Hujan Dalam Tiga Buku

12383399_1583481251970301_1317179678_n

Bagi beberapa orang, membaca buku dengan jumlah lembaran nyaris 600 halaman bukanlah perkara mudah. Melihatnya saja mungkin sudah membuat kita merasa enggan membacanya. Begitu juga yang saya rasakan ketika pertama kali melihat buku ini terpajang di salah satu rak toko buku. Seri pertamanya yang berjudul “Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan” telah banyak dibahas oleh teman-teman saya di kampus waktu itu. Jika kau menjadi bagian dari lingkungan orang-orang yang suka berdiskusi dan membaca buku, kau akan merasakan ada yang aneh dan menjengkelkan ketika kau hanya bisa diam mendengarkan saat yang lain sedang mendiskusikan sebuah buku. Itu terjadi jika buku tersebut belum pernah kau baca tentu saja. Hal inilah yang pernah terjadi padaku waktu itu. Nama Kashva dan Muhammad berkali-kali mereka sebutkan dan saya hanya diam kebingungan. Saat itu juga saya berjanji, besok akan pergi membeli buku yang mereka bicarakan itu.

Keesokan harinya, tiba di toko buku dan menemukannya terpajang dengan label harga yang jauh dari harapan. Kening sedikit berkerut, meskipun begitu saya tetap memaksakan diri untuk membelinya. Tak bisa tidur rasanya jika pergi ke sebuah toko buku dan menemukan buku yang dicari tapi tak membawanya pulang. Hal ini juga pernah saya lakukan, hingga harus berjalan kaki dari kontrakan ke kampus untuk menghemat biaya angkot dan makan nasi dengan jenis lauk yang paling murah gara-gara kalap saat memasuki toko buku. Walaupun demikian, saya masih belum berani mengakui diri sebagai orang yang suka membaca. Lebih dari 200 judul buku yang ada di kamar, mungkin tak sampai seratus yang telah saya tamatkan. Begitupun saat menjadi pengurus di sebuah rumah baca. Meski setiap hari bergelut dengan lebih dari 5.000 buku, tak juga membuat saya tahu banyak hal tentang buku.

Seperti itulah buku seri pertama dari trilogi Muhammad ini saya anggurkan hampir tiga bulan lamanya setelah dibeli. Hingga sore itu hujan turun, saya hendak memasang foto buku dengan latar hujan di akun Facebook dan saya memlih buku itu sebab terdapat kata hujan pula di judulnya. Setelah memotret saya tertarik membuka lembar pertama buku itu. Ada sebuah kalimat yang penulis tujukan pada Ibunya “JIka orang-orang marah karena tulisan saya tentang Baginda Rasul, saya paham itu karena mereka mencintai Rasul. Sayapun menulis buku ini karena alasan yang sama pada Beliau”. Dari situ saya mulai membaca bab pertama dari novel tersebut. Hingga hujan reda dan hari mulai gelap saya tak bisa berhenti membaca buku itu. Hanya beristirahat satu jam untuk makan malam, saya lalu melanjutkan membaca hingga larut dan tertidur. Buku ini pun saya selesaikan dalam tiga hari. Mengingat ketebalannya, maka inilah buku fiksi yang saya selesaikan paling cepat. Cara penulis bertutur membuat saya seakan berada dalam kisah dengan latar Negeri Timur Tengah pada zaman sebelum masehi ini.

Buku ini menceritakan dua kisah di dalamnya, tentang perjalanan hidup seseorang bernama Muhammad yang kita kenal sebagai pemimpin umat Islam. Lalu kisah seorang tokoh bernama Kashva, penasehat Raja Persia. Kashva seorang tokoh yang cerdas memiliki seorang teman  diskusi bernama Astu. Mereka paling suka mendiskusikan isi dari Kitab Zardhust, kitab dalam ajaran Zarathustra. Di dalamnya dikisahkan tentang seseorang yang akan datang menyempurnakan ajaran. Mereka membandingkan dengan beberapa kitab lain dan menemukan hal yang sama, bahwa seorang yang membawa ajaran kebenaran itu akan datang. Hal itu membuat Kashva dilingkupi penasaran dan memilih meninggalkan kerajaan untuk mencari tahu kebenaran kabar tersebut. Kashva menempun perjalanan yang panjang dan berliku, menemui banyak orang sembari terus lari dari kejaran tentara Raja Persia. Belum menemui kejelasan tentang Muhammad yang dicarinya, kisah ini dilanjutkan pada buku ke dua berjudul “Muhammad, Lelaki Pengeja Hujan”. Terbit dua tahun kemudian yaitu tahun 2012 yang menceritakan perjalanan hidup Muhammad dan orang-orang di sekitarnya. Tak lupa tentang Kashva yang semakin menemui titik terang dari pencariannya.

Tiga tahun berlalu, kisah Kashva belum selesai diceritakan. Saya sebagai pembaca sebenarnya merasa penasaran namun tak juga ada kabar. Meski begitu, kedua buku ini sudah cukup mempengaruhi pikiran saya. Buku yang membuat saya merasa semakin kecil di dunia ini. Tokoh Kashva menjadi sebuah refleksi bagi saya mengenai sebuah pencarian dalam hidup. Terlebih tokoh Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. Seketika saya merasa belum berbuat kebaikan apa-apa di dunia ini. Di beberapa bab buku ini benar-benar membuat saya harus berhenti sejenak menyeka air mata karena haru.

Tiba di tahun ke empat setelah buku ke dua terbit, kabar mengenai akan terbitnya seri ke tiga berjudul “Muhammad, Lelaki Pewaris Hujuan” membuat saya bersemangat. Tak sabar rasanya memiliki buku ke tiga sekaligus menjadi seri terakhir dari Trilogi Muhammad tersebut. Buku yang kabarnya akan menyelesaikan kisah pencarian Kashva tentang seorang yang dijanjikan kedatangannya. Sekaligus kisah tentang orang-orang sepeninggal Muhammad. Tepat sebulan yang lalu, saat kabar hadirnya buku tersebut di Makassar masih saya nantikan. Saya jadi harus berterima kasih pada seseorang atas kesediaanya menghadirkan buku itu lebih cepat untuk saya. Ia yang dari jauh membawakan buku ini sebagai buah tangan. Dibeli dan dijaganya melintas pulau hingga sampai ke tangan saya. Teriring doa, seperti pesan yang dituliskannya dalam buku tersebut “Semoga selalu menjadi hujan yang terus dirindukan oleh bumi.”

B5267AB2-9EFD-41A7-8867-4E8BD126C7E9

 

Tulisan ini untuk lomba menulis di Kelas Kepo dalam rangka memperebutkan sebuah novel bertanda tangan penulisnya berjudul Natisha. Semoga tulisan ini menang yah. Ayolah Om Lebug… 😀

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Hujan Dalam Tiga Buku

  1. atikadjufrimandang says:

    Wah keren kak jadi penasaran mau baca bukunya hehehe. Boleh pinjam kak :)????

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s