Teman Hidup

Setelah cukup lama berpikir, surat cinta yang pertama akhirnya kutujukan pada teman hidupku. Teman yang tanpanya duniaku menjadi gelap. Teman yang bersamanya, aku melihat dunia ini.

Butuh waktu lama memilihnya, menemukan yang pas dan merasakan chemistry yang terbangun. Setelah itu, menyesuaikan diri bersamanya.

Ia, sebuah benda dengan dua buah lensa cembung. Alat bantu melihat yang disebut kacamata. Benda yang telah bersamaku sejak berusia 13 tahun.

Surat cinta yang pertama ini untuknya. Bagaimana tidak, ialah yang membuat duniaku jadi bercahaya. Tanpanya, aku tak dapat menyaksikan hal-hal indah dalam hidupku.

Kacamataku, kau membantuku mengenali banyak orang dari jauh. Karenamu, aku jadi tak dianggap sombong karena tidak membalas senyuman orang padaku yang sebenarnmya tak bisa kulihat langsung dari jauh. Aku bahkan sempat ketakutan, “kenapa wajah semua orang sama?”. Semenjak ada dirimu, dunia terasa indahnya (mirip lirik sebuah lagu yah? hehe). Aku jadi sadar kalau matakulah yang bermasalah, bukan wajah dari orang-orang yang kulihat.

Kau pernah membantuku mengembalikan peringkat nilaiku di kelas yang sempat menurun karena tak bisa melihat apapun di papan tulis. Keberadaanmu membuatku bisa lolos dari keinginan Ayah menjadikanku seorang Polwan. Kau juga membuat orang-orang memberi image cerdas dan kutu buku kepadaku (narsis dikit boleh kan). Kau menjadi alasan ketika aku salah mengenali orang atau menabrak seseorang. Tinggal bilang “maaf, maklum orang berkacamata. Penglihatannya kurang jelas”. Beres deh!

Kacamataku, kau memang paling bisa diandalkan.

Jika kau menghilang, aku jadi kalang-kabut. Rasanya seperti kehilangan sebagian dari diriku. Jadi janganlah jauh-jauh dariku! Ku tak bisa tanpamu…

Maaf yah, karena pernah berkata “andai aku bisa membayar untuk berhenti menggunakan kacamata, akan kubayar berapapun itu”.

Tapi tunggu dulu! kurasa kau pun tak bisa hidup tanpaku. Kenapa semakin hari tingkat ketebalan lensamu bukannya berkurang malah terus bertambah. Awalnya hanya minus 1,5. Sekarang malah bertambah jadi 3. “bilang saja kalau kau pun tak mau lepas dariku… Iya kan?”.

Oke, harus kuakui kau telah menjadi bagian dari diriku. Sama halnya seperti kelima indraku. Aku denganmu adalah satu kesatuan. Saling melengkapi.

Oh tidak, Kaulah yang melengkapiku.

Terima kasih telah jadi teman hidup yang selalu setia.

10322790_10201680012154186_8090795030277728245_n

Kebersamaan kita

31 Januari 2016

Alya

Advertisements
This entry was posted in #30HariMenulisSuratCinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s