BBM Dan Telepon Di Pagi Hari

 

Setelah BBM resmi dinaikkan pukul 00.00 hari ini. Kupilih mematikan televisi lalu tidur. Berharap saat bangun nanti aku menyadari kalau ini  ternyata hanya mimpi.
Pukul 05.00 subuh, dering ponsel membangunkanku. Samar-samar kubaca tulisan di layar  “Big Bos”, nama yang kupasang untuk kontak Bapak.
“Halo… Ayo bangun Sholat Subuh” kata suara diseberang sana.
“Eeemmm…” jawabku sambil masih mengumpulkan nyawa.
Usai Sholat Subuh ponselku kembali berdering, kulihat di layar masih dengan nama yang sama.
“Halo Pak”
“Halo…” kali ini bukan Bapak, tapi suara maha lembut. Itu suara Mama.
“Iya Ma, ada apa?”
“Harga BBM sudah naik yah. Mama baru liat di televisi.”
“Iya Ma, pengumumannya tadi malam” kataku. Aku pun sekarang sadar kalau berita semalam memang bukan mimpi. Harga BBM benar-benar naik… Lagi.
“Jadi bagaimana disana? Perlu dikirmkan uang tambahan”
 “Belum butuh Ma” Jawabku singkat.
“Telepon cepat sebelum uangmu habis ya.”
Sontak saja mendengar berita kenaikan BBM maka yang terpikir adalah efek yang ditimbulkannya. Kenaikan harga BBM sebagai bahan produksi dan distribusi utama tentu menyebabkan kenaikan pada semua harga barang. Aku yang sudah memutuskan tak minta uang lagi pada orangtua memang mulai merasa cemas.
Ma, harusnya kau tak perlu mengurangi kebutuhan belanja perbulan karena harga yang melonjak naik. Harusnya kau tak perlu lagi menyisihkan uang jajan khusus untukku. Jika saja pemerintah disana tak sekejam itu… Kau tentu kerepotan memodifikasi daftar belanja bulanan agar bisa pas dengan penghasilan Bapak per bulannya. Tapi mungkin gaji pegawai akan naik Ma, mungkin… Tapi entah kapan.
“Mama lihat di televisi, mahasiswa Makassar demonya ricuh. Kamu hati-hati disana.”
Kau pasti melihat berita tentang aparat yang menyerang kampus dan melukai mahasiswa. Kalau saja yang sering kau nonton adalah talk show kau pasti tak menanyakan ini padaku. Sebab di  sana juga kau akan melihat banyak mahasiswa, mahasiswa yang duduk manis dan rapi. Nampak ceria dan bahagia bertepuk tangan saat diminta. Seolah tak terjadi apa-apa.
Aparat itu Ma, mereka memang benar-benar brutal. Jika saja mereka melaksanakan tugasnya dengan baik tentu kau tak perlu sekhawatir ini. Aku pun khawatir sepertimu Ma, aku khawatir sebab keadilan dan kemanusiaan telah lenyap darinya. Entah dimana. Mereka tak lagi hadir sebagai pelindung. Kami justru dilihatnya sebagai musuh dari  kekuasaan bejat yang mereka lindungi.
Karena hal itu, nasehatmu pun kuterjemahkan sendiri menjadi “Kalau demo hati-hati yah!!!”.
Tentu kau tak menyekolahkanku untuk tinggal diam dan sibuk menghambur uang bukan? Atau menjadi manusia yang tak bertanggung jawab dan melupakan konsekuensi pengetahuannya?
Jika suatu saat kau harus memarahiku karena pilihanku, aku tahu itu karena kau mencintaiku. Dan percayalah Ma, pilihanku ini dikarenakan alasan yang sama kepadamu.
“Iya Ma, tenang saja. Doakan selalu ya…”
Tiit…Tiit… (Telepon dimatikan)
Selasa, 18 November 2014.
Sedikit demam setelah kehujanan saat demo kemarin sore.
IMG_20141114_211413

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s