‘nya’ = aku

Fyuuuhh…. Dihempaskan tubuhnya di atas kasur yang sedikit berdebu. Entah sudah berapa minggu, mungkin sebulan, ia tak pernah punya waktu untuk merebahkan diri di atasnya. Menyapa boneka bebek berwarna kuning yang sepertinya sedikit lebih akrab dengannya dibanding orang-orang yang sudah tiga tahun menjadi tetangganya. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Entah apa… ia termenung, dilihatnya gelas yang terjatuh di depan lemari saat ia minum dengan terburu-buru sebelum pergi. Warna hitam bekas tumpahan kopi yang mengering pun memenuhi lantai.

Beberapa hari yang lalu, saat tiba di kamar, lekas ia menarik handuk dan mandi sekedarnya. Kurang dari 20 menit, pakaianya sudah berganti. Ingin rasanya ia menyalakan TV barang 5 menit, agar benda berbentuk kubus itu tak betul-betul beralih fungsi menjadi pajangan. Aaah, tak ada waktu untuk itu.

Diraihnya tas ransel abu-abu yang setia menemani kemanapun ia pergi. Ia selalu merasa perlu meminta maaf padanya. Seringkali ia memaksakan barang-barang untuk masuk melebihi bobot tas itu. Juga pada PC dan buku-buku serta perlengkapan lainnya yang berdesak-desakan di dalammnya. Tapi kali ini, isi tas itu dikosongkan, diganti dengan beberapa potong pakaian.

Tak lupa pada kacamata merah marun yang melengkapi hidupnya. Bagaimana tidak, tanpa kacamata itu dunianya menjadi kabur, begitu suram. Tak mudah ia menjatuhkan pilihan pada benda dengan dua buah lensa cembung itu. Butuh waktu yang lama mempertimbangkannya. Baginya, memilih kacamata seperti memilih teman hidup. Butuh chemistry tersendiri.

“Maaf, hari ini kau tak ikut bersamaku” Sapanya pada sepeda motor matic miliknya. Sepeda motor yang sudah pernah menemaninya ke berbagai pelosok desa, bahkan membawanya menanjaki bukit yang sangat terjal dan berbatu. Sepeda motor itu paling mengerti dengan kegilaannya mengunjungi banyak tempat. Sungguh teman yang sangat tangguh. Tapi kali ini memang tak mungkin mengajaknya. Ia akan pergi beberapa hari, cukup jauh. Ia takut, jangan sampai dialah yang tak mampu mengimbangi ketangguhan sepeda motor itu.

“Mau pergi lagi Kak?” sapa tetangga kamarnya. Ia tak tau namanya, dan tak pernah mencoba mencari tau meski sudah tiga tahun bertetangga. Mungkin lia, atau mungkin ika. Begitu ia sering mendengar nama tetangganya dipanggil saat ada tamu yang datang. Hanya senyum yang ia berikan sebagai jawaban atas pertanyaannya. Ia rasa tak perlu memberi jawaban apa-apa, tetangganya sudah paham dengan aktifitasnya. Pun pertanyaan itu hanya basa-basi saja, hampir setiap kali hendak berangkat ia disapa dengan pertanyaan itu. Hanya ketika ada tagihan listrik saja pembicaraan mereka menjadi lebih panjang.

Kali ini bus besar berkapasitas 30 orang membawanya pergi. Putaran roda bus mengiringi pikirannya yang entah kemana. Beberapa orang seringkali menasehati, “luangkanlah waktu, jangan terlalu banyak kesibukan, berenang-senanglah” entah apa makna bersenang-senang yang dimaksud orang-orang itu. Selama ini ia merasa senang.

***

Ia ingat, 5 tahun yang lalu. Ia berpamitan pada kedua orangtuanya untuk pergi ke kota. Sebuah kampus yang selalu kedengaran megah bagi mereka yang tinggal di daerah menarik perhatiannya. Kelulusannya pada jurusan yang diimpi-impikannya sejak berumur 13 tahun membawanya harus tinggal jauh dari orangtua.

Impian itu hadir tatkala kakak tirinya mengajak dia ikut serta pada sidang perceraiannya dengan suaminya. Satu sosok ditengah ruangan menarik perhatiannya. Sosok yang dengan mantap membacakan putusan sidang dan mengetuk palu. “Aku ingin jadi seperti orang itu” saat itulah ia menjatuhkan pilihannya.

Kepergiannya kala itu diiringi tangis ibunya yang memang tak pernah berpisah dengannya selama 18 tahun. Tapi ia justru bahagia, akhirnya bisa terbebas dari sikap otoriter Ayahnya. Profesi Ayahnya sebagai tentara baginya tetap bukan alasan yang bisa dibenarkan untuk bisa mengatur semua kehidupan orang, termasuk anaknya. Suara Ayahnya saat marah bahkan mengalahkan suara speaker yang diputar dengan volume paling besar. Ia Ayah yang mencintai anak-anaknya, hanya dengan metode yang berbeda, ia tau itu.

Lima tahun menjalani kuliahnya, ada banyak hal yang berubah dari tujuan awalnya datang ke kota itu. Di tahun ke lima, untuk segera menyelesaikan studinya pun sama sekali belum menjadi prioritasnya. Cita-cita untuk menjadi hakim telah dikuburnya jauh-jauh, bukan karena tidak mampu. Tapi seiring ia belajar, ia justru semakin merasa profesi itu semakin tak masuk akal. Bahkan jurusan tempatnya belajar terasa semakin tak cocok dengan jiwanya. Bukan karena ilmunya, tapi karena lingkungan dan kebiasaan orang-orang di dalamnya.

Aaah, selalu sulit ia menggambarkan. Toh orang-orang juga tak akan mengerti dengan yang ia rasakan. Ia hanya tak suka bercerita tentang model pakaian, tas dan sepatu terbaru. Ia tak suka bercerita tentang cara make up yang paling sempurna. Atau kehidupan para artis yang semuanya hanya fiktif, sementara kita ini nyata. Ia tak suka pergi ke mall atau tempat karaoke setelah jam kuliah, ia benci dengan kesibukan yang semuanya untuk kepentingan diri sendiri sementara kita tak diciptakan untuk hidup sendiri.

Ia selalu bingung dan bertanya-tanya, apa yang salah dengan dirinya. Kenapa ia justru jadi orang aneh di banyak tempat dan pergaulannya. Ia hanya orang biasa yang suka berdiskusi dengan banyak orang, mengunjungi banyak tempat. Hanya orang biasa yang sangat bahagia ketika bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk orang lain. Ia hanya orang yang tak bisa tinggal diam di dalam kamar dalam waktu yang lama tanpa aktifitas. Dimana letak salahnya?

***

Namun kepergiannya kali ini membawanya jauh pergi dari hiruk pikuk kota. Ke tempat di mana matahari terbit dan terbenam menjadi pemandangan yang luar biasa. Di mana pohon-pohon hijau bukan sesuatu yang langka. Anak-anak kecil berlari-larian di tengah jalan tanpa perlu takut tertabrak kendaraan yang melintas. Tempat di mana orang-orang yang ramah dan murah hati tak sulit dicari.

Gadis itu, setelah semua yang telah ia lewati. Ia selalu bermimpi bisa tinggal di tempat seperti itu. Sayang, tempat ini hanya untuk berkunjung sebentar, sebelum kemudian kembali menambah sesak jumlah penduduk kota.

Ia sadar, tak bisa berlama-lama di tempat itu. Segera, setelah tugasnya di tempat itu selesai ia kembali. Langkahnya yang gontai dengan tas ransel di punggung menaiki tangga. Perlahan ia memasuki kamar, fyuuuhh…. Dihempaskan tubuhnya di atas kasur yang sedikit berdebu. Entah sudah berapa minggu, mungkin sebulan, ia tak pernah punya waktu untuk merebahkan diri di atasnya. Menyapa boneka bebek berwarna kuning yang sepertinya sedikit lebih akrab dengannya dibanding orang-orang yang sudah tiga tahun menjadi tetangganya. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Entah apa… ia termenung.

Ia tau tak punya banyak waktu untuk bersantai. Tapi aktifitas selanjutnya yang menunggu kali ini tak dihiraukannya. Ada sesuatu yang dicarinya, entah apa. Dadanya sesak, air matanya mulai menetes. Ada kerinduan yang dalam… Sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Kali ini ia harus pergi, ada sebuah perjalanan panjang yang harus ia lalui. Sebuah perjalanan yang berbeda dari sebelumnya. Sesuatu yang dicarinya itu, entah apa, mungkin hanya sesuatu yang bisa ia temukan dalam diri, dalam perjalanan menuju Diri.

Dilihatnya gelas yang terjatuh di depan lemari saat ia minum dengan terburu-buru sebelum pergi. Warna hitam bekas tumpahan kopi yang mengering pun memenuhi lantai.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s