Cerita Seorang Siswa

ilustrasi-guru-pukuli-siswa

Ilustrasi dari manado.tribunnews.com

Ini cerita tentang seorang siswa kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA.) Suatu ketika ia pernah menggambar wajah seorang teman kelasnya yang berkulit hitam dan berambut keriting di sebuah buku. Di bawah gambar tersebut ia menuliskan kalimat “saya anak negro”. Celakanya, buku tempat ia menggambar hari itu dikumpulkan dan ia lupa merobek gambar tersebut. Keesokan harinya sang guru memanggilnya. Guru itu menanyakan apakah benar ia yang membuat gambar dan menuliskan kalimat itu di bukunya. Anak itu tak dapat mengelak, akhirnya ia mengakui perbuatannya. Guru itu lalu memberikan hukuman berupa buku. Sebuah buku untuk ia baca dan presentasikan isinya di depan kelas pada pertemuan minggu depan. Ia lupa judul buku itu, intinya buku itu membahas tentang keberagaman. Bahwa dalam perbedaan suku, ras maupun budaya tak ada yang lebih baik dari yang lainnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Tiba hari presentasi, siswa itu telah siap di depan kelas menjelaskan isi bukunya. Sebelum itu, gurunya menyampaikan bahwa seorang siswa akan membagikan pengetahuan kepada teman-teman di kelas. Sama sekali ia tak menyampaikan tentang siswa yang mengejek temannya dan diberi hukuman mempresentasikan sebuah buku.

Hingga presentasi berakhir, teman-teman sekelasnya tak pernah tahu mengenai gambar yang siswa itu buat di bukunya. Begitupun dengan teman yang wajahnya ia gambar di buku. Tapi karena buku yang ia baca, rasa bersalah jadi terus mengganggunya. Sejak saat itu, hingga bertahun-tahun kemudian. Meski tak juga pada semua kondisi ia mampu menahan diri untuk tidak menceritakan kelemahan orang lain, tetapi ia akhirnya selalu mengingat hukuman yang diberikan oleh guru SMAnya itu. Sebuah hukuman yang berhasil menyadarkan seorang siswa akan kesalahan yang diperbuatnya.

Ini cerita yang berbeda lagi. Tentang seorang siswa kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) bernama Tiara  yang sedang bercanda dengan temannya di jam istirahat sekolah. Temannya menyiramnya dengan air, saat hendak membalasnya seorang guru tiba-tiba melintas dan akhirnya terkena siraman olehnya. Baju guru itu basah dan membuatnya marah. Ia lalu menghukum siswa itu dengan mencubit kedua pahanya hingga lebam. Sepulang dari sekolah, siswa itu menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orang tuanya. Orang tua yang tidak terima anaknya diperlakukan demikian akhirnya melaporkan kejadian itu kepada polisi. Akibatnya guru tadi harus mendekam di dalam penjara selama tujuh tahun. Jika sering memperhatikan media sosial beberapa waktu belakangan ini, maka kita akan mudah menemukan berita ini. Ibu Nurmayani, atau akarab disapa Ibu Maya, itulah nama guru tersebut. Seorang guru di salah satu SMP yang terletak di daerah Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Mengenai cerita guru yang dipenjara ini, ada berbagai komentar yang dilontarkan oleh masyarakat. Sebagian besar mengatakan kalau hukuman tujuh tahun penjara itu tidak adil disebabkan hanya mencubit seorang siswa. Mereka menyatakan keprihatinan pada Ibu Maya dan mengutuk perbuatan orangt tua Tiara yang melaporkan kejadian ini pada polisi.

Bicara soal mencubit siswa. Saat duduk di bangku sekolah, berkali-kali juga saya pernah menerima hukuman semacam itu. Dicubit, dipukul, bahkan pernah kepala saya dibenturkan ke papan tulis. Saya ingat saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), kelas 6 waktu itu. Kami sekelas disuruh mengerjakan soal matematika dan yang jawabannya salah menerima hukuman dipukul dengan penggaris. Salah satu nomor, dipukul satu kali. Saya sebagai siswa yang sangat lemah dalam mengerjakan soal hitungan mendapatkan pukulan yang cukup banyak. Meskipun begitu, dipukul sebanyak apapun tetap saja tak berhasil membuat saya pintar matematika. Saya justru bertanya-tanya, apa yang salah dengan saya yang sulit memahami pelajaran matematika? Apa saya salah jika saya tidak tertarik untuk mendalaminya?

Begitupun saat SMA, sebuah bola yang saya pukul saat mengikuti pelajaran olahraga melambung terlalu jauh hingga mengenai kaki seorang guru yang sedang melintas. Dengan segera saya berlari mengejar bola itu dan bermaksud meminta maaf. Belum sempat permintaan maaf itu saya utarakan, lengan saya dicubit hingga membiru. Bola tadi dilemparnya ke tengah lapangan dan dengan nada suara yang tinggi saya disuruh mengambilnya. Ingin saya mengatakan bahwa saya sungguh-sungguh tidak bermaksud melukai siapapun. Saya hanya sedang belajar memukul bola dan tak sengaja membuatnya melambung ke arah orang lain. Tidak ada maksud buruk sama sekali. Saya menduga, mungkin itulah yang juga ingin disampaikan oleh Tiara jika saja ia diberi kesempatan untuk membela diri. Ia hanya sedang bercanda dengan temannya dan tentu saja tak pernah bermaksud membasahi baju gurunya dengan air.

Bagi beberapa orang mungkin itu adalah hal sepele. Hanya mencubit lalu menyebabkan seseorang dipenjara selama tujuh tahun. Walaupun jelas bahwa Undang-Undang Perlindungan Anak mauapun Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tak membenarkan hal tersebut. Saya tak sedang bermaksud mengulas apakah hukuman itu layak atau tidak berdasarkan hukum yang berlaku. Tapi saya, dengan pengalaman menjalani kehidupan bersekolah selama dua belas tahun, perkenankanlah untuk menyatakan bahwa hukuman fisik itu sungguh tak menghasilkan apa-apa kecuali luka fisik dan rasa sakit. Sebuah hukuman yang ternyata membuat saya sampai hari ini tak paham mengenai kesalahan saya.

Melalui tulisan ini pun, saya berterima kasih pada seorang guru mata pelajaran sosiologi yang dengan segala maaf namanya tak saya ingat lagi. Guru yang telah menghukum siswanya dengan sebuah buku. Siswa yang tak tahu menghargai orang lain itu kini telah selalu berusaha, meski kadang tak berhasil, untuk menghargai perbedaan. Siswa itu adalah saya, yang juga pada akhirnya, menjelang kelulusan, memberanikan diri meminta maaf pada temannya atas sebuah gambar yang ia buat. Rasa bersalah itu sungguh telah menjadi sebuah hukuman yang amat berat baginya. Tidakkah sebuah hukuman bertujuan untuk itu. Membuat kita menyadari sebuah pelajaran sederhana bernama tanggung jawab.

Semoga Ibu Maya sehat selalu.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Cerita Seorang Siswa

  1. Saya kira yang menggambar itu anak lelaki. Ternyata… saya sudah menebak2 sih awalnya… heheh…
    Btw… saya suka ceritanya. Keren. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dan inspiring 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s