Makassar, Seorang Pemuda, dan Selembar Ijazah

Apa yang bisa kita lakukan dengan ijazah sarjana di tangan? Mencari pekerjaan tentu saja jawabannya. Tapi sayangnya itu bukan perkara mudah bagi pemuda satu ini. Baginya, ijazah di tangan ternyata tidak cukup bisa diandalkan. Sangat jauh berbeda dari bayangannya saat pertama kali menginjakkan kaki di Makassar lima tahun yang lalu. Sebuah kota di pesisir pantai yang terletak di Provinsi Sulawesi-Selatan. Kota inilah yang menjadi tujuan utama para pemuda dari berbagai daerah di Sulawesi. Terutama untuk keperluan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pergi ke kota selepas menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas memang sudah menjadi trend di kalangan pemuda desa, khususnya bagi mereka yang punya cukup banyak uang. Sedang mereka yang memiliki kesulitan finansial akan menetap di desa dan membantu orangtua menggarap apa-apa saja yang bisa diambil dari alam. Meskipun begitu, hasrat untuk pergi ke kota masih terus menari-nari di benak mereka.

Kedatangan para tamatan SMA ini membawa harapan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Meski pada kenyataannya, Kota Makassar pun menawarkan pendidikan yang tak jauh lebih baik. Walau begitu, setiap tahunnya, Makassar kehadiran pendatang dari berbagai daerah. Jumlahnya? Jangan ditanya. Yang pasti cukup untuk membuat jalan raya macet berjam-jam, pembangunan dimana-mana, dan sampah berserakan setiap hari.

“Asal mana?” begitulah pertanyaan yang acapkali diajukan ketika berkenalan dengan seseorang. Seolah memang tak ada orang asli Makassar lagi di kota ini. Gaya hidup kota yang disepakati sebagai gaya hidup yang paling modern dan keren pun nampaknya kian menambah hasrat untuk hijrah ke kota ini. Berbagai layanan untuk menunjang gaya hidup disediakan, sebut saja mall-mall yang bertebaran hingga ke sudut kota. Begitupun dengan tempat-tempat hiburan yang ada. bahkan kehadirannya merambah hingga ke sekitar kampus. Terlalu banyak pengalih perhatian yang menggoyahkan iman para pemuda. Jika dibandingkan dengan ruang baca atau perpustakaan yang ada, jumlahnya sangat tidak sebarapa. Padahal jika saja kota ini memperhatikan para pemuda mungkin ia bisa menyumbangkan kemajuan yang besar bagi Sulawesi Selatan, bahkan negara ini.

Pertumbuhan kota Makassar pun kian meningkat seiring pertumbuhan penduduk yang juga semakin tinggi. Kondisi tersebut tentu memberi efek bagi kota  ini. Pembangunan yang semakin menjadi-jadi misalnya, lahan tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga penggusuran harus terjadi. Bahkan lautpun ikut ditimbun untuk memenuhinya. Belum lagi tentang kemacetan yang terjadi setiap hari. Atau tentang sampah yang berserakan dimana-mana. Banjir di berbagai titik. Atau kriminalitas yang semakin meresahkan. Dan tak lupa satu lagi, deretan panjang para pencari kerja.

Dengan wajah kehidupan seperti itulah, warga Kota Makassar menjalani kesehariannya. Problematika perkotaan beserta berbagai dampak yang mengiringinya bisa menjadi parameter awal bagi kita untuk mengukur apakah Makassar adalah kota yang manusiawi atau tidak untuk dijadikan tempat hidup.

Padahal jika ingin cukup jeli, memulai sebuah perubahan dengan memberi perhatian lebih pada para pemuda mungkin bisa menghadirkan sedikit harapan. Mereka adalah orang-orang dengan segudang kreatifitas dan mimpi besar. Juga semangat untuk mengejar mimpi. Meskipun ada komunitas dan ruang-ruang belajar yang dibentuk secara swadaya oleh para pemuda sendiri. Namun, seberapa besar perhatian pemerintah akan hal ini? perhatian mereka tertuju pada pembangunan infrastruktur. Seolah sumber daya manusia bukan faktor penentu dalam mencapai kemajuan.

Sepertinya Makassar perlu berbenah diri. Dengan embel-embel kota dunia yang melekat padanya, penggususran, kriminalitas, pengangguran dan kemiskinan sepertinya tidak relevan dengan julukan itu

Melihat kondisi kota ini, mimpi-mimpi pun buyar. Pemuda dengan selembar ijazah ini tak tau arah. Mungkin Makassar lupa bahwa ia hadir bukan hanya untuk bangunannya melainkan untuk warganya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s