Seruan Itu Berkata “Bacalah!”

Beribu tahun silam, sebuah seruan pertama kepada semua umat manusia turun. Ia berkata Iqra’ yang berarti “bacalah”. Berbagai penafsiran hadir mengenai seruan ini. Ada yang mengatakan bahwa seruan itu berarti kita harus rajin membaca kitab-kitab yang telah dituliskan untuk menuntun umat manusia.

Jika ditanya sejak kapan manusia membaca, maka jawabannya adalah sejak manusia mengenal tulisan. Benar saja, di zaman modern ini hampir tak ada hal bersifat keilmuan yang diciptakan tanpa referensi tertulis dan dibaca sebelumnya. Setiap penggalan persitiwa dan sejarah akan dituliskan dan akhirnya bisa dibaca oleh orang yang jauh, baik tempat maupun waktu, dari kejadian tersebut. Membaca, utamanya buku, yang dulunya mungkin adalah kegiatan yang dianggap aneh kini menjadi sebuah aktivitas yang tidak asing lagi dalam kehidupan kita.

Bagi sebagian orang membaca mungkin adalah pekerjaan yang berat dan membosankan. Namun bagi sebagian yang lain, membaca seperti halnya mandi, gosok gigi atau makan. Terasa ada yang kurang jika tak melakukannya dalam satu hari.

“Kau boleh memenjarakanku asalkan dengan buku-buku. Karena dengan buku aku bebas”. Begitu saya kutipkan perkataan dari seorang tokoh bernama Tan Malaka. Tampaknya beliau betul-betul menemukan dunianya di dalam sebuah buku. Hanya melalui tulisan yang kita baca pula sehingga kita dapat mengenalnya meski kita terlampau zaman yang sangat jauh dengannya. Tak ada yang meragukan bahwa buku adalah sebuah benda yang punya manfaat sangat besar bagi manusia. Lembaran-lembaran kertas berisi guratan tinta itu ibarat benda kecil yang menyimpan dunia di dalamnya.

Berawal dari sebuah buku yang bercerita tentang seorang penyihir cilik berjudul “Harry Potter” yang saya baca di usia 12 tahun, saya mulai berkenalan dengan buku. Meskipun demikian, saya bukanlah pembaca buku yang baik. Sering saya bertekad untuk menyelesaikan sebuah buku namun pada akhirnya berhenti di tengah jalan karena rasa malas yang menyerang. Susah payah saya tetap berusaha menyelesaikannya. Mengetahui bahwa akan ada banyak sekali pengetahuan yang bisa kita peroleh dengan membaca buku, tetap saja hal itu tak mampu mengusir rasa malas untuk membaca dengan tekun.

Hampur dua tahun, saya memilih untuk menjadi pengurus di salah satu rumah baca di Makassar. Sebuah ruang berukuran 4 x 6 meter dengan tumpukan buku yang menjulang di setiap sisinya. Rasanya seperti berada di sebuah rumah dengan jendela yang bisa membuat kita melihat seluruh isi dunia. Adalah Rumah Baca Philosophia, sebuah rumah yang menyimpan lebih dari 6.000 buku di dalamnya. Siapa saja boleh datang dan membaca di sana. Itulah salah satu upaya saya untuk terus berada dekat dengan ilmu pengetahuan.

Sehari-hari saya berkawan dengan buku. Merapikannya dan memastikan mereka aman di tempatnya. Berada dalam ruangan itu membuat saya seperti mendengar perdebatan panjang dari zaman ke zaman, dari teori ke teori. Hingga tiba suatu hari rumah baca kedatangan seorang penikmat buku. Saya dan dia berdiskusi cukup lama di ruangan itu. Beberapa buku yang sama-sama pernah kami baca kami diskusikan. “Masalah tak selesai dengan membaca buku saja. Membaca buku sebenarnya baru menyelesaikan 1 persen dari persoalan kehidupan ini” katanya. Itulah kalimat yang paling lekat di ingatan saya

Perkataan orang itu membuat saya gelisah. Selama ini saya telah begitu yakin pada pengetahuan yang saya miliki. Begitu bangga dengan buku-buku yang telah saya lahap. Menjelaskan sesuatu dengan mengambil referensi dari buku membuat saya merasa punya kemampuan lebih dibandingkan orang lain.

Namun jika ternyata membaca saja tak cukup. Apakah mungkin perintah yang paling pertama diturunkan itu bukanlah sesuatu yang amat penting?

Saya mencoba menjawab sendiri kegelisahan tersebut. Tibalah saya pada sebuah jawaban bahwa membaca yang dimaksud sebenarnya adalah proses memahami segala sesuatu. Membaca bukan sekedar aktivitas yang berakhir pada sampul belakang buku. Melainkan harus berujung pada pelaksanaan dengan tindakan. Setiap buku yang telah dibaca harusnya menjadi sebuah himpunan pengetahuan yang menggerakkan perilaku kita.

Seruan itu berkata “Bacalah!”. Membaca segala tanda-tanda di sekitar kita. Membaca dengan melibatkan akal dan jiwa. Bukan sekadar mata dan mulut. Agar pada gilirannya kita bisa menyadari bahwa segala sesuatu memiliki makna. Tugas kita adalah menemukannya dan mewujudkannya dalam tindakan kita.

Jika kembali ditanyakan mengenai kapan manusia mulai membaca, maka jawabannya adalah sejak ia diciptakan. Maka bacalah!

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s