Budaya Itu Bernama Pasar Tradisional

DSC_0205

Para pedagang di Pasar Daya Makassar

Pasar sebagai sebuah tempat berinteraksinya penjual dan pembeli sebenarnya telah dikenal sejak lama. Keberadaannya pun memiliki peranan penting dalam perkembangan perekonomian suatu wilayah. Sebagai pusat aktivitas masyarakat, pasar mendorong tumbuhnya berbagai aktivitas sosial-ekonomi di sekitarnya.

Kegiatanjual-beli ini telah dikenal bahkan sebelum manusia mengenal uang. Proses jual-beli pada waktu itu dikenal dengan sistem barter. Semua penjual berkumpul di sebuah tempat dan menggelar dagangannya masing-masing. Saat itu pembeli akan datang memilih barang yang mereka butuhkan kemudian terjadilah proses interaksi. Tawar-menawar harga akan berlangsung hingga ditemui kesepakatan anatara kedua belah pihak. Barang yang dijual pun akan diambil dan ditukarkan dengan barang yang mereka bawa. Kini dengan adanya uang, proses tukar-menukar barang jadi lebih praktis. Cukup dengan menaruh harga pada barang tertentu dan akan ditukarkan dengan sejumlah uang sesuai dengan harga yang telah ditentukan.

Seiring perkembangan zaman, proses jual-beli ini pun mengalami banyak perubahan. Penjual dan pembeli tak lagi harus bertatap muka secara langsung. Bahkan proses tawar menawar tak lagi perlu dilakukan sebab harga barang yang akan dibeli telah tertera pada barang yang dijual. Pembeli tinggal mengambil dan membawanya ke kasir untuk dibayar. Suasana pasar pun ikut berubah menjadi bersih, rapi juga dalam ruangan yang sejuk.

Meski memiliki perbedaan secara operasional kedua jenis pasar ini tetap berjalan secara bersamaan. Kedua jenis pasar inilah yang kemudian dikenal sebagai pasar tradisional dan modern. Mendengar kedua namanya, maka yang terbayang di benak kita adalah suasana kedua tempat ini. Pasar tradisional digambarkan sebagai tempat yang kotor, sesak dan tidak rapi. Sebaliknya, pasar modern lebih bersih, rapi dan sejuk. Padahal jenis barang yang diperjualbelikan di kedua tempat ini sebenarnya tidaklah jauh berbeda.

Meninggalkan kondisi lingkungan pasar, kita mencoba melihat kondisi lain yang ada di pasar ini. Tentu kita pernah melihat beberapa pedagang yang menjual jenis barang yang sama. Mereka bersaing untuk memperoleh keuntungan paling banyak. Tentu hal ini tak ditemukan di pasar modern sebab tak satupun penjual menjajakan dagangannya di sana. Hanya di pasar tradisional kondisi tersebut ditemukan. Beberapa pedagang yang berjejer dan biasanya dikelompokkan sesuai jenis barang yang mereka jual.

Di Pasar Daya yang terletak di Kota Makassar ini misalnya, pedagang sayur, pedagang ikan, pedagang pakaian dan pedagang kosmetik masing-masing dikumpulkan dalam satu lokasi yang berdekatan. Tapi jangan berpikir mereka saling bersaing untuk memperoleh pembeli. Saling menyapa dan bercengkrama sambil menunggu pembeli meminati dagangan mereka sudah menjadi kebiasaan. Begitupun saat barang yang disediakan oleh salah satu penjual tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh si pembeli. Dengan sukarela ia akan mengarahkan kita ke penjual lain di sekitarnya yang menyediakan barang yang kita inginkan.

Bukan hanya itu, satu hal lain diungkap oleh salah satu pedagang di pasar ini. Mengenai harga barang yang telah melewati kesepakatan bersama antara para pedagang yang ada. Meski  jual-beli adalah kegiatan yang tak lepas dari persaingan dan mencari keuntungan namun di pasar tradisional tak satupun menjual barang dagangannya dengan harga yang jauh berbeda dari yang lain. “Supaya adil, kita pasang harga standar untuk barang jualanta semua. Jadi biar pembeli saja yang pilih mana mau dia ambil karena harganya rata-rata samaji semua.” Ungkap seorang ibu yang tengah merapikan barang yang ia jajakan.

IMG_0626

Pedagang di Pasar Daya Makassar

Kondisi lain yang juga pasti akan kita temui adalah aksi tawar-menawar antara penjual dan pembeli. Dua orang yang tak selalu saling mengenal dan terlibat dalam usaha mencapai kesepakatan. Kadangkala kesepakatan itu tak berakhir dengan harga yang diinginkan oleh pembeli. Ekspresi bahagia si penjual saat barang dagangannya dibeli adalah sebuah keuntungan tersendiri. Setelah itu, pembeli akan berlalu dan tak jarang ditutup dengan saling mendoakan satu sama lain. Begitulah setiap interaksi itu berlangsung secara alami. Kita hanya perlu sedikit membuka mata untuk tak melihat pasar tradisional hanya dari bangunan dan kondisi lingkungannya. Dengan demikian kita bisa melihat proses kehidupan melalui sudut yang berbeda.

IMG_0624

Pembeli dan penjual yang sedang tawar-menawar

Di tengah-tengah jumlah pasar  modern yang kian menjamur, tetap saja masih banyak yang memilih berbelanja di pasar tradisional. Seperti seorang Ibu yang memilih membeli kebutuhan pokoknya di Pasar Daya ini. “Kalau di pasar harganya lebih murah, apalagi kalau sudah langganan. Bisa ditawar lebih murah lagi. Terus biasa samaji juga barangnya dengan yang di toko. ” Ungkapnya. Sayangnya tak banyak yang seperti beliau. Membandingkan kedua pasar tersebut dari segi harga dan kualitas dengan jenis barang yang sama. Apalagi untuk membandingkan dari segi nilai dan kearifan lokal yang tercipta.

Bagi saya pribadi, tak bisa membuat perbandingan antara pasar tradisional dan pasar modern. Apalagi memaksa pasar tradisional menjadi modern hanya dengan mengubah bentuk banguanannya. Tetap saja, ada pola yang berlaku diantara keduanya yang tak bisa kita satukan. Seperti dalam teori kelas sosial yang dikemukakan Marx, masing-masing memiliki kelasnya sendiri-sendiri. Karena hal itulah kedua jenis pasar ini masih tetap berjalan bersama sampai hari ini.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s