Sang Pemindai Surga

Bagaimana kabar perjalananmu? Sudahkah kau temukan yang kau cari?

Oh, maaf… aku sampai lupa memberi salam saking penasarannya.

Sang Pemindai Surga, itu julukanmu bukan? Julukan yang diberikan tak hanya karena kau adalah orang kepercayaan Raja Persia di masa itu, tapi juga karena keberanian dan kecerdasanmu.

Surat ini kutulis dengan sisa-sisa tenaga setelah melakukan perjalanan jauh. Sepanjang perjalanan itu, sepanjang ingatanku pula tentang kisahmu yang pernah kueja dalam tulisan. Kisah pencarianmu yang jauh dan berliku.

Apa yang meyakinkanmu pada Astvat-Ereta yang ditulisakan dalam Kitab Zardusht itu? Kitab dalam ajaran Zarathusta yang kau anut. Membuatmu pergi begitu jauh menyusuri Persia, Pegunungan Tibet, Utara Cina, Hingga tiba di Suriah, kemudian melanjutkannya ke Madinah. Apa sebenarnya yang membawamu pergi sejauh itu menelusuri jejak seseorang yang tak pernah kau temui, hanya karena rasa penasarankah?

Kehadirannya telah banyak dirmalakan. Bahkan  jauh sebelum ia dilahirkan. Kisah tentangnya dituliskan dalam berbagai perkamen-perkamen kuno. Ia disebut Maitreiya dalam ajaran Buddha, Himada dalam ajaran Kristen, Astvat-Ereta dalam ajaran Zoroaster, Lelaki Penggenggam Hujan dalam ajaran Hindu. Dialah Muhammad, Sang Al-Amin dalam ajaran Islam.

Membaca kisahnya bahkan membuatmu meninggalkan berbagai kemewahan sebagai orang kepercayaan raja. Memilih mencari jawaban atas kedatangannya. Orang yang diramalkan itu.

***

Bagaimana dengan Astu? perempuan cerdas yang menjadi teman diskusimu sejak kecil. Dan Xerxes anaknya, terakhir yang kutahu, kau sedang mencarinya karena terpisah darimu dalam perjalanan. Lalu Mahsya, teman perjalananmu yang setia. Dan banyak orang lain lagi yang kau temui dalam perjalanan. Berkat mereka semua, melawan pasukan Raja Khsrou yang diperintahkan untuk menangkapmu pun menjadi mungkin. Oh, sungguh setiap jiwa itu akan dipertemukan dengan jiwa-jiwa sesamanya. Begitu pula janji pada setiap pecinta yang akan dikumpulkan bersama dengan yang dicintainya.

Pencarianmu yang panjang akhirnya menemui ujungnya.  Dengan keterpisahan, sayangnya. Bukan dengan pertemuan. Ia yang kau cari telah tiada saat kau tiba di Madinah. Saat orang-orang masih merasakan hari-hari yang suram karena kepergiannya.

Sungguh kau turut merasakan kesedihan seperti kesedihan orang-orang yang mencintainya.

Aku takut Kashva. Membaca kisahmu membuatku mengulang tiap detik yang kulewati dalam hidupku.

Sudahkah aku berjuang menemukan apa yang kucari?

Sudahkah aku seyakin itu pada jalan yang kupilih?

Atau setidaknya, meski aku terpisah jarak dan waktu yang begitu jauh darinya, tersenyumkah ia melihat apa yang telah kulakukan hari ini?

Tentang pertanyaan sahabatmu, Elyas “apa yang akan kau tanyakan jika bertemu dengannya?”

“Aku ingin bertanya padanya, benarkah kau orangnya? Yang diramalkan akan datang membawa ajaran kebenaran itu.” begitu jawabmu.

Pertanyaan itu memang tak sempat kau sampaikan kepadanya. Namun kau tentu telah menemukan jawabannya. Apa yang diramalkan dalam berbagai kitab itu sungguh telah terjadi.

Namun, pencarian tak berhenti sampai di situ. Semua bukan hanya tentang menemukan drinya saja, melainkan juga tentang apa yang ada padanya. Kebenaran apa sesungguhnya yang dibawa olehnya? Membuat ia begitu ramai dibicarakan di seluruh negeri. Kebenaran apa itu, yang diramalkan bahwa di hari-hari berikutnya akan menjadi perdebatan panjang hingga memecah belah para ummatnya. Apakah kebenaran itu dihadirkan hanya untuk menghancurkan? tentu tidak.

***

Kini aku, berada pada masa yang terlampau jarak dan waktu yang begitu jauh darinya. Mengumpulkan remah-remah sejarah yang masih tersisa. Memilih dan memilahnya satu-persatu. Mencoba menemukan rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Janji tak ada yang sia-sia pada setiap yang mau berusaha menjadi peganganku.

Kutanyakan pertanyaan yang sama seperti sahabatmmu itu pada diriku sendiri. Jika saja aku bertemu dengannya, meski hanya dalam mimpi sekalipun. Ingin aku bertanya,

“Adakah aku menjadi duri di jalanmu? Wahai Penunjuk Jalan Yang Lurus”.

 

Kashva: Salah satu tokoh dalam cerita “Muhammad; Lelaki Penggenggam Hujan” dan dua buku setelahnya karya Tasaro GK. Diberi julukan Sang Pemindai Surga. Tokoh yang menjadi cerminan bagi semua manusia. Ya, setiap kita adalah Kashva.

 

12 Februari 2016

Alya

Advertisements
This entry was posted in #30HariMenulisSuratCinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s