Melirik Desa Dari Sudut Kota

Perjalanan terasa berat sambil melewati jalan yang berbukit. Antara menahan kantuk sambil mengejar waktu saya bergegas sambil menenteng handuk dan sarung. Pagi-pagi sekali, penduduk desa sudah berkumpul di sebuah kebun milik salah satu warga. Lengkap dengan alat mandi dan pakaian ganti. Bapak-bapak dan para pemuda bergantian membonceng galon dan jergen kosong. Sedang para ibu tampak menenteng ember berisi cucian. “Kalau tidak cepat, tidak dapat air.” Begitu kata salah seorang ibu.

Sudah hampir dua puluh tahun, setiap musim kemarau tiba, air akan berhenti mengalir di dusun ini. Adalah Dusun Bontolaisa, salah satu dusun yang terletak di Desa Gantarang, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi-Selatan. Sekitar lima sampai enam bulan lamanya dalam satu tahun, warga mengandalakan satu-satunya sumber air yang ditampung dalam bak yang terletak sekitar dua kilometer dari lokasi pemukiman warga. Selama itu pula, penghasilan dari kebun hampir tak ada sama sekali. Kakao dan cengkeh yang menjadi komoditas utama mengering. Begitu pula sawah-sawah yang tak teraliri air sehingga tak bisa ditanami.

Di tahun 1990, datanglah bantuan dari sebuah yayasan berupa pembangunan bak penampungan. Belum juga bak penampungan itu menyelesaikan masalah kekeringan. Di tahun 2008 bak penampungan kembali dibangun oleh sebuah yayasan lain. Sayang, masalah kekeringan belum juga teratasi meski telah memperoleh dua bantuan bak penampungan. Penampungan itu sama sekali tak bisa dialiri air.  Sampai hari ini, hanya penampungan yang dibuat oleh warga di tahun dari terpal berukuran sekitar 2 x 3 meter yang bisa teraliri air karena tempatnya yang rendah dan dekat dari sungai. Itupun hanya bisa mengalir di malam hari saja dan masih belum bisa mencukupi kebutuhan air seluruh warga. Sebelum penampungan dari terpal itu mereka buat. Warga mengambil air di sungai yang letaknya sekitar 5 km dari pemukiman dengan jalan yang curam. Atau membeli air dari desa sebelah seharga Rp 100 ribu per 1.000 liter.

Di tahun 2016 , masih dengan tujuan yang sama yaitu untuk mengatasi masalah kekeringan, proyek pembuatan embung (cekungan yang dibuat pada sebidang tanah untuk menampung air) kembali dilakukan. Proyek kali ini digagas oleh pemerintah setempat. Sore itu, dengan penuh semangat Bapak Kepala Desa menceritakan rencana pembuatan embung di desanya. Tangannya sambil menunjuk-nunjuk ke arah timur desa tempat embung itu akan dibuat. Satu hal yang menimbulkan pertanyaan di benak saya, “jika sebelunya upaya itu telah dilakukan sampai dua kali dan belum juga berhasil, mengapa masih ingin mencoba upaya yang sama? Benarkah pembuatan penampungan adalah solusi yang tepat?”. Begitulah bantuan demi bantuan diberikan bagi penduduk desa ini. Selain pembangunan bak penampungan, juga ada pembagin bibit tanaman untuk mengatasi penghasilan kebun warga yang berkurang karena kekeringan. Bibit yang juga belum bisa di tanam saat musim kemarau tiba.

Seperti itulah masyarakat Desa Gantarang berjuang mengatasi masalah yang terjadi di desanya. Banyak orang-orang yang berasal dari luar desa turut membantu. Belakangan ini memang sedang popular berbagai kegiatan yang menjadikan desa sebagai objeknya. Memberi bantuan untuk orang-orang desa. Kegiatan seperti membagi-bagikan seragam dan peralatan sekolah untuk anak-anak di desa, membantu pembangunan infrastruktur seperti mesjid dan sekolah, bantuan alat-alat rumah tangga hingga uang tunai dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kegiatan serupa. Selain bantuan berupa barang, ada pula kegiatan yang menghadirkan tokoh-tokoh yang sukses di bidangnya. Tokoh-tokoh itu seperti dokter, guru, sastrawan hingga artis dihadirkan di tengah-tengah masyarakat menceritakan kisah kesuksesan mereka masing-masing. tujuannya agar masyarakat desa bisa termotivasi dair kisah kesuksesan tokoh tersebut dan berusaha meraih kesuksesannya pula.

Tidak hanya itu, sebuah program lain berupa pengorganisasian desa juga tengah menjadi trend baru di kalangan aktifis masyarakat. Satu atau sekelompong orang yang datang dan tinggal di desa mendampingi warga menemukan masalah dan mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi. Sebua perbuatan yang mulia saya kira saat semua orang tengah mengejar popularitas di kota sedang mereka dengan sukarela pergi ke desa.

Saya pribadi sangat mendukung kegiatan semacam ini. Saya begitu kagum dengan orang-orang atau komunitas yang bersedia merelakan waktu dan tenaganya untuk masyarakat. Apalagi di pelosok desa yang sulit dijangkau. Sampai sebuah pengakuan dari seorang bapak yang berprofesi sebagai petani membuat saya berpikir kembali. “Kita ini hanya orang desa, tidak tau banyak seperti orang di kota. Jadi kalau ada bantuan kita bersyukur. Kita percayakan saja pada orang-orang yang lebih ahli.” ungkap Pak , panggilan akrab petani tersebut.

Pengakuan seorang petani itu, membuat saya berpikir ulang. Benarkah kata beliau bahwa orang kota itu lebih ahli. Sementara beberapa waktu tinggal di desa justru sayalah yang banyak belajar. Belajar bertani dan berkebun, belajar hidup sederhana, belajar saling membantu dan menghargai, dan banyak pelajaran-pelajaran lain.

Sebuah buku berjudul Mengorganisisr Rakyat yang ditulis oleh Roem Topatimasang menyampaikan bahwa, “Hal terjelek yang banyak terjadi selama ini adalah para pengorganisir atau organisasinya yang malah menjadi bintang atau pahlawan bagi rakyat. Sebaliknya, seorang pengorganisir rakyat baru dianggap berhasil jika yang menjadi sang pahlawannya adalah rakyat itu sendiri.”

Di tengah-tengah berbagai kegiatan di desa yang sedang trend memang menjadi sebuah kebanggan tersendiri bisa ke desa dan berbuat sesuatu. Namun jika kita dianggap pahlawan yang bisa menyelsaikan semua masalah dan membuat masyarakat desa merasa bodoh dan terus bergantung pada bantuan kita maka apalah gunanya. Kita justru hanya menimbulkan masalah-masalah baru bagi mereka. Menghadirkan tokoh-tokoh untuk menginspirasi yang jauh dari kehidupan dan kebiasaan mereka. Membuat mereka merasa bahwa standar kesuksesan memang adalah kota. Apalagi jika kesimpulan atas masalah yang mereka hadapi hanya melalui pengamatan selama dua-tiga hari saja.

Senada dengan buku Mengorganisir Rakyat, Nurhady Sirimorok dalam bukunya berjudul Laskar Pemimpi menyampaikan kritik tentang dua buku yaitu Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Dua buku fenomenal yang diadopsi menjadi film berbagai penghargaan. Dalam bukunya Nurhady menyampaikan tentang Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi yang sangat mengganggu cita-cita ideal anak muda tentang sebuah kesuksesan. Menurutnya, kedua buku ini seolah menciptakan standar keusksesan yaitu dengan pergi ke kota atau ke luar negeri. Buku ini menggambarkan bahwa kehidupan di desa adalah kehidupan yang menyedihkan dan tidak layak untuk dijalani, begitupun dengan kondisi pendidikannya. Karena itu, untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik kita harus beranjak dari desa menuju kota untuk mewujudkannya. Sedangkan mengenai pekerjaan yang baik sendiri, buku ini juga tak luput mengaturnya. Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau karyawan swasta juga anggota militer menjadi pekerjaan yang dianggap baik dan layak bagi masyarakat. Sebuah pemikiran bentukan orde baru menurut Nurhady dalam bukunya.

Kita melihat masalah di desa dengan menggunakan sudut pandang orang-orang kota dan mengambil solusi yang keberhasilannya diukur dengan standar masyarakat kota pula. Dengan demikian kita tidak akan pernah melihat masyarakat desa sebagai sebuah komunitas dengan kondisi sosial dan budaya yang khas. Segala kondisi sosial yang terjadi di masyarakat desa lalu dianggap tidak sempurna. Pemikiran yang mungkin bukan hanya muncul dalam benak masyarakat kota, melainkan bagi masyarakat desa sendiri.

Mungkin karena hal inilah, masalah kekeringan di Desa Gantarang belum juga selesai. Bagaimana mungkin mengatasi kekeringan dengan membangun penampungan sementara ketiadaan sumber airlah yang menjadi permasalahannya. Sementara itu, bak pahlawan orang-orang datang membangun penampungan kemudian pergi. Membuat masyarakat berpikiran bahwa menyediakan bak penampungan sebanyak mungkin adalah solusinya. Mereka tergantung, mereka tak melakukan apa-apa selama bantuan tak diberikan. Seperti kata seorang petani tadi, karena mereka tidaklah secerdas orang-orang kota. Benarkah demikian? Apakah kita dengan sudut pandang kota inilah yang bisa menyelesaikan semua permasalahan di desa? Atau dengan itu kita justru hanya menciptakan calon-calon masyarakat urban yang menambah sesak kota dan menjadikan desa hanya sebatas kenangan suatu saat nanti.

Terakhir saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip sebuah doa. Doa yang dibacakan oleh Roem Topatimasang saat hendak menutup sebuah kegiatan Pelatihan Penelitian dan Pengorganisasian Desa yang saya ikuti pada akhir tahun 2015. Doa yang oleh beliau disebut sebagai kutipan dari seorang Budha.

“Berikanlah aku kekuatan untuk mengubah apa yang bisa aku ubah. Berilah aku kesabaran untuk menerima apa yang tak bisa aku ubah. Dan berilah aku kebijaksanaan agar bisa membedakan keduanya.”

Pada tulisan ini saya berharap bisa memberikan gambaran bagi siapa saja yang dengan segala niatnya yang luar biasa untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat desa. Masyarakat yang bisa maju dengan semua yang sudah dimilikinya tanpa harus mengubah apapun kecuali kesadaran akan potensi yang sudah dimilikinya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s