Dilema Kanan dan Kiri

Gelap dan terang, hitam dan putih, begitupun dengan kiri dan kanan. Acapkali kita membedakan keduanya dengan meletakkan pemaknaannya pada “baik” dan “buruk”. Hitam dan putih itu bukankah hanya warna, gelap dan terang pun sama-sama dibutuhkan pada kondisi tertentu. Begitupun dengan kiri dan kanan, ibarat berjalan kita harus melakukan keduanya untuk sampai di tempat tujuan.

Berangkat dari sebuah gerakan awal revolusi di Prancis pada pertemuan Majelis Nasional Prancis tahun 1789. Para wakil yang mendukung perubahan radikal menuju tatanan sosial yang lebih setara dibandingkan Ancien Regime berada di bagian kiri ruangan. Sedangkan yang membela tatanan tradisional berada di bagian kanan ruangan. Sementara deputi prancis sendiri berada di tengah-tengah. Maka dinamailah kedua kelompok ini sebagai “sayap kiri” dan “sayap kanan” untuk memudahkan menyebut keduanya saat majelis itu berlangsung. Perbedaan ideologi keduanya kemudian menjadikan Kanan-Kiri sebagai salah satu cara untuk memetakan gagasan dan keyakinan politik. Meringkas posisi ideologi gerakan aktifis.

Pembagiaan atau pembedaan ini akhirnya terus berlanjut hingga menempel pada gerakan-gerakan sosial sampai saat ini. Golongan kiri untuk menyebut orang-orang yang beraliran sosialis, marxis, ataupun liberalis dan lawannya disebut sebagai golongan kanan. Golongan kiri memang diidentikkan dengan gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan pihak penguasa, melawan gelombang kapitalisme. Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pun disebut kiri sebagai gerakan baru dalam membela kepentingan rakyat. Golongan kanan sendiri selalu diidentikkan dengan nasionalis, kaum agamawan, dan konservatis. Orang-orang yang saling menasehati, saling membantu sesama manusia dan menghilangkan kesenjangan dalam hidup ini.

Begitulah sejarah mengenai Golongan Kanan dan Golongan Kiri ini berasal dari sebuah persoalan yang sama sekali tak ada kaitannya mengenai benar dan salah. Terlebih lagi persoalan baik dan buruk

Acuan sejarah mengenai lahirnya pembagian ini pun tidak berlaku di masyarakat sehingga pembagiannya disesuaikan dengan warna gagasan dan sikap yang diperbandingkan. Dan sudut pandang si pembicara tentunya.

Satu lagi istilah yang bersinonim dengannya, perihal barat dan timur. Kita seringkali membedakannya bukan berdasarkan ideologinya melainkan letak geografisnya. Maka muncullah pemahaman bahwa semua orang barat jahat dan orang timur baik. Tidakkah banyak orang timur yang berideologi barat dan juga sebaliknya? Adakah yang lebih baik dari yang lainnya?

Ini mungkin hanya persoalan penamaan. Namun, memberi efek yang besar jika akhirnya menjadi alas pikir. Sebab kita tak lagi mempertimbangkan alasan-alasan rasional untuk menghakimi sebuah gerakan itu baik atau buruk. Kanan dan kiri, penggunaan istilah yang telah melintas jauh dari batas-batas linguistik.

Perihal pelarangan sebuah kegiatan bertajuk Belok Kiri Fest. Entah apakah ini karena masalah pemaknaan kata “kiri’ yang melekat padanya atau bukan. Itu bisa jadi. Intinya kegiatan ini dicekal dengan alasan yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan manfaatnya. Padahal sebuah tindakan yang mulia saya kira, jika ada yang ingin mengingatkan sejarah pada bangsa yang selalu lupa untuk belajar dari masa lalunya ini.

Kira-kira apa yang terjadi jika namanya adalah Belok Kanan Fest?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s