I Love You Son

12615199_10153942832850127_7393972266667378695_o

Halo, Namaku Maniang.

 

“Hati-hati kalau mendaki gunung, nanti bisa terjatuh!”

“Kenapa kita bisa jatuh?”

“Karena ada gaya gravitasi.”

“Apa itu gaya gravitasi?”

“Gaya gravitasi itu adalah gaya tarik bumi yang bisa membuat benda yang berada di atas jatuh ke bawah.”

“Tapi kan kita bisa berhati-hati.”

“Iya, tapi kalau mendakinya malam kan kemungkinan untuk menemui bahaya jadi lebih besar.”

“Kenapa bisa?”

“Karena kalau malam kan gelap. Kita sulit melihat.”

“Kan ada lampu senter”

“Cahayanya tidak cukup terang.”

Jadi harus bagaimana?

“Kita harus menunggu matahari terbit supaya cahaya lebih terang. Kalau malam, tempat yang kita tinggali membelakangi matahari jadi hanya ada bulan yang mendapat pantulan cahaya dari matahari.”

Aku ingat sekali percakapan ini denganmu. Saat suatu malam aku bersama beberapa teman berencana mendaki gunung pada pukul 02.00 dini hari. Kamu bilang kalau aku harus dinasehati karena mau melakukan sesuatu yang berbahaya. Waktu itu aku mengingat-ingat, diusia 5 tahun sepertimu, apa yang kutahu soal gravitasi? Ah, mengetahui ada kata seperti itu saja mungkin aku tidak. Sementara kau menjelaskannya dengan benar. Sulit kupercaya.

Kata seseorang, kamu juga pernah menjelaskan sifat cahaya kepadanya. Kau sengaja mematikan lampu dan menyalakan senter lalu meletakkannya di pojok ruangan sambil berkata “Senter ini harus diletakkan di pojok supaya cahayanya menyebar. Kalau ditaruh di situ (meja yang berisi banyak benda) cahaya akan terbentur benda-benda, kecuali oleh benda yang bening.”

Waduh… Ampun!

“Kenapa coto disajikan dengan ketupat?”

“Kenapa bukan dengan nasi saja?”

“Terus kenapa harus pakai mangkok kecil?”

“Supaya apa ada jeruk nipis?”

“Bagaimana cara membuatnya?”

Begitulah kamu juga pernah mencecarku dengan pertanyaan. Kamu ingat kan? membuatku jadi ditertawai orang di warung makan gara-gara menjawabnya dengan “mmmm, anu… itu… mmmm” sambil garuk-garuk kepala.

Harus kuakui memang butuh ekstra kesabaran untuk meladeni keingintahuanmu yang besar. Dan butuh kecerdasan juga tentunya. Kadang aku sampai harus minta bantuan mbah google dulu untuk menjawabnya.

Satu lagi pengakuan yang ingin kusampaikan. Pernah suatu hari saat aku bertandang ke rumahmu. Kamu langsung menghambur “ayok kita diskusi tentang ekonomi!” pintamu.

Toeng… sejumlah keresahan berseliweran di kepalaku. “Oh my God, cobaan apa lagi ini???” Pikirku.

“Maaf yah, aku buru-buru jadi kita tidak bisa berdiskusi sekarang. Lain waktu saja yah!” Sebenarnya aku cari alasan. Hehe…

Katanya, saat kau mulai memasuki taman kanak-kanak,  gurumu sampai kewalahan menjawab semua pertanyaanmu. Sampai-sampai ia bilang kalau mulutmu harus dikunci. Jahat yah guru itu… padahal dialah yang tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanmu bukan pertanyaanmu yang salah. Harusnya gurumu cari alasan saja seperti aku. (membela diri, hehe).

Nampaknya orang dewasa perlu belajar darimu. Mereka harus mulai mempertanyakan banyak hal di dunia ini dan berhenti mewajarkan segalanya. Berubah menjadi anak kecil yang menganggap aneh segala sesuatu kemudian mencari tahu. Tidak merasa mapan dengan pengetahuan yang mereka miliki.

“Bagaimana yah bisa bikin anak kayak begini?” Aku bertanya sendiri kalau melihatmu. Untuk pertanyaan ini, kurasa orangtuamulah yang bisa menjawabnya. Yang pasti harus jadi orangtua yang cerdas dulu. Bagaimana mau memberi kalau tidak memiliki. Bagaimana mau mencerdaskan orang lain kalau kita tidak cerdas. Iya kan?

Aku kadang iri kepadamu. Kamu punya semua hal yang diimpikan anak kecil. Kebebasan berpendapat, bisa mencoba segala sesuatu yang baru, boleh berkenalan dengan siapa saja, boleh main hujan, boleh pulang dengan baju kotor, boleh begadang, boleh bercita-cita apa saja, dan ‘boleh-boleh’ lainnya yang seringkali tak diperoleh anak-anak seusiamu.

Tak bisa kubayangkan, secerdas apa kau saat besar nanti. Dulu kamu bilang kalau besar ingin jadi petugas PLN, supaya bisa menyalakan semua lampu. Waaah, cita-cita yang sangat visioner. Bukan ingin jadi pilot atau dokter seperti yang selalu kudengar dari anak kecil sepertimu.

Ah, Andai saja usia kita tak terlampau jauh. Aku rela menunggumu sampai dewasa. Hahaha…

I love you Maniang. Jangan malas makan yah! Supaya tidak diterbangkan angin puting beliung. 😀

1 Februari 2016

Tante Alya

Advertisements
This entry was posted in #30HariMenulisSuratCinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s