Adil Sejak Dalam Pikiran

Tadi malam, saat saya dalam perjalanan pulang, seorang pengendara motor dan mobil berseteru di pinggir jalan. Si pengendara mobil gusar karena bagian kiri mobilnya penyok ditabrak seorang pengendara motor. Ia meminta ganti rugi atas kerusakan tersebut. Pengendara motor yang terjatuh dan mengalami lecet pada siku kirinya itu nampak tak banyak bicara. Orang-orang yang berkumpul di lokasi tersebut pun mulai banyak yang berkomentar.

“Memang tong itu orang kaya, begitu sekali. Biarkanmi itu kasian kah luka tongmi orang. Banyak tonji juga uangmu.” (Dasar orang kaya. Keterlaluan. Biarkanlah saja, kasihan dia terluka. Kamu kan juga punya banyak uang).

Suara yang lain mengatakan, “kenapami ini orang, ditauji ada mobilmu. Begituji saja, minta ganti lagi. Masa kau bisa beli mobil, perbaiki begitu saja tidak bisa”. (Tidak usah begitu dong, kami tau kamu punya mobil. Cuma begitu pakai minta ganti. Kalau kamu bisa beli mobil, memperbaiki begitu saja masa tidak bisa).
Saat tabrakan itu terjadi, saya berada di belakang mobil tersebut. Mobil yang hendak belok kiri itu tiba-tiba disalip juga dari sebelah kiri oleh pengendara motor dengan kecepatan yang cukup tinggi. Saya tahu, sebab dari beberapa meter sebelum belok, mobil itu sudah memberi peringatan dengan menyalakan lampu sein. Tapi pengendara motor tetap nekat ingin mendahului. Walhasil, bagian kiri mobil tertabrak oleh pengendara motor. Saya sebagai orang yang melihat kejadian itu merasa tidak bisa membenarkan kelakukan si pengendara motor. Namun sepertinya memang sudah aturan alam, kalau mobil dan motor mengalami kecelakaan maka bagaimanapun si pengendara mobil yang bersalah. Saking seringnya argument ini muncul, akhirnya pelan-pelan dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Orang-orang miskin (tanpa bermaksud mengeneralisir bahwa pengendara motor pasti miskin) jadi kerap merasa selalu menjadi korban meski terkadang mereka juga jelas-jelas melanggar aturan.

Saya jadi teringat sebuah kasus yang sempat ramai dibicarakan. Tentang mobil Lamborgini yang menabrak bakul penjual jajanan di pinggir jalan. Selain bakul, ia juga menabrak penjual dan dua orang pembelinya yang mengakibatkan mereka terluka. Berbagai analisa pun dibuat. Si pengendara mobil disalahkan atas kejadian ini. Pengendara mobil dengan harga yang angka nolnya sampai Sembilan digit dan hanya ada 200 unit di dunia ini dituduh mengemudi secara ugal-ugalan. Ya, bisa saja mungkin si pengendara mobil sedang asyik balapan tanpa ada niat melukai siapapun tentunya. Persoalan kenapa balapannya di jalan raya dan bukan di jalan tol saya kira bukan poin yang relevan. Mengingat film Fast and Furious yang memperlihatkan aksi ugal-ugalan di jalan raya itu tidak dicekal masyarakat kita, malah ramai ditonton.

Si penjual jajanan ini juga perlu dipertanyakan. Kenapa dia bisa ada di pinggir jalan raya? Punya izin menjual di situ atau tidak? atau bolehkah bakulnya diletakkan di bawah trotoar?
Yah memang harus begitu kan. Sejumlah pertanyaan ini harus dijelaskan sebelum kita melayangkan vonis tentang siapa yang bersalah.

Saya jadi berpikir, mungkin saja ada grand design politik adu domba antara si kaya dan si miskin di negeri ini. Kalau tidak salah, politik devide et empera namanya. Pertentangan antar kelas yang sengaja dibuat biar kita tidak bisa bersatu menjadi kelompok dengan kekuatan yang lebih besar atau mungkin biar kita terpecah-belah agar lebih mudah ditaklukkan. (Terkesan lebay yah? namanya juga pendapat. Kalian tau kan apa yang dimaksud dengan “pendapat”?).

Kalau si kaya dan si miskin berseteru, si miskin jadi tokoh yang dikasihani dan harus selalu dibela, sedang si kaya jadi tokoh yang jahat dan harus dilawan. Terlepas dari fakta bahwa memang banyak penindasan yang terjadi dalam bentuk demikian, tapi saya kira bukan berarti kita mengabaikan hal-hal rasional. Meski tak ada yang benar-benar objektif, mari kita menilai sesuatu seobjektif mungkin. Kata Om Pram, kita kan sudah harus adil sejak dari dalam pikiran. Bukan begitu?

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s