Uang Panai (Memang) Mahal

“Dua ratus juta”

“Seratus lima puluh juta”

“Seratus dua puluh juta.”

Jangan bayangkan kalau ini adalah tawar-menawar harga mobil atau tanah! Ini panai, iya “Uang Panai”. Sejumlah uang yang harus dipersembahkan oleh keluarga calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan untuk membiayai pesta pernikahan. Seperti itulah adat yang berlaku di Suku Bugis Makassar. Dengan judul “Uang Panai”, salah satu rumah produksi lokal Makassar mengemas cerita ini dalam sebuah film. Barus saja di akhir Agustus ini film tersebut tayang di bioskop.

download-1

Saya sedang  berada jauh dari Kota Makassar saat penayangan perdana film itu disambut penuh antusias di Kota Makassar. Meskipun sedang berada di Ibu Kota, namun saya tetap berniat untuk menyaksikan film yang tayang hanya di dua bioskop di Jakarta itu. Memasuki bioskop tempat film itu ditayangkan, saya seperti berada di Kota Makassar. Logat Bugis Makassar yang khas terdengar dari percakapan orang-orang yang ada di sekitar saya. Sepertinya hadirnya film ini menjadi pengobat rindu akan kampung halaman dan ajang reuni bagi mereka yang berada di perantauan.

Dia awal film ini, kita akan menyaksikan kisah Anca, lelaki yang berasal dari keluarga sederhana yang barus saja pulang setelah menyelesaikan kuliah di perantauan. Kembali ke Makassar ia pun bertemu kembali dengan mantan pacarnya bernama Risna. Risna adalah anak dari pengusaha kaya yang ia tinggalkan tanpa kabar selama empat tahun. Meskipun begitu, Risna tetap setia dan menanti kedatangan Anca. Akhirnya, setelah berpisah selama empat tahun, cinta mereka bersemi kembali. Singkat cerita mereka berdua memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

Sebagai langkah awal, Anca datang ke rumah Risna untuk bersilaturahmi dengan keluarga Risna. Istilah ini dalam adat Bugis Makassar disebut Mammanu’-manu’. Sambutan baik keluarga Risna saat itu pun membawa keluarga Anca datang untuk melamar Risna secara resmi. Pada proses inilah, negosiasi menentukan jumlah uang panai dilakukan. Keluarga calon mempelai perempuan berhak menentukan jumlah uang yang mereka inginkan dan keluarga calon mempelai laki-laki pun bisa meminta jumlah yang lebih rendah sesuai kemampuan mereka. Begitulah proses tawar-menawar berlangsung hingga menemui kesepakatan antara pihak calon mempelai perempuan dan laki-laki.

Sehari sebelum lamaran itu,, Ibu Risna bahkan telah mengumpulkan kerabatnya untuk mendiskusikan jumlah uang yang ingin ia minta. Ibu-Ibu itu pun masing-masing menceritakan jumlah uang panai anak perempuan mereka masing-masing untuk dijadikan referensi. Sarjana, Haji, orang kaya, menjadi pertimbangan dalam menentukan jumlah uang tersebut.

“Seratus dua puluh juta”, itulah jumlah yang diminta oleh keluarga Risna kepada Anca. Mendengar kabar itu, Anca beserta keluarga pun kebingungan memikirkan cara mengumpulkan uang sebanyak itu. Bagi keluarga Anca yang sederhana, jumlah uang itu terasa sangat berat untuk dipenuhi. Anca pun bekerja keras mengumpulkan uang dari pekerjaannya.

Dua bulan kemudian, Anca mulai pesimis bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Sementara itu, keluarga Risna mulai berencana menjodohkannya dengan anak dari pengusaha teman Ayahnya. Risna pun semakin gelisah. Diambilnya sebuah kalung emas miliknya dan dititipkan kepada dua teman Anca yang ikut membantu Anca mengumpulkan uang. Kalung itu hendak Risna berikan pada Anca untuk dijual agar bisa menambah uang panai yang dikumpulkan Anca. Dengan perasaan tersinggung Anca mengembalikan kalung itu. Baginya, memberikan kalung untuk membantunya mengumpulkan uang sama dengan merendahkan harga dirinya sebagai laki-laki. Akhirnya Risna memberikan penawaran lain yaitu silariang (kawin lari). Namun gagal meski sudah hampir mereka lakukan akibat Ayah Risna berhasil menyusul anaknya dan memaksanya pulang.

Akhir cerita, kerja keras Anca mengumpulkan uang pun berhasil. Termasuk upaya Ayahnya untuk membantu dengan menggadaikan sertifikat rumahnya meski dicegah oleh Anca. Uang yang terkumpul itu pun pada akhirnya diserahkan Anca kepada rentenir yang mengejar-ngejar Ayah Risna yang ternyata memiliki utang. Uang panai yang dikumpulkan pun habis tak tersisa. “Bukan masalah jumlahnya Nak, tapi kesungguhanmu berjuang membuktikan kata-katamu.” Kata Ayah Risna di penghujung cerita.

Begitulah kisah uang panai  ini diceritakan dalam sebuah film. Menjadi sebuah film yang penuh tawa ditambah dengan kisah dua orang pemeran teman Anca bernama Tumming dan Abu yang sangat kocak. Beberapa candaaan khas Makassar juga akan kita temui pada film ini.

Secara keseluruhan film ini menurut saya layak untuk ditonton. Meskipun masih banyak celah seperti akting pemain yang kurang natural, pengambilan gambar yang tidak rapi namun sebagai film perdana saya kira cukup wajar.

Hanya saja mengenai alur cerita, awalnya saya mengira film ini akan meretas anggapan bahwa uang panai adalah satu-satunya hal terpenting dalam pernikahan di suku Bugis Makassar. Mengingat di zaman sekarang, Uang Panai seperti  menjadi standar untuk menilai seorang perempuan beserta keluarganya. Bahkan menjadi ajang gengsi bagi keluarga perempuan.

Film ini menggambarkan bahwa bentuk perjuangan laki-laki untuk menikahi seorang perempuan adalah dengan mengumpulkan uang. Seolah uang adalah satu-satunya persoalan dalam rencana pernikahan. Meski pada akhir cerita Ayah Risna mengatakan bahwa dalam hal ini bukan mengenai jumlah uangnya melainkan pembuktian akan kesunggughannya. Namun, tetap saja tak menampik anggapan miring tentang jumlah uang yang ia minta dan kekerasannya mempertahankan itu.

download

Saya justru berharap, bentuk perjuangan perempuan dalam cerita ini adalah dengan menjelaskan kepada orangtuanya perihal jumlah uang yang ingin diminta. Berjuang mempertahankan diri dan meretas anggapan bahwa harga diri dilihat dari jumlah uang panai. Perjuangan yang dilakukan Risna dengan memberikan kalung emasnya pada Anca untuk dijual dan dijadikan tambahan untuk mengumpulkan uang pun saya kira bukan menjadi solusi yang tepat. Apalagi ketika Risna mengajak Anca untuk silariang. Sama sekali tak mengubah anggapan, bagi orang-orang Bugis Makassar khususnya, bahwa uang panai yang mahal adalah yang paling baik.

Saya pun jadi berpikir ulang untuk menyarankan kedua orangtua saya menonton film ini. karena film ini mereka bisa-bisa berpikir bahwa kita bisa meminta berapapun sebab seorang laki-laki pasti akan tetap berusaha. Mereka bisa saja semakin menjadikan uang sebagai standar penghargaan seseorang atas perempuan. Entahlah, tapi itu salah satu kemungkinan yang sangat bisa terjadi.

Setelah menonton film, saya mendengar dua orang laki-laki yang sepertinya bukan orang bugis berbicara tentang film itu. “Perempun Bugis memang mahal yah. Tidak deh aku mau sama perempuan Bugis. Mau cari di mana uang buat panainya.” Kata salah satu laki-laki itu. “Aku juga. Takut.” Ucap lelaki berikutya mengiyakan. Sebuah pandangan dari orang di luar Suku Bugis Makassar yang harapan saya bisa sedikit berubah setelah menonton film ini.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Uang Panai (Memang) Mahal

  1. Jena Pintara says:

    Secara pribadi setuju2 aja sih persoalan nilai besaran uang panai. 😊😊 asal tidak, yah… keterlaluan. Apalagi hingga kesini makna tingginya uang panai pun bergeser dari makna aslinya, akibatnya yah ada silariang ada pergesekan kekeluargaan dan lainnya. 😊

    Like

  2. Pingback: 5 Film Keren 2016 – Pena Biru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s