Kisah Desa Dimana Lezatnya Cokelat Bermula

Budidaya-Kakao-Harapan-Baru-Petani-Tulungagung

Anda penikmat cokelat? Pernah Anda perhatikan siapa yang membuat batang-batang cokelat yang sampai ke tangan Anda?

Jika diperhatikan, sebagian besar coklat yang kita nikmati adalah hasil dari produksi perusahaan-perusahaan asing.

Mereka memang pandai mengolah biji kakao menjadi cokelat yang mewah dan bercita rasa tinggi. Meskipun begitu, jangan mengira bahwa bahan baku dari pembuatan coklat tersebut juga berasal jauh dari tempat tinggal kita.

Bagi produsen cokelat di dunia, Indonesia salah satu negara yang penting. Negara dengan produksi kakao terbanyak ketiga setelah Ghana dan Pantai Gading. Di Indonesia sendiri, terdapat sebuah daerah yang menjadi penyumbang kakao terbanyak. Daerah itu bernama Noling, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Desa itu berjarak sekitar 400 km dari utara Kota Makassar.

Memasuki Desa Noling, kita akan menyusuri anak Sungai Pareman yang membelah kelurahan ini dan menyisakan satu lingkungan di seberangnya. Konon, di pusat desa tersebut pernah berdiri sebuah tugu berbentuk kakao yang disebut “tugu cokelat” oleh penduduk setempat. Tugu tersebut menjadi penanda bahwa kita memasuki daerah penghasil kakao.

Desa Noling dihuni oleh 1.022 kepala keluarga yang masing-masing memiliki setidaknya 1 hektar lahan. 80% dari lahan milik mereka ditanami kakao.Pohon kakao akan tampak sejauh mata memandang. Lokasinya yang berada di tepi sungai dengan jenis tanah yang subur membuat tanaman apa saja mudah tumbuh di daerah ini. Jagung, tembakau dan kedelai adalah komoditas utama masyarakat sebelum kakao menggeser keduanya.

Pada akhir dekade tahun tujuh puluhan, kakao mulai ditanam di daerah ini. Bibitnya diperoleh dari pemerintah melalui program Pengembangan Perkebunan oleh Direktorat Perkebunan pada tahun 1979. Kabar tentang hasil jualnya yang tinggi membuat masyarakat berbondong-bondong menyulap lahan mereka menjadi kebun kakao. Pertengahan dekade delapan puluhan, dipetiklah hasil yang melimpah dari kebun kakao tersebut. Pada masa itu penghasilan dari kebun kakao sekitar Rp 200.000/hektar sementara pengeluaran rumah tangga hanya sekita Rp 900. Jadilah kakao bak pohon emas bagi warga Noling. Di sekitar tahun tersebut pun desa menjadi sepi ditinggal penduduknya ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.

Hasil kakao yang melimpah membuat penduduk daerah lain ikut melakukan hal serupa. Salah satunya penduduk daerah Wotu yang terletak di Kabupaten Luwu Timur. Pembibitan sendiri pun mulai dilakukan oleh warga Noling sebab Dinas Perkebunan tak lagi mampu memenuhi kebutuhan akan bibit kakao yang sangat banyak. Berbagai upaya untuk meningkatkan produksi kakao juga dilakukan. Salah satunya dengan menambahkan jumlah pupuk pada tanaman. Penggunaan pupuk secara berlebihan memang dimungkinkan mengingat biaya yang dikeluarkan oleh pupuk pada saat itu hanya 0,1% dari keuntungan penjualan kakao. Jadilah para petani berbondong-bondong menumpahkan berton-ton pupuk kimia di atas lahan mereka. Tak satupun memikirkan mengenai kondisi tanah di kemudian hari akibat perlakuan tersebut.

Masa kejayaan kakao ini terus berlangsung hingga tahun 1998. Tahun yang kita kenal dengan era reformasi. Atau mungkin lebih akrab di ingatan kita mengenai krisis ekonomi yang terjadi di tahun itu. Tapi tidak bagi warga Noling, harga kakao justru kian meroket mengikuti kurs dollar yang menguat.

Tak lama berselang, sekitar setahun kemudian, sebuah permasalahan hinggap di kebun warga Noling. Hama mulai datang menyerang tanaman kakao mereka. Harga kakao yang melambung terus beriringan dengan  produktifitas kakao yang menurun akibat serangan hama tersebut. Dihadapkan pada harga kebutuhan pokok yang semakin mahal membuat warga melakukan upaya keras untuk memperbaiki hasil produksi kakao. Racun kimia dengan berbagai merek disemprotkan pada pohon-pohon kakao, pupuk kimia terus ditambah jumlahnya dengan tujuan meningkatkan kesuburan dan buah dari pohon kakao.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah pun ikut berupaya mengembalikan hasil produksi kakao menjadi seperti semula. Melalui program bantuan pupuk kimia dan pestisida, para petani dikumpulkan membentuk kelompok-kelompok tani untuk mengorganisir mereka dalam penerimaan bantuan tersebut. Melalui program bantuannya, pemerintah justru ikut berpartisipasi dalam meriahnya agenda pengrusakan lahan ini. Semakin hari, tanah milik warga semakin payah menjalankan fungsinya. Tanah yang subur dan bisa ditanami apa saja kini tak lagi ada. Pernah seorang petani mencoba menanam kembali kedelai di atas tanahnya, dengan PH tanah antara 6-6,5 kedelai bisa tumbuh dengan subur. Namun apa yang terjadi, tanaman kedelai tersebut justru tak bisa tumbuh besar dengan kondisi daun yang menggulung. Ini membuktikan kadar PH tanah menurun akibat n input kimia secara intensif pada tanah tersebut.

Kondisi yang terjadi di Kelurahan Noling tak bisa serta-merta dibebankan kesalahannya pada petani. Para petani sendiri pada dasarnya memiliki pengetahuan mengenai bagaimana memperlakukan tanah dan tanaman secara organik dengan membuat pupuk dari bahan yang alami. Namun sayangnya mereka lebih percaya pada pemerintah dan karyawan-karyawan perusahaan coklat yang memberi pelatihan dan bantuan. Alasannya sederhana, pemerintah dan para karyawan perusahaan dianggap sebagai profesi yang lebih baik dan lebih cerdas dari petani. Maka dari itu, apa yang mereka ajarkan pada petani pastilah yang terbaik. Padahal jika saja petani dibantu mengembangkan pengetahuan mereka, bahan-bahan kimia itu mungkin tak perlu lagi melakukan pekerjaannyan untuk merusak alam. Begitulah permasalah ini sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh orang-orang yang berada jauh dari lingkungan produksi kakao ini. Orang-orang yang menikmati cokelat hasil olahan kakao namun tak peduli pada daerah tempat coklat itu berasal.

Kondisi kritis ini terus berlangsung hingga kini. Kenyataan bahwa penghasilan kebun kakao hanya mampu menutupi hingga 30% kebutuhan rumah tangga petani menambah bukti bahwa kakao bukan lagi pohon emas sesperti julukannya dulu. Tanaman alternatif seperti cengkeh, jagung, nilam, merica dan beberapa tanaman jangka pendek menjadi penopang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para pemuda juga tak ketinggalan mengambil bagian, beberapa menjadi buruh petik cengkeh di dalam maupun di luar kelurahan. Sebagian menjadi pembibit kakao yang dijual seharga Rp 3.500/polyback. Sebagian lagi menjadi buruh perusahaan atau pelayan toko. Impian mencari kerja di kota terus menari-nari dalam benak mereka. Pekerjaan sebagai petani kian tak menarik lagi bagi para pemuda. Hanya karena terpaksa saja mereka sesekali membantu orangtua di kebun. Kondisi ini masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan daerah penghasil kakao di Afrika. Kabarnya, anak-anak kecil di sana dipaksa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kakao yang tinggi. Waktu bermain dan belajar mereka dieksploitasi untuk menanggung beban kerja yang berat.

Tugu cokelat yang menjadi penanda daerah penghasil kakao di Kelurahan Noling kini tak lagi bisa ditemui. Tugu itu dorobohkan dan berganti menjadi bangunan pemerintah. Menurut salah satu warga, memang sudah selayaknya tugu itu dirobohkan. Tugu itu tak lagi mewakili kondisi desa ini sebagai penghasil kakao.

Sementara itu, perusahaan cokelat dunia terus membutuhkan pasokan biji kakao untuk diolah. Para distributor pun membutuhkan biji kakao mentah untuk terus bekerja mengantarkannya ke perusahaan. Begitupun pemerintah yang terus ingin meningkatkan pendapatan negara dari ekspor kakao. Industri ini sebenarnya membentuk rantai kerja yang saling membutuhkan. Namun permasalahan seperti yang terjadi di Desa Noling ini tampaknya hanya milik petani saja. Begitupun dengan kita yang terus menikmati cokelat yang lezat seolah cokelat itu berasal dari tangan pesulap yang bisa menghadirkannya seketika tanpa ada hasil keringat di baliknya. Tak peduli dengan predikat negara penghasil kakao terbanyak pertama, ketiga, atau berapapun itu. Kesejateraan petani tetap harus menjadi prioritas utama.

 

Tulisan ini juga dimuat di payopayo.or.id (http://payopayo.or.id/2016/03/di-desa-ini-pernah-berlimpah-kakao/)

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Kisah Desa Dimana Lezatnya Cokelat Bermula

  1. Pingback: Kisah Desa di mana Lezatnya Cokelat Bermula – KopiKepo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s