalu tanpa kata-kata, hanya dengan menyerahkan sebuah baju dan membukakan pintu, Athirah meminta suaminya untuk pergi disaat suaminya sedang berusaha untuk membujuknya.

Pada saat inilah sosok Athirah ditampilkan sebagai seorang perempuan yang kuat dan berjiwa besar. Kisah perih namun tanpa harus meratapi dan sedih berkepanjangan. Belajar dari kisah Ibunya yang diperankan oleh Jajang C. Noer yang merupakan istri ke empat, Athirah memilih berjuang sendiri menjalankan usaha dan mengasuh anak-anaknya. Sementara suaminya memilih untuk tinggal bersama istri keduanya.

Dalam kisah ini juga ditampilkan sosok Jusuf Kalla ketika remaja. Orang yang telah kali kedua menjadi Wakil Presiden negara ini. Diperankan oleh Christofer Nelwan, Jusuf Kalla tampil sebagai anak yang bertanggungjawab dan dewasa. Ucu, panggilan akrab Jusuf Kalla ketika remaja, berkali-kali menyaksikan adegan menyedihkan antara Ibu dan Ayahnya. Bahkan adegan ketika menemani ibunya ke sebuah pesta pernikahan yang mebuat saya sebagai penonton ikut merasakan haru. Adegan apa itu? silakan ditonton sendiri.

Dengan latar waktu di era 50 hingga 60an, ketika budaya dan kebiasaan sekira belum membiarkan perempuan tampil sebagai sosok yang mandiri dan tangguh. Pada masa ketika perempuan masih dianggap sebagai makhluk kelas dua ditengah-tengah budaya patriarki yang sangat kental. Namun film ini berhasil meruntuhkan anggapan itu. Menjawab bahwa dalam salah satu konteksnya, anggapan itu tidaklah berlaku. Sama halnya dengan berbagai kisah pemimpin dan pejuang perempuan yang sering diceritakan dalam sejarah.

Berkat berjualan kain sarung tenun khas Bugis, Athirah melenggang menjadi pedagang yang sukses. Uang hasil berjualan sarung tidak ia gunakan untuk berfoya-foya melainkan digunakan untuk membeli emas dan disimpan. Semakin mempertegas sosok Athirah yang luar biasa, ketika menyerahkan tabungan emasnya untuk membantu usaha suaminya yang diambang kebangkrutan akibat kondisi ekonomi negara yang tidak menentu di masa itu. Sebuah kebesaran hati yang akhirnya mengantarkan usaha Hadji Kalla menjadi sebesar sekarang ini.

images-2

Dengan penutup yang dibuat terasa menggantung,lagi-lagi dengan adegan di meja makan, seolah ingin mengajak penonton untuk memberikan kesimpulan sendiri berdasarkan interpretasi masing-masing tentang film tersebut. Satu hal yang saya tangkap, balaslah kekecewaan dengan sebuah kerja keras dan bukti jika engkau tidaklah selayaknya diperlakukan demikian. Hingga pada akhirnya, kepada sebuah ketulusan dan kesetiaanlah, hati akan kembali.

Sungguh saya kagum dengan karya Riri Riza yang satu ini. Semoga film yang akan segera ditayangkan pula pada tiga festival film internasional yaitu di Vancouver International Film Festival (VIFF), Busan International Film Festival (BIFF), dan Tokyo International Film Festival (TIFF)  ini juga menuai kesuksesan. Oh ya, bagi yang belum menontonya, film ini mungkin saja tidak akan berumur lama di bioskop. Jadi segeralah menontonya dan sebaiknya ditonton. 😀

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s