Jawaban dari "Kenapa"?

Sudah tak terhitung berapa kali ia bercerita tentang hal itu. Tentang kesalahan sesorang di masa lalunya. Meski sudah begitu lama tapi aku salut pada kemampuannya mengingat setiap detil kenangan itu. Mari kutuntun kalian, dimulai dari malam yang dingin saat ia pulang dengan kehujanan. Suara tangis ibunya terdengar saat ia berdiri di depan pagar rumah mengalahkan suara hujan. Ini bukan pertama kalinya, sudah berkali-kali ia mendapati Ibunya menangis saat pulang. Tak pernah sekalipun ia mencoba bertanya, tak kuasa ia menatap mata Ibunya.

Tiga tahun yang lalu saat  Ayahnya memutuskan untuk pensiun dini ditengah kondisi keuangan yang kritis. Kejadian ini mulai menjadi suatu kebiasaan tak terhindarkan. Ia dan ketiga adiknya yang masih sekolah seolah menjadi satu-satunya objek pertengkaran. Tak ada penyebab lain dari pertengkaran itu selain biaya sekolah adik-adiknya, biaya kuliah dan biaya hidup mereka. Hingga tiba suatu malam itu, ia masih berdiri mematung di depan pagar. Mendengarkan suara tangis Ibunya. Tak lama Ayahnya keluar dari rumah, membawa sebuah koper dan berjalan melewatinya. Tak satupun kata yang keluar malam itu, hanya terlihat punggung Ayahnya yang semakin menjauh hingga tertutupi gelap malam.

Itulah saat terakhir ia mendengar pertengkaran di rumahnya. Tak ada lagi tangis Ibunya. Namun semua berjalan semakin sulit, Ibunya harus banting tulang berjualan kue untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia pun terpaksa kuliah sambil bekerja menjadi pegawai di tempat spa. Sejak saat itu ia bersumpah, jika Ayahnya kembali maka ia adalah orang pertama yang mengecam itu. Setiap bertemu dengannya, tak pernah sekali waktupun ia lewatkan tanpa mengumpat. Berbagai tuduhan ia lontarkan pada Ayahnya.

Ayahnya benar-benar kembali. Berdiri di depan pagar dengan basah kuyup seperti ia saat malam di tiga tahun yang lalu. Tak ada apa-apa yang dibawanya, tubuhnya semakin kurus dan pakaiannya lusuh. Adiknya membukakan pintu, tapi Ayahnya tak bergerak sedikitpun. Ia terus menatap ke dalam rumah seperti menunggu seseorang keluar. Tak berapa lama kemudian Ibunya pun menghambur keluar memeluk Ayahnya. Untuk pertama kalinya sejak tiga tahun yang lalu ia melihat lagi Ibunya menangis. “Dari mana saja kau?” sahut Ibunya. Hanya kata maaf yang terlontar dari mulut lelaki itu.

Semua berbahagia kala itu, kecuali dia. Dia masih tak habis pikir bagaimana mungkin kepulangan setelah menghilang selama tiga tahun bisa disambut seperti itu. Ia merasa harus memberi hukuman pada perilaku Ayahnya yang begitu kejam. Sampai hari ini, sejak Ayahnya pulang, ia mengaku tak pernah sekalipun berbicara padanya.
“ini semua salah dia, andai saja dulu dia tak memilih pensiun dini, andai ia tak pergi meninggalkan rumah, kami tak perlu hidup sekeras ini.”

Hanya sekali aku pernah menyahut saat ia bercerita tentang itu, “apa kau tahu kenapa Ayahmu pensiun dini dan kenapa ia pergi meninggalkan rumah?” tapi ia menggeleng. Sejak itu aku tak pernah bertanya lagi, meski cerita itu terus diulangnya.

Jika memang harus hidup dengan membenci, setidaknya kau punya jawaban dari pertanyaan “Kenapa”. Tapi bagaimana pun, harusnya kau tak perlu hidup seperti itu.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s