Terima Kasih Kucing

Pagi yang sejuk, meski dinikmati dengan tidak tidur semalaman. Dari tadi malam pintu kamar terbuka. Entah ada huhungannya atau tidak, tapi sepertinya jaringan internet  lebih bagus dibanding kalau pintunya kututup.

Pagi-pagi sekali, seperti ada yang berseliweran di depan pintu. Dari tadi bolak-balik. Seekor binatang berkaki empat, berbulu coklat. Kucing itu, yang sering mengikuti dari belakang kalau ada penghuni yang turun. Pagi-pagi sekali, ia sibuk. Entah apa yang menyibukkannya.

Aku merangkak ke daun pintu, kuintip aktivitasnya. Seperti biasa, tiga ekor anaknya berumur sebulanan itu menumpuk-numpukkan badan mereka satu-sama lain. Di bawah kursi plastik di sudut beranda, tempat biasa mereka tidur setelah keset kaki kubawa masuk setiap mau keluar. Aku tidak mau terulang lagi ia buang kotoran di atasnya.

Ibu kucing masih sibuk bolak-balik. Kulihat semua tempat sampah di depan kamar kos tergeletak. Pasti dibongkarnya tadi malam mencari-cari sisa makanan yang dibuang. Kuusir kucing itu, ia meraung. Kutendang dengan kaki, ia malah melompat mendekatiku. Aku hampir jatuh dibuatnya hingga tak sengaja aku menginjak ekornya. Tapi ia malah menggigit kakiku sampai berdarah. Ah, ini bukan kebiasaan kucing. biasanya Ia mencakar. Aku baru tau kalau kucing juga bisa menggigit. Oooh, sakit sekali. kulihat kucing itu berlari pergi meninggalkanku yang kesakitan.

Tidak lama ibu kucing kembali, ia membawa sesuatu di mulutnya. Kepala ikan, entah dipungut darimana. Langsung ia sodorkan pada ketiga anaknya. Tidak  butuh waktu lama, kepala ikan sudah habis disantap bertiga. Kecing turun lagi. Kali ini lebih lama, sampai akhirnya ia kembali membawa paha ayam yang dagingnya sudah tercabik-cabik. Untung saja masih ada orang-orang mubasir yang tidak menghabiskan makanannya. Disodorkan lagi kepada tiga anaknya. Cepat-cepat ia turun lagi dan tak lama kembali membawa sayap ayam dengan kondisi yang sama. Semuanya untuk ketiga anaknya. Ia lalu duduk mengawasi mereka makan.

“ternyata anak-anakmu kelaparan…” gumamku dalam hati. Kaki yang berdarah bekas gigitannya kututupi dengan tisue sambil kutiup-tiup. Sambil memperhatikan mereka aku berpikir. Ternyata kucingpun melawan saat ditindas. Tapi kenapa manusia malah masih bertanya-tanya “kita sedang ditindas atau tidak yah?” 

Kucing pun punya kasih sayang. Tapi kenapa manusia saling menyakiti?

 

Selamat menikmati sarapannya anak-anak kucing. Kali ini aku tidak bisa marah di pagi hari gara-gara tempat sampah yang berhamburan di depan kamar.

Melawan dan menyayangi itu memang naluri. Kucing pun tau itu.

Makasih Cing… 🙂

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s