Surga Kecil Lombok

“Mamak”, begitulah ia biasa disapa. Perempuan paruh baya pemilik sebuah rumah yang terletak di Jalan Bangil V Nomor 6 BTN Taman Baru Mataram, Nusa Tenggara Barat. Mengenai rumah Mamak, telah banyak cerita yang disampaikan dari kawan yang pernah berkunjung ke sana. Begitupun melalui media sosial yang ada. Rumah Singgah Lombok, begitulah orang-orang biasa menyebut rumah itu.
S__114032790

Hari sebentar lagi gelap saat saya bersama tiga orang teman tiba di rumah
Mamak. Rumah yang terletak sekitar 500 meter dari jalan raya tak memiliki halaman yang luas. Sekitar lima langkah melewati pagar besi yang pintunya digeser kita akan tiba di teras berlantai ubin. Teras yang tidak begitu luas berukuran sekitar 5 x 5 meter dengan sebuah sofa tua di sudut kanan. Sebuah teras yang lebih kecil terletak persis berhadapan dengan teras pertama. Teras kamar milik Bapak dan Mamak. Teras pertama adalah teras rumah tempat para tamu menginap. Bersebalahan dengan teras pertama terdapat sebuah lemari etalase berisi kain tenun khas Lombok. Di atasnya tergantung berbagai jenis tas yang juga terbuat dari kain tenun dan baju bertuliskan “I Love Lombok” dengan berbagai warna. Semua barang tersebut adalah oleh-oleh khas Lombok yang bisa kita beli dan bawa pulang.

Di antara teras dan etalase, di situlah pintu masuk ke rumah dengan lima buah kamar yang menjadi tempat tinggal para tamu. Melewati pintu masuk terdapat ruangan yang cukup luas berukuran sekitar 5 x 7 meter. Di sebelah kanan pintu masuk terdapat sebuah pintu menuju toilet. Empat pintu yang masing-masing menuju satu buah kamar berjejer setelahnya. Di dinding , antara toilet dan pintu kamar pertama terdapat puluhan foto-foto yang sengaja ditempel oleh para tamu untuk meninggalkan jejak. Sebuah Musala yang muat untuk sepuluh jamaah bersebelahan dengan sebuah kamar di sebelah kiri ruangan. Terdapat pula sebuah televisi bersandar pada sebuah tembok yang berhadapan dengan pintu masuk. Di hadapan televisi itulah para tamu kadang menggelar karpet untuk tidur jika tamu sedang banyak dan kamar tidak muat lagi.

img_3115

Berawal dari salah satu anak Mamak yang tergabung dalam Komunitas Lombok Backpacker. Ia seringkali memberi tumpangan bagi teman-temanya yang hendak berlibur ke Lombok untuk menginap . “Bolehlah menginap di rumah barang beberapa malam.  Tapi jangan disamakan dengan homestay, apalagi hotel. Hanya rumah tua sederhana yang saya harapkan bisa berguna bagi sahabat-sahabat kita yang membutuhkan.” Demikian kata Ichwan, anak Mamak. “Di rumah juga ada Mamak yang selalu tinggal, jadi kalau saya tak ada bilang saja kalau kamu teman saya. Mamak sudah mengerti dan siap membantu teman-teman” Lanjutnya. Ia berharap dengan memberi tumpangan bisa menghemat biaya perjalanan teman-temannya. Ia pun dengan senang hati menjemput dan mengantar teman-teman sesama backpacker di bandara atau pelabuhan dengan sukarela.

Sejak awal 2014, berkat cerita teman-temannya dari mulut ke mulut, mulailah semakin banyak orang yang datang menginap di rumah tersebut. Kesan mereka sungguh luar biasa. Terlihat dari tulisan yang mereka tinggalkan di akun media sosial Lombok Backpacker. Pada tahun itulah, rumah tersebut diresmikan sebagai Rumah Singgah Lombok. Di rumah singgah juga terdapat sebuah buku tamu yang harus diisi oleh setiap pengunjung. Buku ketiga ternyata, sejak buku tamu itu diberlakukan bagi siapapun yang datang. Dari buku tamu itu saya mengetahui bahwa telah begitu banyak orang yang datang ke rumah ini. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan dari luar negeri pun ada.

Bersyukur pada bulan Mei 2015 kami diberi kesempatan untuk membuktikan cerita tentang Rumah Singgah Lombok. Saat kami tiba di sana, Mamak sedang duduk bercerita dengan seorang tamunya. Segaris senyum mengembang di wajahnya, sapaan sederhana yang paling dipahami oleh suku manapun di dunia ini. Sebuah buku tamu disodorkannya kepada kami untuk diisi. Perjalanan kami dari Makassar menuju Lombok menjadi cerita awal yang mengakrabkan kami. Mamak lalu mempersilakan kami memasukkan barang-barang ke kamar dan membersihkan diri.  Setelah sebelumnya menjelaskan aturan yang diberlakukan di rumah ini seperti menghargai tetangga, saling menghormati sesama tamu, selalu mengabari sebelum keluar rumah,  dan menjaga kebersihan rumah.

Malam pun tiba, tamu yang datang semakin banyak. Hari itu, di dalam kamar yang saya tempati ada teman dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung dan Padang. Kami bercerita tentang daerah masing-masing dan perjalanan yang pernah kami lakukan di daerah lain. Di teras rumah, Mamak dan para tamu yang lain  pun sedang asyik bercerita dan bercanda. Rumah singgah ini seperti sebuah miniatur Bhineka Tunggal Ika yang menyatukan banyak orang dan suku. Kami jadi memiliki banyak teman dari berbagai tempat di Indonesia dan bisa menghubunginya jika berkunjung ke sana. Di rumah singgah Mamak tidak pernah membeda-bedakan tamunya. Berasal dari daerah manapun dan beragama apapun semua diperlakukan sama oleh Mamak sekeluarga.

Di rumah singgah kita juga bisa menemukan banyak informasi mengenai tempat wisata di Lombok. Melalui Mamak sekeluarga pula para pemilik usaha seperti penyewaan motor, sopir angkutan, pedagang souvenir, penyewaan alat pendakian bisa memperoleh rezeki melalui kerjasama dengannya. “Dengan berlangganan, kawan-kawan bisa dapat harga lebih murah. Jadi bisa membantu meminimalisir pengeluaran.” kata Mamak. Saya membayangkan jika setiap daerah memiliki rumah singgah. Sekedar tempat beristirahat, mengisi sedikit energy ponsel, maupun menumpang mandi. Tak perlu rumah mewah, cukup ada atap teduh untuk bernaung melindungi para pejalan.  Tentu akan sangat menyenangkan punya teman di setiap daerah.

Meski Ichawan, anak Mamak kini telah memiliki rumah sendiri bersama dengan keluarganya, tapi rumah Mamak tetap ramai dikunjungi. “Kami sekeluarga ingin bisa berguna bagi banyak orang. Bagi kami, rejeki bukan hanya berupa uang. Kami mencoba mengartikan bahwa tamu adalah rejeki, bisa membantu orang lain pun rejeki.” begitulah cerita Mamak yang membuat saya menjadi amat mengagumi sosoknya. Perempuan dengan rambut beruban yang banyak mengambil usia mudanya. Kerutan di wajahnya pun menjelaskan begitu banyak ujian yang menempanya dan menguatkannya hingga kini. Perempuan yang selalu khawatir jika tamunya keluar rumah dan pulang terlambat tanpa memberi kabar. Perempuan yang selalu bisa mengahafal wajah tamu yang pernah berkunjung ke rumahnya.

Perlakuan Mamak sekeluarga yang sangat memuliakan tamu membuat kami terharu. Dapat dilihat pula melalui foto-foto disertai catatan kecil yang terpajang di dinding dalam rumah seperti ingin mengatakan satu hal yang sama, “Terima Kasih”.

Mak, cintamu seperti sebuah pelukan yang bisa merangkul semua orang dalam dekapannya. Semoga kumuliki pula hati seluas hatimu Mak. Sampai bertemu di lain waktu. Semoga Mamak sekeluarga sehat selalu.

S__11403281

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s