Sulitnya Maaf

 Maaf, empat huruf yang terlihat sederhana. Tapi punya makna yang sangat dalam. Pernahkah kau mengucapkannya? Maaf itu, pada siapa?
Setiap dari kita tentu pernah melakukan kesalahan, sekecil apapun itu. Tapi apa kita menyadarinya? Itulah yang menjadi permasalahannya. Kita seringkali sulit bahkan tidak mau mengakui kesalahan yang telah kita perbuat. Kenapa? Mungkin karena kita merasa sempurna sehingga berbuat kesalahan adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Dalam tingkatan ego, ego diri merupakan ego yang paling besar. Jika kita tak mampu mengendalikannya dengan baik, ia akan menjadi sangat besar dan buas. Sehingga membuat kita hanya mementingkan diri sendiri.
Sigmen Freud dalam teorinya Psikoanalitik membagi kepribadian menjadi tiga unsur yaitu id, ego, dan superego. Ego memastikan bahwa apa yang timbul dari keinginan id yang didrorong oleh prinsip kesenangan dan kepuasan itu, dapat direalisasikan di dunia nyata. Kemudian superegolah yang memberikan pedoman untuk pembuatan nilai yang dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat.
Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Maka dalam hal ini egolah yang berperan dan berusaha memuaskan keinginan dengan berbagai cara. Entah cara apa yang akan dipilih, hanya kemampuan menajemen ego kitalah yang akan menentukannya.
Lantas ketika kita tahu bahwa kita melakukan kesalahan, bagaimanakah ego itu bekerja? Masih ada pedoman terakhir untuk membentuk penilaian. Dialah superego, aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral yang diperoleh dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Artinya segala penilaian pun menjadi tergantung pada lingkungan keluarga dan masyarakat. Meski kita tak bisa memilih dari rahim mana kita dilahirkan, tapi kita dapat memilih di lingkungan mana kita ingin bergaul. Memilih tempat bergaul, yaa… itu penting. Seorang bijak pernah berkata, jika ingin melihat sesorang, lihatlah dari teman bergaulnya.
Mengakui kesalahan itu memang sulit. Tapi jika kita tak pernah mengakuinya maka kita tidak akan pernah tau tentang kebenaran. Selamanya kita akan terjebak pada kesalahan itu. Dan jika anda memilih untuk tak pernah meminta maaf, mungkin ego anda setipis kertas yang mudah sobek. Hanya mereka yang berjiwa besar yang tahu cara meminta maaf.
Setelah berbicara tentang sulitnya meminta maaf. Ada satu tugas lagi, bagaimana dengan memaafkan?
Itu lain soal, mungkin akan kita bahas di lain waktu…

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s