Pindah Planet Yuk!

“Pernah merasa ingin pindah planet?” itulah pertanyaan yang mengawali pertemuan kami malam itu. Seorang bapak berusia hampir 60 tahun bernama Roem Topatimasang tampak tak sedang bercanda mengajukan pertanyaan tersebut. Matanya menatap kami satu persatu dengan lekat. Ruangan seluas lapangan bulutangkis itu terasa sempit bagi kami yang berjumlah dua puluh orang. Udara dingin membuat kami memilih duduk dengan rapat. Kursi yang diatur membentuk huruf U berhadapan dengan sebuah papan tulis dan Pak Roem, panggilan akrab bapak itu, berdiri di tengah menunggu jawaban. Lima belas menit menit berlalu dengan hening.

Malam itu adalah hari pertama orientasi sebuah Pelatihan Penelitian dan Pengorganisasian Desa (PPD) yang diadakan oleh salah satu Lembaga Swadaya Masyarat (LSM) di Makassar, Sulawesi Selatan. Selama lima hari kami menerima materi berkaitan dengan teori dan metode penelitian dan pengorganisasian desa.

 

IMG_0467

Pak Roem saat membawakan materi orientasi

“Saya sih pernah. Sering malah.” Pak Roem melanjutkan pembicaraan. Sepertinya ia berusaha memecah suasana yang kaku saat itu.

“Saya juga Pak. Soalnya dunia sudah sumpek.” Seorang peserta tiba-tiba bersuara diiringi tawa oleh peserta yang lain. Kami lalu bercerita lebih jauh tentang kota yang penuh hiruk pikuk. Suasana pun menjadi terasa hangat. Dengan secangkir teh yang kami letakkan di bawah kursi masing-masing. Sesekali diseruput untuk menambah kehangatan. Pak Roem kemudian bercerita lebih jauh mengenai pengalaman pengorganisasian desa yang pernah ia lakukan di berbagai daerah. Dari pengalaman yang ia ceritakan, proses pengorganisasian desa itu sepertinya mudah. Kita hanya perlu sering bercerita dengan masyarakat desa, kemudian menemukan masalah yang mereka hadapi lalu mengajak mereka untuk bersama-sama mencari solusi atas masalah tersebut.

Lima hari masa orientasi pun berlalu. Kondisi sosial masyarakat desa, teknik wawancara, beberapa pengetahuan tentang pertanian dan metode penulisan laporan telah dibekalkan kepada kami sebelum dibuang ke desa. kami menyebutnya begitu sebab lokasi desa yang akan menjadi lokasi pelatihan kami adalah desa terpencil yang sangat jauh dari kota.

Perjalanan pagi itu pun dimulai. Bersama tiga orang pendamping dan Sembilan peserta lainnya saya berangkat Dari Kabupaten Gowa menuju Kabupaten Soppeng. Sedangkan sepuluh peserta lainnya menuju Kabupaten Pangkep yang lokasinya ditempuh dengan jalur yang berbeda. Lokasi tujuan kami tersebut akan melewati dua kabupaten yaitu Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone. Udara sejuk pegunungan sedikit meredakan rasa mual yang timbul akibat jalan yang berliku melewati lereng gunung. Setelah memasuki Kabupaten Soppeng, barulah jalan mulai lurus menyusuri hamparan sawah. Belum tiba di Kota Soppeng, mobil berbelok memasuki sebuah jalan kecil dengan aspal yang tidak mulus. Semakin ke dalam, kondisi jalan semakin tidak mulus hingga akhirnya tak beraspal sama sekali. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan pohon cokelat.

Hari mulai gelap waktu itu, saat kami tiba di sebuah rumah dengan papan bertuliskan Kepala Desa Soga di depan pintu masuknya. Seorang bapak paruh baya berkacamata dengan tubuh yang kurus dan tinggi berdiri di depan pagar. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya hingga kami masuk ke rumah melewatinya dengan menyalami bapak satu persatu. Seorang pemuda tampak sibuk menata cangkir berisi teh di atas meja tamu. Kami pun duduk berdempet-dempetan menyesuaikan dengan jumlah kursi yang ada. Oleh pendamping yang telah akrab dengan bapak, kami diperkenalkan satu-persatu. Lengkap dengan lokasi dan nama pemilik rumah yang akan kami tinggali nantinya. Semua nama pemilik rumah yang disebutkan bapak kenali dengan baik. Konon di desa, sejauh apapun rumahnya, semua orang tetap saling mengenal. Suasana terasa bagitu akrab dibawah matahari yang perlahan tenggelam waktu itu. Setelah menghabiskan secangkir teh, oleh Bapak Kepala Desa beserta Wawan anaknya, kami pun diantarkan ke rumah masing-masing.

Menyusuri jalan berbatu sejauh kurang lebih dua kilometer. Melewati sebuah bukit, mungkin setinggi tiang listrik, suara bebatuan yang tergilas roda mobil sedikit membuat saya tegang dalam perjalanan. Ditambah lagi dengan suara gonggongan anjing di setiap rumah yang kami lewati. Hanya ada satu lampu jalan yang terdapat persis di depan mesjid tak jauh dari rumah Kepala Desa. Tak seorangpun yang berpepasan dengan kami di jalan pada malam itu. Setelah melewati sebuah mesjid, sebuah bukit dan sebuah pos ronda yang tampak kosong akhirnya tibalah kami di rumah Bapak Hamzah, rumah yang akan menjadi tempat tinggal saya sebulan ke depan. Rumah paling ujung di desa ini yang berbatasan langsung dengan Sungai Welanae. Setelah diperkenalkan oleh Kepala Desa, rombongan pun pergi mengantarkan teman-teman yang lain. Meninggalkan saya sendiri di rumah dan keluarga yang asing itu. Sebuah kamar bersebelahan dengan ruang tamu telah disiapkan untuk saya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian saya keluar sebentar untuk menyampaikan kalau saya hendak istirahat. Rasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh rasanya harus dibayar dengan tidur lebih cepat malam itu.

Subuh pun tiba, udara dingin membuat saya betah di dalam selimut. Suara langkah kaki terdengar jelas di atas rumah  yang terbuat dari kayu. Suara pisau dan talenan yang beradu diselingi suara siraman air pun terdengar jelas. Saya teringat pesan salah satu pendamping, “Untuk peserta perempuan, disarankan agar bangun sepagi mungkin dan membantu ibunya di dapur. Ini penting untuk mengakrabkan diri dengan keluarga baru kalian.” Dengan rasa kantuk yang masih berat saya melepas selimut dan berjalan menuju dapur. Segera saya mengambil alih pekerjaan bapak yang sedang menyapu. Setelah itu kami bertiga sarapan dengan nasi goreng buatan ibu. Dua anak laki-laki mereka sedang tidak di rumah. Anak pertamanya sudah menikah dan tinggal di rumah mertuanya. Sedang anak keduanya menginap di rumah teman.

“Beda memang rasanya ada anak perempuan di rumah. Adami yang bantu-bantuka.” Kata ibu saat saya mencuci piring bekas sarapan. Saya hanya tersenyum, meski ingin rasanya berkata “Anak laki-lak juga bisa cuci piring bu.” Tapi saya urungkan mengingat kami baru kenal dan tidak pantas rasanya memprotes perkataan orangtua yang baru kita kenal. Setelah mandi dan berpakaian saya pamit kepada bapak dan ibu untuk ke rumah Kepala Desa. Sesuai perjanjian bahwa kami akan berkumpul di hari pertama untuk menerima arahan dari pendamping. Tawaran untuk diantar oleh bapak sengaja saya tolak. Selain karena bapak mau ke kebun saya memilih berjalan kaki agar bisa sekalian melihat-lihat kondisi desa.

Perjalan sejauh dua kilometer menuju rumah Kepala Desa terasa sedikit berat dengan kondisi jalan yang berbukit-bukit. Saya membayangkan jika musim hujan tentu jalan ini akan berlumpur dan sulit dilalui kendaraan. Sepenjang perjalan saya terus membandingkan kondisi desa itu dengan Kota Makassar, tempat saya tinggal selama kurang lebih tujuh tahun. Kondisi jalan, rumah, dan penduduknya sangat jauh berbeda. “Apa yang bisa saya lakukan di tempat seperti ini?” itulah pertanyan yang terlintas di benak saya selama perjalanan. Namun siapa sangka, dari desa terpencil inilah sebuah keinginan pindah planet itu bermula.

Sepulang dari rumah kepala desa dengan berbekal tugas transek desa dan menulis jurnal setiap hari, saya pulang dengan berjalan kaki lagi. Kali ini saya beriringan dengan rombongan anak-anak SD yang pulang sekolah. Dengan tawa dan candaan anak-anak, perjalanan di siang hari yang terik itu jadi terasa sedikit sejuk. Sampai akhirnya satu-persatu mereka tiba di rumah masing-masing. Menyisakan saya sendiri yang harus menuntaskan perjalanan sampai di rumah. Dalam perjalanan, di sekitar rumah kebun-kebun kakao terhampar. Namun ada sesuatu yang aneh, beberapa pohon tampak mengering. Sebagian besar yang masih hidup daun-daunnya menguning ditutupi sesuatu berwarna putih menyerupai kapas. Pengetahuan saya tentang kakao memang tidak dalam. Tapi saya yakin, ada sesuatu yang tak beres. Ingin saya bertanya, namun tak satu pun petani yang saya temui di kebun.

Tiba di rumah, santapan makan siang telah siap. “Pak tadi ke kebun ki?” tanyaku disela-sela makan siang. “Tidak” jawab bapak singkat. “Kenapa pak?”, tanyaku penasaran. “Sekali-sekali saja ke kebunnya, karena kakaonya tidak berbuah banyak. Jadi tidak banyak yang perlu diurus di kebun.” “Memang bukan musimnya ya Pak? Atau ada hal lain?” pertanyaanku justru semakin banyak. “Karena ada serangan hama, jadi buahnya kakao sedikit. Malah banyak yang mati.” Jawab bapak. “Sudah lama kakao ini tidak banyak lagi buahnya. Sebelum hama menyerang memang sudah mulai kurang buahnya. Tapi semakin parah lagi sejak ada hama. Padahal dulu itu waktu kakao berjaya, sejahtera semua orang di sini.” Jawaban bapak disertai nasi makanan yang telah habis di piringnya pun menutup pertanyaan saya. Diskusi di meja makan itu pun menjadi bahan untuk jurnal saya hari itu.

dsc_0260

Pak Hamzah saat memperlihatkan alat pemotong kakao miliknya yang merupakan bantuan dari sebuah perusahaan swasta.

Tiga hari kemudian, tiba saatnya berkumpul bersama pendamping. Tak kusangka, kedelapan teman lain memperoleh cerita yang sama. Mengenai kakao yang tidak produktif. Maka jadilah hal ini sebagai isu besar penelitian ini. Beberapa tertarik pada sejarahnya, ada pula yang tertarik pada upaya petani mengatasinya. Maka dibagilah kami sesuai ketertarikanmasing-masing. saya berada dalam kelompok sejarah.

Malam itu, empat orang petani memenuhi undangan kami melakukan Focus Group Discussion (FGD). Dari agenda malam itulah sebuah cerita panjang tentang Desa Soga dimulai. Berawal dari tahun 1975 saat kakao mulai di tanam di desa ini, setelah sebelumnya desa ini menjadi penghasil tembakau dan jagung. Bibit yang diperoleh dari bantuan pemerintah ini ternyata menghasilkan rupiah yang banyak. Para petani pun mengganti semua isi kebun mereka dengan pohon-pohon kakao. Memasuki tahun 1997 kakao menjadi buah emas bagi masyarakat. Hasilnya membuat mereka mampu membeli kendaraan dan naik haji. Sayangnya tak berkangsung lama, hingga pada tahun 2005, kakao mulai tidak produktif karena usianya yang sudah semakin tua dan diserang hama. Kondisi ekonomi masyarakat yang telah terlanjur menyulap kebun mereka menjadi kebun kakao pun semakin merosot.

Di akhir penelitian kami kembali berkumpul. Tentang solusi masyarakat yang diutarakan oleh kelompok lain seperti menanam tanaman jangka pendek ternyata tak membuahkan hasil. Para pemuda desa satu-persatu pergi meninggalkan desa. Menjadi buruh petik cengkeh atau buruh kebun kelapa sawit untuk membantu ekonomi keluarga. Para pemudi pun mengambil bagian menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia. Sedang beberapa warga yang memiliki modal cukup banyak mulai melirik usaha Sarang Burung Walet.

Mengganti tanaman kakao tidak menjadi solusi pilihan warga. Mereka sepenuhnya masih berharap akan kembalinya masa kejayaan kakao. Ditambah lagi bantuan pemerintah dan swasta berupa pemberian pupuk dan pelatihan perawatan kakao membuat mereka masih merasa ada harapan pada kakao. Selain bantuan tersebut para petani juga menerima pembagian beras miskin, hingga bantuan uang tunai. Tak juga bantuan itu menyelesaikan masalah petani. Bagaikan obat penghilang rasa sakit, bantuan-bantuan itu hanya meredakan sedikit nyeri namun tak pernah menyembuhkan penyakit.

Dari desa ini saya akhirnya benar-benar mencocokkan berbagai issu dan bacaan tentang desa dengan keadaan sesungguhnya. Bahwa apa yang saya dengar dan baca itu tidaklah bohong. Jika hal ini  terus berlangsung, pertanyaan “Apakah desa masih ada di tiga puluh atau lima puluh tahun ke depan?” menjadi pertanyaan yang tidak berlebihan. Seketika saya merasa malu sebagai orang kota yang hanya bisa menikmati jerih payah orang-orang desa. Tanpa sedikit pun memikirkan keberlangsungan hidup petani dan keluarganya.

Dari desa terpencil inilah kesadaran itu bermula. Mengenai keinginan pindah planet itu, kini dengan mantap kujawab “Iya”. Planet lain itu, kusebut ia “Desa”.

 

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s