Tetanggaku Idolaku

Halo, tetanggaku yang keren.

Kamu pasti kaget menerima surat ini. Kita memang jarang bertegur sapa. Karena itulah kupilih untuk menulis surat saja daripada mengatakan langsung padamu. Kupikir lebih baik begini daripada kita bertemu. Sebab aku tak menjamin kalau aku bisa menahan diri.

Kamu tidak tau kan kalau aku sering memikirkanmu. Jangan Tanya sejak kapan. Sejak aku pandai menata rambut sendiri dan memilih baju apa yang ingin kukenakan setelah mandi aku sudah mulai memikirkanmu.

Sebenarnya sudah lama aku menyimpan rasa padamu. Iya, kamu.

Meski jarak kita cuma beberapa langkah, hanya dipisahkan oleh tembok yang bisa dipanjat jika tidak mengenakan rok. Tapi aku tak pernah berani berhadapan denganmu. Kadang jika aku mau keluar rumah, lalu mendapatimu hendak melakukan hal yang sama aku cepat-cepat masuk ke rumah lagi. Diam-diam aku mengintipmu. Setelah aku yakin kau sudah benar-benar pergi, barulah aku keluar. Aku takut salah tingkah di hadapanmu. Aaah, repotnya jadi tetanggamu. Setiap kali ingin keluar rumah harus lihat kanan-kiri dulu untuk memastikan kalau kondisinya sepi.

Pernah aku merasa ingin pindah rumah saja. Tak kuat aku sering-sering bertemu denganmu. Tapi siapalah aku ini mau memutuskan pindah rumah. Aku sadar kalau selama ini cuma numpang di rumah milik orangtua. Tak satu batapun dari bangunannya dibeli dengan uangku.

Tapi aku harus bagaimana?

Apa-apa kamu… sedikit-sedikit kamu… kamu lagi, kamu lagi.

Bahkan sejak aku masih kecil, kamu sudah menghantui hidupku. Ayolah tetangga keren, tidak bisakah kau merasakannya tanpa harus kuberitahu? Percaya atau tidak, kamulah yang menentukan seperti apa aku harus hidup. Iya, aku serius. Sungguh hidupku ada di tanganmu.

Saat aku masih SD, kata mama aku tidak boleh teriak-teriak. “apa kata tetangga?”.

Tarus pas aku SMP, mama bilang kalau rokku jangan terlalu pendek. “apa kata tetangga?”.

Saat aku sudah SMA, aku tidak boleh sering-sering mengajak teman-temanku (yang kebanyakan laki-laki) main ke rumah. Lagi-lagi , “apa kata tetangga?”.

Sekarang jilbabku tidak boleh lebih panjang lagi. Aku harus kerja kantoran. Aku tidak boleh keluar malam. Dan masih karena, “apa kata tetangga?”.

Bahkan sampai masalah rumahku mau diatur seperti apa juga harus mempertimbangkan apa katamu.

Jadi aku harus tinggal di rumah terus dan tidak usah keluar-keluar saja, begitu? Terus kalau Mama membeli perabot baru, untuk mengirimnya harus pinjam “pintu kemana saja” milik Doraemon biar tak terlihat olehmu? Terus kalau teman-temanku mau datang ke rumah mereka harus naik UFO biar bisa parkir di atap rumah dan turun langsung ke kamarku tanpa melewati pagar?

Aduh. Tolonglah, permintaanmu jangan macam-macam yah! Aku kerepotan untuk memenuhinya… Aku lelah terus-menerus memikirkanmu tanpa ada sedikitpun tanggapan darimu. Mengertilah sedikit perasaanku.

Bodohnya aku pernah berharap kita akan berakhir seperti adegan-adegan FTV yang happy ending. Dasar fiktif, yang seperti itu memang cuma ada di TV.

Ah sudahlah, aku juga sudah membuat keputusan. Setelah mengirim surat ini, aku akan berhenti memikirkanmu. Aku tidak akan peduli apa yang kau katakan. Aku tidak akan lagi memasukkanmu dalam pertimbangan setiap akan melakukan sesuatu. Cukuplah pengetahuanku saja yang menuntunku melakukannya. Meski Mama terus saja mengingatkan “apa kata tetangga?” aku tidak akan peduli lagi. Jadi tak perlu balas suratku. Setelah membacanya dan kamu mengerti perasaanku saja itu sudah cukup.

Tenanglah, kamu masih tetap keren kok tetangga.

 

Untuk orang yang tinggal di sebelah rumah orang lain.

3 Februari 2016

Alya

Advertisements
This entry was posted in #30HariMenulisSuratCinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s