Ibuku Bukan Penyebab Inflasi Di Bulan Ramadan

Sebuah istilah ekonomi yang disebut inflasi konon kerap terjadi di Bulan Ramadan. Beberapa orang, termasuk saya, mungkin masih asing dengan kosa kata ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inflasi merupakan kemerosotan nilai mata uang karena banyaknya dan cepatnya uang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang. Jika kita pernah mengalami kenaikan harga beberapa barang yang terjadi secara umum di berbagai tempat maka kita sudah merasakan terjadinya inflasi. Kenaikan harga ini diakibatkan peredaran uang yang terus meningkat. Jika jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan jumlah barang maka nilai uang akan merosot dan mengakibatkan kenaikan harga. Menurut Keynes, inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuannya secara ekonomis. Permintaan yang meningkat untuk memenuhi keinginan tersebut menyebabkan harga barang menjadi naik dan terjadi inflasi.

Sadar ataupun tidak, perilaku konsumtif kita di Bulan Ramadan menyumbang kenaikan harga tersebut. Pasar tradisional maupun modern akan penuh sesak oleh pembeli. Mulai dari sembako hingga pakaian dan aksesoaris. Pasar-pasar yang tiba-tiba muncul saat Ramadan menjajakan makanan untuk berbuka. Demikianlah keriuhan Ramadan yang seolah memaksa kita untuk terus memenuhi tuntutan mengenai seperti apa seharusnya kita menjalani bulan ini.

Seperti itulah keriuhan Ramadan berlangsung. Tapi tidak bagi Ibuku, saat Ramadan segera tiba Ibu mengeluarkan mukenah dan sajadah di lemarinya untuk dicuci.. Bukan mukenah dan Sajadah baru, hanya buah tangan dari kerabat beberapa tahun lalu usai menunaikan Ibadah Haji. Mukenah dan sajadah yang disimpan baik-baik untuk dikenakan hanya saat Ramadan dan Lebaran. Kata Ibu supaya ada motivasi agar lebih semangat beribadah.

Mengenai makanan berbuka puasa, di antara waktu Dhuhur dan Azhar Ibu akan sibuk di dapur. Mengolah bahan makanan untuk berbuka. Menu berbuka kami sederhana saja. Air putih dan beberapa potong kue, kadang juga es kelapa muda atau es cendol. Di rumah kami tidak berbuka dengan langsung makan nasi “Nanti kalau kekenyangan tidak bisa rukuk pas Sholat Magrib.” Kata Ayah. JIka di shalat-shalat lain kami melakukannya sendiri-sendiri, khusus untuk shalat Magrib kami melakukannya berjamaah. Karena waktu magrib singkat dan setelahnya kita akan makan bersama, maka akan lebih mengefisienkan waktu jika kita sholat berjamaah. Menu makan kami pun tak mewah, nasi, sayur, dan ikan kadang ditambah tahu, tempe atau telur. Sama dengan lauk di hari-hari biasa. Begitupun ketika sahur, biasanya sisa makanan saat buka akan dipanaskan dan ditambah dengan olahan bahan yang sengaja disisakan Ibu saat siang hari untuk diolah ketika sahur. Hanya yang berbeda adalah ritual makan bersama itu. kami biasa makan sendiri-sendiri, tapi saat puasa kami seperti sudah dikoordinir sebelumnya untuk harus makan bersama.

Lalu mengenai baju baru untuk lebaran. Ibu bukan tak sepakat dengan baju baru, ia tahu bahwa setelah melawati satu bulan yang berat memang tak berlebihan jika merayakannya dengan sesuatu yang indah dan kami sukai. Baju baru misalnya. Tapi bukan baju yang dijual di toko dengan berbagai model yang selalu berubah setiap tahunnya. Mengenai pakaian ini, Ibu memilih menjahitnya sendiri. Kami bertiga (Ibu, saya dan adik. Kecuali Ayah sebab ia memilih ikut saja dengan pilihan kami) akan pergi membeli kain bersama. Memilih motif yang disepakati bersama. Sejumlah kain yang cukup untuk membuat baju bagi kami berempat. Setelah tiba di rumah, satu persatu kami dipanggil. Sebuah meteran dilingkarkan di badan kami, mulai dari leher, perut dan pinggang. Lalu tangan dan kaki. Setelah itu, beberapa hari ke depan kami pun membayang-bayangkan seperti apa kiranya model pakaian itu jika sudah selesai Ibu jahit. Setiap hari aku dan adik akan bergantian bertanya “Jadimi bajunya?”. Ibu selelalu menjawab “Nanti kalau jadi saya panggilji itu.”

Tiba hari saat kain yang Ibu beli telah berubah menjadi baju. Meski baju Ayah selalu lebih dulu dibuat karena lebih mudah menjahitnya, Ibu baru akan memanggil kami untuk mencobanya kalau semua baju sudah jadi. “Bagus kalau kita langsung pakai sama-sama” kata Ibu. Rasa penasaran pun terobati, kami sibuk membolak-balik badan di depan cermin untuk memastikan tak ada bagian yang perlu dijahit ulang.

Saat lebaran kita juga sering melihat kue-kue dalam toples yang dihidangkan untuk para tamu. Di rumahku pun demikian “Tidak enak kalau ada tamu terus tidak ada kue diksihkan.” begitu kata ibu. Kue di rumah kami dibuat sendiri oleh Ibu, dibantu oleh kami bertiga (jika itu bisa disebut membantu). Belanja terigu, mentega, gula, telur dan pernak-pernik kue bersama Ibu. Lalu mebuat kuepun menjadi aktivitas yang menyenangkan, kami ikut menghiasi kue dengan model yang kami inginkan, bermain tepung hingga Ibu kadang memarahi kami karena membuatnya harus membeli tambahan tepung lagi. Tiba waktu berbuka, kue yang kami buat dicicipi satu persatu. Berbagai komentar dilontarkan dan dipilihlah beberapa kue terbaik untuk diletakkan di meja ruang tamu. Kue “Putri Salju”, nastar dengan taburan gula halus di atasnya, menjadi kue yang tak pernah absen setiap lebaran.

Di malam lebaran, saya dan adik menjadi dua orang yang selalu siaga menerima perintah. Mulai dari perintah membantu Ayah membersihkan rumah maupun perintah dari Ibu untuk membantunya yang kerepotan di dapur. Ketupat dan Ayam yang Ibu beli selalu dicukupkan untuk satu hari saja. Tak lebih. Kata Ibu, “Makanan ini untuk disantap saat lebaran saja, jadi tidak perlu terlalu banyak.”

Keesokan harinya, baju yang Ibu jahit kami kenakan menuju lapangan yang menjadi tempat dilangsungkannya Sholat Id berjamaah di kampung saya. Berjalan beriringan dengan baju seragam membuat kami jadi berbeda dari yang lain. Menunjukkan bahwa kami adalah satu keluarga. Sepulang Sholat Id, kami berkumpul di ruang tengah. Melingkar di depan tiga buah nampan berisi makanan. Masing-masing berisi sepiring ketupat, sepiring ayam goreng, semangkuk sop dan segelas air. Kami duduk dengan tenang menunggui Ayah merapal sejumlah doa lalu mengucap “Alfatihah” dengan lantang. Pertanda bahwa kami diminta untuk membacakan Surah Alfatihah bersama. Setelah itu Ibu akan mempersilakan kami menyantap hidangan yang sejak semalam tak boleh disentuh jika belum melewati ritual ini.

Ramadan kali ini, kurasa tak akan banyak berbeda seperti sebelumnya. Hanya intensitas berkumpul kami yang sedikit berkurang sejak Saya dan Adik meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu. Juga baju jahitan Ibu yang mungkin tidak bisa kami kenakan lagi karena mata Ibu yang sudah sulit melakukan aktivitas seperti memasukkan benang ke dalam jarum dan mencermati laju jarum yang menyatukan kain. Mungkin kami akan mengenakan pakaian lama saja jika cukup kuat menahan godaan. Atau akan membeli baju dengan harga yang pas dengan tanpa menggoyahkan kondisi keuangan keluarga jika godaan membeli baju baru itu sulit kami hindari.

Tentang Ramadan, bagi saya dan keluarga bukanlah makanan atau pakaiannya. Melainkan suasana yang berbeda. Sebuah jeda yang mengajak saya, beserta segenap manusia untuk bersiap memulai lagi pertarungan dengan diri sendiri.

S__8593430

Menu berbuka kami

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Ibuku Bukan Penyebab Inflasi Di Bulan Ramadan

  1. jenapintara says:

    Seusai membaca kok keingat yah ama keluaga cemara… iri rasanya. Bulan yang secara kalkulasi seharusnya membuat kita bisa hemat, bukan kikir. Nyatanya tanpa disadari malah lebih boros dari pada biasanya. Makan minum bisa ditahan, tapi kok pola pikir kita gak? Nafsu juga kok gak? Apa kita terlalu dicekcoki sama kata “modern” hingga tanpa terasa malah jadi primitif. Semoga kita merayakan ramadhan secara berwibawa. Aamiin.

    Like

  2. jenapintara says:

    Tiba-tiba teringat sama keluarga cemara… jadi iri. Entah kapan mulainya budaya tersebut- bila bisa disebut budaya- kemaren juga sempat baca thread di kaskus tentang pola indonesia di kala ramadhan. Mungkin lapar-haus bisa ditahan., tapi lucunya godaan-godaan dengan rupa lain ternyata lebih kuat. Kategori menahan nafsu yang pada umumnya ditancapkan di budaya kita ternyata belum sampai pada sifat-sifst mendasar lainnya. Yah seperti menahan godaan untuk tidak bersikap berlebihan.

    Semoga ramadhan kali ini kita bisa lebih memahaminya, bahwa bukan persoalan menahan lapar dan minun tapi lebih kepada bagaimana kita memaknainya.

    Salam ramadhan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s