CERMIN

Cermin sebagaimana kita ketahui bersama adalah alat untuk melihat refleksi diri. Berkaca. Berhias menata diri, yang tak jarang secara tersembunyi menjadi alat untuk mengagumi diri sendiri.
“Ternyata… aku ganteng juga.”
“Aku memang cantik.”
Kemudian tersenyum sendiri dalam sepi.
Seperti kalian,  aku juga punya sebuah cermin. Kugantung ia di dinding kamar. Kebiasaanku berdiri di depan cermin. Ketika mempersiapkan diri untuk keluar rumah, merapikan rambut, menata bedak… terkadang malah tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri dan memperhatikan diri sendiri. Sesekali memiringkan kepala dengan melempar tatapan melalui mata terpicing, memainkan rambut… kemudian… berdiri dengan wajah angkuh.
Cermin itu, Setiap hari aku berhadapan dengannya. Meneliti setiap inci dari wajahku. Adakah yang salah? adakah yang kurang? Jika jawabannya “masih ada”, belum kutinggalkan ia. Kadang aku terlalu lama di depannya, sebab ia tak pernah bohong. Jujur apa adanya. Ketika satu dua jerawat nangkiring di pipiku, kantung mata yang besar, kerutan di kening yang semakin banyak, kulit wajah yang kusam. Cermin itu tak pernah menutup-nutupinya.
Ia juga tak pernah memberi komentar apa-apa. Mencela kondisiku saat itu misalnya. Tidak! Ia tidak memberiku nilai buruk. Ia selalu menyampaikan apa adanya diriku. Dan justru karena itu aku sering bingung sendiri bahkan gelisah di depannya.
 Aku punya banyak rahasia dengan cerminku . Aku sering mengajaknya bicara. Menyampaikan segala uneg-unegku, kegundahanku, kegembiraanku, amarahku, kejengkelanku, kebangganku, kesedihanku… semuanya.. Ia tahu apa yang tak diketahui orang tentangku.
Cermin di kamarku itu tahu, betapa bangganya aku ketika dinyatakan lulus di universitas impianku. Cermin itu tahu, kejengkelanku pada teman yang selalu meminjam bukuku dan lupa mengembalikannya. Bahkan meskipun sudah kuminta. Cermin itu juga merekam amarahku saat seorang laki-laki berbuat kurang ajar padaku. Atau tentang kebingunganku akan melakukan apa di masa depanku. Bahkan semua kehancuranku saat melawati setiap kegagalan-kegagalan dalam hidupku tersimpan rapi dalam lapisan beningnya. Cerminku bahkan yang paling lebih dulu tahu jika aku merencanakan sesuatu esok hari.
Kau tahu… banyak orang yang membuatku iri.
“kenapa mereka lebih baik dariku?” itu hal wajar.
“tidak, tidak bisa. Aku benci kekalahan…” tapi memang seperti itulah kehidupan.
“bagaimana mungkin aku tinggal diam saja, membiarkan diriku semakin tertinggal jauh…”
Aku menatap lekat pada cermin. Dari permukaannya yang bening, terlihat jelas wajahku yang menegang dan memerah. Cerminku hanya memintaku untuk melihat diri sendiri lebih lekat. Lebih melekat. Mendekat. Rapat.
Hari ini aku bercermin lagi. Kutatap baik-baik sosok di hadapanku.
“Sebenarnya seperti apa diriku? Apakah sama seperti yang kau tampilkan dihadapanku sekarang?”
Seperti biasa, cermin itu diam tak menajawab.
“Apakah padamu saja aku bisa mengetahui siapa diriku?”
Aku berpikir, apa hanya bidang datar itu yang bisa kujadikan cermin untuk mengetahui bagaimana diriku.
Ternyata cerminku hanya setengah badan. Membuatku tak tahu siapa diriku sepenuhnya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s