Warkop DKI dan Selera Humor Kita

Dono, Kasino dan Indro. Siapa yang tidak kenal dengan ketiga tokoh ini. Pemeran film di era 70an yang menamai diri Warkop DKI. Sayang, kedua personil warkop DKI ini yaitu Kasino dan Dono tidak berumur panjang seperti satu personil lainnya yaitu Indro. Meski demikian, sampai sekarang karakter yang diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro ini masih rutin untuk tayang di stasiun televisi saat libur hari raya atau di akhir pekan. Setidaknya ini menandakan bahwa Warkop DKI adalah salah satu jenis film yang menjadi pilihan tontonan keluarga jika hendak menonton tayangan dengan konten yang ringan dan jenaka.

warkop

Kembali digarapnya film Warkop DKI ini ke layar lebar bertajuk warkop DKI Reborn tampaknya memberi kesempatan bagi penikmatnya untuk bernostalgia atau bagi anak-anak muda yang penasaran karena hanya bisa menyaksikan pemutaran ulang film ini di layar televisi mereka. Terlihat dari membludaknya penonton di hari pertama, bahkan hingga mengalahkan rating film AADC 2 yang sempat menjadi tertinggi pula beberapa waktu lalu. Saat menonton film ini di salah satu bioskop di Jakarta, film ini bahkan ditayangkan di tiga dari empat studio yang tersedia di bioskop tersebut.

Diperankan oleh Vino G.Bastian, Abimana Aryastya, dan Tora Sudiro, karakter pemeran ini menjadi sangat mudah dikenali. Terlihat bahwa penggarap film ini betul-betul berusaha mencari pemain dengan tampilan fisik semirip mungkin dengan pemeran sebelumnya. Abimana yang sampai harus mengenakan gigi palsu untuk menyamai wajah Dono memperlihatkan bahwa Warkop DKI Reborn memang digarap sebagai tiruan versi sebelumnya. Oleh karena itu, mari kita coba lihat film ini dari seberapa cocok jika saat ini ia kembali digarap dengan bentuk yang sama.

Meski agak garing di awal film ini yang menampilkan satu-satunya pemeran film Warkop DKI yang masih hidup yaitu Indro dengan membawakan prolog mirip pembaca berita. Namun terobati dengan kehadiran tiga orang pemeran baru yang memainkan perwatakan Dono, Kasino dan Indro dengan sangat sukses menurut saya dalam menjiwai perannya. Terutama, Vino G Bastian yang memerankan tokoh Kasino yang terus saja mengoceh. Lalu tokoh Dono yang dipernkan Abimana Aryastaya yang entah kenapa selalu menjadi tokoh yang tertindas dalam film ini. Walhasil penonton bisa terus menertawai mereka dengan mudahnya.

Di luar karakter utama ketiga tokohnya, Warkop DKI Reborn benar-benar mengumpulkan unsur-unsur kebanggan Warkop DKI. Seperti sejumlah lagu tema yang digubah ulang seperti “Warung Kopi”. Kemunculan deretan wanita cantik dan seksi yang sering terlihat mengisi film ini juga tak lupa dilestarikan melalui nama-nama seperti Nikita Mirzani dan Hannah Al Rasyid. Istilah-stilah slang juga diselipkan dalam beberapa dialog seperti “Brokap” yang artinya “Berapa”. Juga beberapa istilah yang menurut saya pribadi sedikit kurang sopan seperti kata “Anjrit” dan “Sialan” justru lebih banyak lagi ditemui dalam dialog film ini. Saking serius dalam menirunya ketika kemudian trio Warkop DKI ditampilkan menggunakan busana retro di beberapa adegan, padahal lingkungan dan karakter lainnya digambarkan dalam latar waktu masa kini.

images-4

Muatan sindiran sosial berupa cacatnya penegakan hukum di Indonesia dalam Warkop DKI Reborn juga rasanya kurang lebur dengan kerangka cerita. Meski tetap kocak dan menyindir tajam namun terkesan hanya sengaja disusupkan sebagagai syarat wajib dari film-film warkop. Film Warkop DKI sebelumnya memang terkenal sering menyelipkan satir politik. Ini sangat dipahami sebab pemainnya hidup di era yang rata-rata pemudanya mengusung sikap atas kekecewaan pada kelaliman pemerintah di masa itu. Tak banyak juga mungkin yang tahu, bahwa tokoh Dono yang sering digambarkan dengan konyol di film-film Warkop DKI sebenarnya adalah alumni sekaligus dosen Sosiologi di Universitas Indonesia yang punya cukup kepedulian pada soal-soal kemasyarakatan. Hal ini membuat muatan politis di karya-karyanya tak terkesan dibuat-buat termasuk serial Gengsi Dong (1980) yang menawarkan wacana perihal kehidupan ibukota yang materialistik dan pamor angkatan bersenjata di era orde baru.

Sudah diakui bersama sebenarnya bahwa film Warkop DKI sejak dulu memang kocak dan tampaknya selera humor penonton tidak jauh berubah hingga sekarang. Gaya slapstick (jenis komedi yang mudah dicerna dan biasanya mengandalkan penderitan atau fisik sebagai obejaknya) klasik ala Warkop DKI sukses memenuhi kebutuhan tawa penonton. Adegan seperti kejar-kejaran, tercebur di kolam dan melorotkan celana orang lain pada akhirnya tetap paling bisa memancing tawa keras penonton.

Sindiran dengan menghina orang lain seperti yang dilontarkan tokoh Kasino berupa “Dasar Monyet bau”, “Kadal bintit”, “muka gepeng” hingga “Gile lu Ndro” bagi saya pribadi sudah sangat tidak relevan dengan sindiran masa kini. Selain itu, adegan yang masih menjual kemolekan tubuh perempuan dengan sangat gamblang rasanya sudah tidak bisa lagi dikonsumsi begitu saja sekarang. Saya kira film komedi bukan hanya persoalan membuat orang lain tertawa geli. Lebih jauh dari itu, nilai edukatif apa yang bisa diambil dari komedi tersebut. Karena itulah saya menghimbau agar tidak membawa anak kecil ketika menonton film ini. Sebab karakter anak kecil yang mudah meniru tentu akan berefek negatif jika dikaitkan dengan alur dan dialog dalam film ini.

images-3

Warkop DKI reborn memang film yang dipoles sedemikian rupa untuk kambali melestariakn film Warkop DKI yang telah lama tak diproduksi lagi. Jika berangkat dari harapan akan ada penyesuaian dengan komedi ala era modern yang tak lagi menjadikan slapstick sebagai unsur utama, maka bersiap-siaplah menuai kekecewaan. Namun jika memang berangkat dari nol atau tanpa terlalu berharap akan kualitas isi cerita, apa yang ditampilkan dari film ini saya kira tetap bisa dinikmati. Toh juga tujuannya memang hanya melestarikan, bukan memperbarui. Mungkin film ini memang hanya hendak menuntaskan nostalgia saja.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Warkop DKI dan Selera Humor Kita

  1. Mukhsin Pro says:

    Saya belum nonton nih, jadi tambah penasaran filmnya itu kayak gimana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s