Everything Is Will Be Fine

 

DSC00570

Setiap manusia biasa pernah berbuat salah. Itu sudah hukum alamnya. Jika kita tak termasuk manusia suci yang bersih dari segala salah dan dosa maka kita pasti pernah berbuat salah. Yang membedakannya adalah bagaimana kita menyikapi kesalahan tersebut. Jika melihat kasus bunuh diri yang disiarkan di televisi, saya berpikir kalau mereka mungkin adalah orang-orang yang tidak lagi bisa memaafkan dirinya. Saya tidak ingin mengatakan kalau tindakan mereka salah. Setiap pilihan tentu punya alasan yang tidak kita ketahui. Belum tentu juga jika saya berada di posisi mereka, saya tidak melakukan hal yang sama.

Saya teringat dengan sebuah film berjudul “Everything Is Will Be Fine”. Tokoh Thomas Eldan yang diperankan oleh James Franco, seorang penulis yang terus dihantui rasa bersalah selama 12 tahun. Malam itu, ketika badai salju datang, ia mengemudi mobilnya dengan kondisi kacau setelah terlibat pertengkaran dengan kekasihnya. Akibatnya ia tidak memperhatikan seorang anak yang berdiri di pinggir jalan dan menabraknya. Setelah memastikan bahwa korbannya meninggal ia lalu kabur dan tidak pernah menceritakan kejadian itu pada siapapun. Sejak kejadian itu, hingga 12 tahun kemudian ia sama sekali tak bisa hidup dengan tenang. Bayangan anak kecil yang ditabraknya terus menghantui hidupnya. Ia merasa bersalah karena telah mengemudi dengan sembarangan saat itu. Lebih merasa bersalah lagi dengan sikapnya yang kabur begutu saja setelah melakukan kesalahan. Hubungannya dengan orang di sekitarnya menjadi renggang. Karirnya sebagai penulis pun nyaris hancur.

Setelah hidup dengan penuh rasa bersalah selama 12 tahun. Ia mulai menyadari bahwa ia harus berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Tapi ia merasa tak bisa tenang jika tak menemukan jawaban dari kesalahan yang ia perbuat dimaafkan atau tidak. Pada akhirnya Thomas memutuskan untuk mencari keberadaan ibu dari anak yang ditabraknya 12 tahun lalu. Ia bermaksud untuk meminta maaf pada sang Ibu atas kesalahannya yang menyebabkan anak itu meninggal. Meski Thomas tahu bahwa upayanya itu pasti akan lebih sulit mengingat kejadian itu sudah berlalu sangat lama. Ia juga tahu mungkin permintaan maafnya sudah terlambat. Tetapi ia meyakinkan diri bahwa keputusannya itu sudah tepat. Ia harus mulai dengan menerima kenyataan bahwa ia memang pernah melakukan kesalahan, lalu memaafkan dirinya sendiri karena telah menjadi seorang pengecut selama 12 tahun. Kemudian akan berjuang mencari Ibu dari anak tersebut dan memperoleh maaf darinya.

Seperti itulah setiap orang punya cara untuk menyikapi kesalahannya. Mungkin kita  bisa lari dan tidak peduli pada kesalahan yang kita perbuat.Tapi kita tidak akan bisa lari dari rasa bersalah pada diri kita sendiri. Yang terjadi adalah kita justru hanya akan memindahkan masalah tersebut ke bentuk yang berbeda.

Meski di akhir cerita Thomas tak berhasil menemukan Ibu dari anak yang ditabraknya, setidaknya ia telah berhasil mengalahkan keakuannya. Menerobos segala ketakutannya. Dalam ilmu filsafat yang kupelajari sedikit-sedikit, bahwa dalam diri manusia ada sifat keakuan. Ia adalah segala sifat manusiawi yang jika tak bisa kita kendalikan maka akan membawa kita semakin jauh dari Tuhan. Kita pun pernah, bahkan sering tak berdaya mengalahkan keakuan itu. Tapi konon, setiap manusia pasti punya sisi baik dalam dirinya. Sisi itu yang akan selalu mengingatkan dan membuat kita tak pernah merasakan ketenangan ketika melakukan sebuah kesalahan.

Jika Thomas Eldan membutuhkan waktu 12 tahun untuk menerima kenyataan. Kemudian memutuskan mencari Ibu dari anak yang ditabraknya dan meminta maaf. Beberapa dari kita mungkin saja membutuhkan waktu yang lebih lama. Tak apa, seperti Thomas, setidaknya Tuhan mencatat bahwa kita pernah berupaya melakukan sesuatu. Mengenai hitung-hitungan apakah kesalahan itu terhapuskan atau tidak, saya bukan asisten Tuhan. Yang saya tahu, kasih sayangNya mendahului kemurkaanNya.

Jadi pertama-tama maafkanlah dirimu sendiri. Sebab semua yang terjadi sebenarnya adalah tentang kau dengan dirimu sendiri. Akupun tak pandai memaafkan. Hanya dia, waktu, yang paling tahu cara mengajarkannya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s