Di Balik Sebatang Coklat

cokelat11-825x521-660x330

Apa yang terbayang di benak Anda ketika melihat sebatang coklat. Rasanya yang manis dan lezat tentu menggugah selera untuk segera menyantapnya. Tapi pernahkah Anda berpikir, dari manakah cokelat yang biasa kita nikmati berasal? Bagaimana ia bisa menjadi sebatang coklat yang nikmat dan bernilai jual tinggi?

Di Sulawesi Selatan terdapat sebuah desa bernama Desa Soga. Desa ini terletak di  Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng. Jika mengunjungi desa ini, Anda akan menemukan pohon kakao yang menghampar sejauh mata memandang. Sejak tahun 1975, kakao mulai ditanam di desa ini. Karena melihat keberhasilan petani kakao pada waktu itu, para petani di Desa Soga beramai-ramai menyulap kebun mereka yang semula ditanami jagung dan berbagai jenis sayuran menjadi kebun kakao.

Pak Hamzah, salah satu petani kakao yang tinggal di Dusun Pallawa, Desa Soga. Sejak tahun 1980, ia mulai mengganti kebun jagung miliknya menjadi kebun kakao. Ia bersama semua petani di Desa Soga akhirnya merasakan penghasilan kakao yang sangat melimpah di tahun 1999. Dari penghasilan kakao pada waktu itu, rumah-rumah mereka direnovasi. Beberapa petani bahkan mampu membeli mobil dari penghasilan kakao.

Sayangnya, masa keemasan itu tak berlangsung lama. Di tahun 2005, produktifitas kakao mulai menurun. Buahnya tak lagi sebanyak dulu. Belum lagi, serangan hama yang membuat buah kakao mereka keras dan busuk. Satu persatu petani kakao mulai mencari penghasilan alternatif, beberapa dari mereka pergi merantau ke Malaysia. Yang lainnya menjadi buruh di kebun kelapa sawit di Siwa atau buruh petik cengkeh di Sinjai jika musim panen kakao belum tiba.

Pada tahun 2013 kakao mereka masih bisa menghasilkan 800 kg pertahun dalam satu hektar lahan. Di tahun 2015 hanya bisa menghasilkan tak lebih dari 400 kg pertahun. Jika dijual dengan harga Rp30.000 per kg maka petani hanya akan memperoleh Rp 12.000.000 tiap tahun. Itupun masih harus dikurangi sekitar 30% untuk biaya operasional seperti pembelian pupuk, pestisida dan perlengkapan perkebunan lainnya. Jumlah ini tentu sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup jika hanya mengandalkan kebun kakao saja.

Meskipun telah mengalami penurunan, petani masih mempertahankan kakao milik mereka karena belum adanya alternatif tanaman lain yang meyakinkan untuk bisa mereka tanam. Selain itu, jika harus mengganti tanaman kakao mereka dengan tanaman lain tentu akan membutuhkan waktu hingga tanaman tersebut bisa dipanen. Selama waktu itu, mereka tak tahu darimana mereka bisa memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Setiap hari, pak Hamzah masih pergi ke kebun sambil menggendong tangki pestisida sebarat 20 kg. Tengah hari ia akan pulang untuk makan siang, setelah itu ia kembali ke kebun dan pulang saat petang. Di kebun, iak bekerja sendiri, mengamati satu-persatu pohon kakao miliknya. Adakah tanda-tanda serangan hama atau tidak. Menghitung biji yang bisa dihasilkan pohonnya kini. Saat musim panen tiba, isterinya kan ikut ke kebun memetik buah kakao. Setelah dipetik, buah kakao dijemur selama 2 sampai 3 hari. Setelah itu pembeli akan datang ke rumah mereka. Setelah itu, buah-buah kakao itupun akan dibawa ke pabrik-pabrik untuk diolah, salah satunya menjadi cemilan yang sering kita makan. Sebagian lagi diekspor entah kemana. Begitulah seterusnya perjalanan biji kakao di Desa Soga, sejak bibit kakao itu dibagikan oleh pemerintah 25 tahun yang lalu.

Kini, Bapak Hamzah bersama istri berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang harganya kian mencekik. Satu hektar tanahnya bahkan sudah melayang. Dijual untuk membiayai kuliah anak pertamanya. Sekarang mereka tengah bekerja keras membiayai sekolah anak keduanya.

Jika saja pemerintah telah mengingatkan mereka sebelumnya tentang masa produksi kakao yang tak berlangsung lama ini. Mungkin mereka masih punya kesempatan untuk mempersiapkan diri. Mempersiapkan tanaman lain untuk menggantikannya, atau menabung uang mereka dengan baik untuk menghadapi masa seperti ini.

Inilah cerita dari salah satu daerah penghasil kakao di Indonesia. Petani seperti Bapak Hamzah mungkin masih banyak. Mereka yang menjadi alat pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pasar global. Dengan alasan kesejahteraan, lahan mereka diubah menjadi kebun kakao tanpa mengetahui dampak yang terjadi 25 tahun kemudian. Dan sekarang, pemerintah tengah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah kurangnya produksi kakao tersebut. Bukan untuk petani, tapi untuk mengembalikan devisa negara akibat menurunnya produksi dan ekspor kakao. Demi tetap menjadi negara dengan penghasilan kakao terbanyak ketiga di dunia. Demi agar kita bisa tetap menikmati sebatang coklat yang lezat.

 

Tulisan ini juga dimuat di payopayo.or.id (http://payopayo.or.id/2015/12/di-balik-sebatang-coklat/)

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s